Belajar Akuntansi, Keuangan atau Pajak? Tak harus tegang! Santai saja...


Dan, tak perlu bayar. Jika bermanfaat cukup dishare


S2 Apa Yang Paling Bagus Untuk Akuntansi dan Keuangan?

S2 Apa Yang Paling Bagus Untuk Akuntansi dan Keuangan?

Di wilayah akademis atau sektor publik, predikat sarjana dan pasca sarjana (S2) bisa menentukan karir seseorang sejak di awal. Di lingkungan bisnis?

Tidak terlalu. Jauh lebih penting adalah kemampuan dan attitude dalam bekerja. Banyak penelitian di luar sana yang menyebutkan bahwa pengaruh kecerdasan akademis (academic smartness) terhadap kinerja di lingkungan bisnis tak lebih dari 20 persen. Sedangkan 80 persen sisanya adalah faktor-faktor di luar itu, diantaranya kecerdasan emosional (emotional smartness).

Sehingga di lingkungan bisnis, bisa dibilang, predikat/gelar akademis akan relevan HANYA kalau mampu memberikan nilai tambah bagi output pekerjaan yang dihasilkan—yang sudah pasti diukur dengan parameter-parameter ekonomis oleh perusahaan.

Misalnya:

Ketika masih berpendidikan S1, Budhi seorang chief Accountant, butuh waktu 5 hari—sejak tanggal tutup buku—untuk menyelesaikan Laporan Keuangan perusahaan, dengan tingkat error antara 3-5%. Setelah lulus pasca-sarjana, waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan Laporan Keuangan masih tetap 5 hari dengan tingkat error yang juga tetap 3-5%.

Dalam kondisi seperti ini, Budhi takkan memperoleh promosi jabatan sampai dia mampu meningkatkan kinerjanya, meskipun dia telah menyelesaikan pendidikan pasca-sarjana. Ini contoh pendidikan yang tidak berkontribusi terhadap karir, karena parameter yang digunakan dalam penilaian kinerja bukan predikat pendidikan, melainkan output kinerja.

Hal inilah yang membuat urusan memilih sekolah pasca sarjana—untuk mendongkrak karir di lungkungan bisnis—menjadi tidak mudah.

Pertanyaannya: pendidikan pasca sarjana (S2) apa yang paling sesuai untuk orang akuntansi dan keuangan?

Itu yang dibahas dalam artikel ini (masih lanjutan dari percakapan dengan Senior Admin JAK sebelumnya.)

 

 

Program Pasca Sarjana Apa Yang Paling Sesuai?

Pilihan yang paling lumrah saat ini ada diantara Master Akuntansi (Maksi) dan Megister Manajemen (MM).

MM tergolong pilihan yang paling klasik di Indonesia. Bisa dibilang “Masternya Sejuta Umat”, karena program S2 ini begitu populer dan diambil oleh sebagian besar orang dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Mau praktisi, akademisi, politisi, pejabat, manajer, akuntan, bahkan dokter dan insinyur pun banyak yang bergelar MM, saking populernya.

Untungnya sekarang ada pilihan spesifik untuk S1 jurusan Akuntansi yang ingin melanjutkan study ke Setrata-2 (S2), yakni Master Akuntansi (Maksi) yang ditawarkan oleh hampir semua Fakultas Ekonomi di Indonesia.

Sehingga, Master klasik bagi S1 Akuntansi tidak lagi MM, melainkan sudah mulai digantikan oleh Maksi yang kian populer dikalangan Akuntan Indonesia saat ini.

“Sorry, saya TIDAK merekomendasikan keduanya (MM maupun Maksi) untuk pasca-sarjana orang akuntansi dan keuangan?” sergah senior admin nya JAK.

Untuk MM saya setuju; disamping kurang efektif juga kurang relevan untuk orang akuntansi, karena terlalu ke manajemen. Bagimana dengan Maksi?

“Konten programnya Maksi seperti apa dulu?” beliau bertanya balik. Beliau memang jarang ada di Indonesia, sehingga mungkin kurang mengikuti perkembangan di sini.

Saya ceritakan bahwa Maksi ini tergolong program baru untuk S2 Akuntansi dan menawarkan 2 macam konsentrasi, yaitu: (a) Maksi konsentrasi riset (untuk peneliti dan akademisi); (b) konsentrasi practical (untuk praktisi).

“Untuk konsentrasi riset ya jelas lebih banyak membahas teori dan konsep akuntansi yang kemudian diuji dengan penelitian-penelitian. Lalu konsentrasi practical untuk praktisi nya seperti apa?”

Saya tidak bisa jawab pertanyaan itu karena belum pernah mengambil program Maksi. Admin Unyu ambil Maksi, sayangnya dia tidak online ketika saya ngobrol dengan senior di Skype.

“Kalau practical yang dimaksudkan adalah praktek simulasi proses akuntansi, pelaporan keuangan, pajak dan audit, berarti tidak ada bedanya dengan PPAk. Paling-paling ditambah penelitian dan penyusunan Thesis. Dan itu samasekali tak diperlukan oleh mereka yang sudah bekerja di bidang akuntansi dalam lingkungan bisnis, karena mereka sendiri telah melakukan pekerjaan yang sesungguhnya,” senior memberi pengertian.

Oleh sebab itu beliau tidak merekomendasikan Maksi untuk akuntan yang telah bekerja di lingkungan bisnis (di KAP maupun di perusahaan).

“Kecuali, untuk sekedar punya gelar S2, ya tidak apa-apa,” imbuhnya.

Jika bukan Maksi, lalu program S2 mana yang paling sesuai?

“Untuk praktisi yang sudah berada di management level, saya sarankan program MBA,” katanya.

 

 

Mengapa MBA Paling Bagus Untuk Praktisi di Akuntansi dan Keuangan?

“Dalam program MBA, anda bisa belajar seluk-beluk aspek bisnis—mulai dari operasional hingga finansial—dalam bentuk practical. Bukan sebatas teori, konsep dan uji statistik.” ujar senior admin JAK.

“Tidak ada sesi pengulangan pelajaran dari jenjang S1 seperti yang lumrah terjadi pada program S2 lainnya. Dari awal perkuliahan hingga akhir, fully, yang dibahas adalah bisnis, bisnis, and bisnis, dikemas dalam format yang siap untuk diaplikasikan di lingkungan bisnis sebenarnya,” senior menjelaskan lebih jauh.

Contoh topik bahasannya?

“Macam-macam” jawabnya.

Beberapa contoh topik yang dibeberkan oleh senior admin JAK, diantaranya:

1. Teknik mengidentifikasi dan menganalisa kinerja perusahaan dalam berbagai aspek (operasional dan finanasial), kinerja personel—termasuk di dalamnya mengidentifikasi masalah dan mencari solusi.

2. Teknik-teknik mengoptimalkan sekaligus mengefektifkan sumber daya (uang, manusia, mesin, peralatan, dll) agar menghasilkan tingkat profitabilitas maksimum.

3. Cara mengidentifikasi dan menganalisa risiko—baik risiko bisnis maupun risiko hukum—dalam berbagai level dan skala, termasuk mencegah dan mengatasi risiko yang timbul, dalam lingkungan bisnis.

4. Kiat membangun jaringan dan membina hubungan dengan pelanggan (customer/klien), vendor, institusi keuangan, asosiasi, lembaga pengawas, pemerintah dan pihak-pihak terkait dengan perusahaan—termasuk teknik-teknik bernegosiasi.

5. Teknik mengambil keputusan strategis dengan menggunakan parameter-parameter keuangan dan operasional.

6. Dan masih banyak lagi lainnya, sampai ke urusan ledership dan mentorship.

Sangat menarik, konkretnya seperti apa ya kira-kira?

“Contohnya banyak. Tapi saya aakan sebutkan beberapa saja yang berhubungan dengan akuntansi dan keuangan saja.

Misalnya:

1. Menganalisa kinerja Persediaan – Saat kuliah S1 dan program PPAk anda diajarkan bagaimana caranya menjurnal, menentukan cost flow (FIFO, Weighted Average, dll), melaporkan hingga mengaudit persediaan agar sesuai dengan Standar Akuntansi. Dalam study MBA anda diajari caranya menilai kinerja persediaan (item mana yang fast moving dan mana yang slow moving)—sehingga bisa memutuskan item mana yang selalu harus ada dalam stock, mana yang harus segera diubah menjadi kas (dijual dengan harga discount misalnya) agar working capital tidak terganggu. Termasuk menentukan ambang batas minimal dan maksimal untuk masing-masing item, sehingga tidak membebani keuangan perusahaan.

2. Mengoptimalkan sumber daya berupa Kas – Saat kuliah S1 dan program PPAk anda diajari perlakuan akuntansi kas (menghitung, membuat rekonsiliasi, mengakui, membuat laporan arus kas, hingga melakukan audit) agar sesuai dengan Standar Akuntansi. Dalam program MBA anda diajari bagaimana caranya menjaga agar kas selalu tersedia dalam jumlah cukup namun tidak sampai ‘idle’ alias menganggur. Anda belajar teknik mengakselerasikan proses pengumpulan kas (mengoptimalkan collection sementara menunda cash out ke vendor misalnya), ketika perusahaan terancam kehabisan kas di tengah jalan. Anda belajar teknik memilih rekening bank, lokasi bank, hingga menentukan cara-cara pembayaran (baik cash-in maupun out) sehingga carrying cost dari transaksi kas ada pada level yang paling minimal tanpa menganggu kinerja perusahaan dan tanpa risiko melanggar aturan perbankan. Ini menjadi sangat crucial ketika perusahaan memiliki banyak perusahaan anak/cabang yang berlokasi di kota/negara yang berbeda-beda, karakter operasional berbeda-beda—dengan prosedur/rule perbankan yang berbeda-beda pula.

3. Mengidentifikasi dan menganalisa risiko bisnis terkait Piutang – Di masa kuliah S1 dan PPAk anda belajar perlakuan akuntansi piutang, mulai dari menjurnal, menganalisa umur piutang untuk menentukan tanggal jatu tempo dan bed-debt, membuat cadangan kerugian piutang tak tertagih (bed debt), melaporkannya dalam neraca hingga audit. Di dalam program study MBA anda belajar teknik membuat kebijakan kredit dan piutang yang di satu sisinya minim risiko namun di sisi lainnya tidak mengganggu customers’ relationship, dengan menggunakan customer analysis. Mencari resolusi bad-debt. Menganalisa dan memutuskan antara melakukan penagihan sendiri atau menjual piutang kepada perusahaan anjak piutang (factoring).

4. Mengidentifikasi dan menganalisa risiko bisnis terkait currency – Di masa kuliah S1 dan PPAk anda belajar perlakuan akuntansi internasional, mulai dari translasi mata uang asing hingga laporan konsolidasi dengan mata uang asing dan audit. Dalam program study MBA anda belajar mengidentifikasi dan menentukan jenis mata uang asing yang akan digunakan untuk bertransaksi, mutuskan saat yang paling tepat untuk melakukan konversi, dan melakukan pemagaran risiko (hedging) terhadap keriugian kurs.

5. Dan masih banyak lagi yang lainnya.

Dan semua materi di atas bersifat applicable, dibahas dengan live-case study, dan didiskuasikan layaknya seorang middle-manager dan executive yang sedang bekerja. Bonusnya, mahasiswa diperkenaankan mengangkat real case yang sedang dihadapi di tempat kerja,” beliau menjelaskan panjang lebar.

“Sekarang coba anda bayangkan, apa yang bisa dipetik oleh seorang fresh graduate S1 Akuntansi yang masuk S2 MBA sementara tidak dalam posisi yang sungguh-sungguh sedang menghadapi pekerjaan? Secara konsep dan teori mungkin bisa paham. Tetapi coba bandingkan bila yang belajar adalah seorang manager yang sebentar lagi akan dipromosikan menjadi seorang controller atau treasurer atau CFO? Tentu hasilnya akan sangat berbeda,” terangnya lebih lanjut.

“Itu sebabnya saya merekomendasikan study S2, khususnya MBA, hanya bagi mereka yang sudah berada di management level, bukan fresh graduate. Dalam hal ini bukan soal punya atau tak punya uang, melainkan soal tepat guna,” imbuhnya.

“Yang dipelajari dalam study MBA rata-rata teknik menganalisa masalah, mencari solusi, membangun strategi, membuat keputusan dan kebijakan REAL BUSINESS. Bukan membaca konsep, menghafalkan rumus, ujian, wisuda, menyandang gelar MBA, lalu tiba-tiba jadi boss. NO!” senior admin JAK menegaskan.

Terus terang saya terbengong-bengong melihat contoh-contoh konkret dari aplikasi study MBA di atas. Saya terbengong-bengong karena 2 alasan:

  • Pertama, sangat tertarik untuk belajar ilmu-ilmu seperti itu dan kelihatannya memang akan saya butuhkan, cepat atau lambat.
  • Kedua, saya berpikir; apakah seorang akuntan perlu sampai tahu dan menguasai hal-hal seperti itu?

“Kalau target anda hanya jadi akuntan dan auditor, tentu tidak perlu menguasai hal-hal seperti itu. Cukup ambil program PPAk, Brevet Pajak, lalu ikut ujian CIA/CISA, CPA dan USKP. Samasekali tak perlu mengambil study S2. Untuk apa? Wong cuma untuk mengurus laporan keuangan dan menilai kewajaran laporan keuangan, habis itu ambil gaji, THR dan bonus,” terangnya dalam dialek Jawa medok.

“Tapi kalau target anda adalah posisi partner dan managing partner di KAP, perlu study S2 (mungkin MBA atau setidaknya MM). Karena pada level ini, anda tidak lagi hanya berpikir tentang laporan keuangan klien dan atestasi semata, melainkan berpikir bagaimana caranya agar KAP yang anda urus mampu bersaing dengan tetap menjaga kualitas jasa (kompilasi, audit/atestasi) yang anda serahkan kepada klien, membina hubungan baik dengan klien-klien kelas kakap, memperoleh keuntungan yang bagus—sehingga KAP nya berkembang. Singkatnya anda mulai berpikir tentang bisnis.”

 

 

Berapa Kisaran Biaya Program Pasca Sarjana MBA

Dari contoh topik pembelajaran dan aplikasi konkret yang dijelaskan, rasanya tidak salah jika senior admin JAK lebih merekomendasikan MBA ketimbang Maksi atau MM.

Pertanyaannya: Berapa biaya program study MBA?

“Saya tidak tahu yang di Indonesia, kalau di sini (AS) bervariasi, tergantung jenis dan sekolah bisnisnya,” kata senior.

Katanya, ada 2 macam program study MBA yang lumrah ditawarkan di sana:

  1. Fulltime MBA, untuk non-eksekutif dengan biaya pendidikan berkisar antara USD 80,000 s/d USD 120,000 (setara dengan Rp 750 juta s/d 1.1 milyar)
  2. Executive MBA (EMBA), untuk eksekutif dengan biaya pendidikan berkisar antara USD 130,000 s/d 150,000 (setara dengan Rp 1.2 s/d 1.4 milyar).

“Untuk Executive MBA di sekolah bisnis yang masuk kelompok TOP TEN seperti Kellogg (Northwestern), Chicago’s Booth, MIT’s Sloan, Stanford, Harvard, Columbia, dll, tujuh tahun lalu, sekitar USD 150,000 di luar biaya hidup,” tutur senior admin JAK.

Menurut saya pribadi, itu biaya pendidikan yang luar biasa tinggi. Tidak bisa saya bayangkan, kapan bisa saya jangkau.

“Halah, untuk beli mobil saja berani, mosok untuk pendidikan nggak berani,” senior menyindir.

“Lagi pula ini kan biaya pendidikan di sini, kalau di Asia mungkin jauh lebih murah, meskipun tentu saja mutunya berbeda,” imbuhnya.

“Saya maklum, anda kan akuntan, jadi yang ada dalam pikiran anda hanya COST. Sehingga yang anda tanyakan pertama selalu BERAPA BIAYANYA?” sindirnya lebih lanjut.

Urusan ngeledek dan nyindir, senior JAK yang satu ini memang jagonya. Tetapi saya tahu maksud beliau baik, yakni melecut semangat juang saya. Tetapi kali ini, tebakan beliau tak sepenuhnya benar; menanyakan biaya karena uang memang masih merupakan kendala utama bagi saya.

“Suatu saat nanti, jika sudah MBA, sinyal bawah sadar yang tumbuh dari pola pikir anda tidak lagi COST, melainkan Return of Investment (ROI) beserta risiko-risiko yang menyertai,” sergahnya.

Lalu, bagaimana ROI nya study MBA?

“Lagi-lagi yang saya tahu hanya yang di sini (AS) dan tergolong tinggi. Selisih antara Middle-Management jebolan MBA dari business school ternama dengan non-MBA bisa mencapai USD 100K per annum. Kalau di C-suite (executive maksudnya) sangat sulit diukur, terlalu banyak faktor. Tetapi tahu sendirilah seperti apa reward mereka, biaya pendidikan MBA mungkin hanya pojokan dari net-income nya.”

 

 

Dimana Mengambil Program Study MBA?

Biaya dan ROI program study MBA sudah. Pertanyaan yang belum terjawab: Dimana mengambil program study MBA?

“Untuk full time MBA, Booth Business School (University of Chicago) yang paling bagus saat ini. Bisa di salah satu yang masuk kelompok top ten saja sudah bagus,” katanya sambil memberi sebuah artikel yang isinya peringkat mutu program MBA terbitan The Economist.

Berikut adalah cuplikan dari daftar peringkat mutu program Fulltime MBA dari yang terbaik sampai dengan peringkat ke-15, versi The Economist:

Daftar Peringkat Mutu Fulltime MBA

Daftar Peringkat Mutu Fulltime MBA versi The Economist

Masalahnya, apakah di Indonesia ada? Bagaimana mutu program MBA di Indonesia?

“Kan tidak harus di Indonesia. Kalau mau agak dekat, coba NUS atau Nanyang (Singapore), atau mungkin Melbourne (Australia). Setahu saya di sana juga lumayan bagus,” sarannya.

“Kalau mau di NUS (National University of Singapore), EMBA nya lumayan bagus. Karena, kalau tidak salah, mereka ada kerjasama dengan Kellogg (Northwestern, AS). Coba ditanyakan ke sana,” imbuhnya.

Saya coba telusuri di websitenya The Economist, ternyata EMBA nya NUS (berejasama dengan Northwestern) memang masuk peringkat ketiga per 2013 ini. Berikut adalah daftar peringkat mutu EMBA versi The Economist:

Daftar Peringkat Mutu Program EMBA

Daftar Peringkat Mutu Program EMBA versi The Economist

Akhirnya, ucapan terimakasih khusus untuk Senior Admin JAK yang telah berkenan membagi pandangan dan ilmunya terkait dengan ide melanjutkan study untuk orang akuntansi. Tentunya ini sangat berguna bagi saya dan mudah-mudahan bermanfaat pula bagi pembaca JAK. Goodluck everyone.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Accounting Manager Vs Chief Accountant, Bingung.com

Saya yakin, diantara pembaca ada yang berkeinginan untuk menjadi accounting manager atau chief accountant. Sebuah keinginan yang sangat wajar, tidak

Menghadapi Atasan Yang Kemampuan Teknis Akuntansinya Lemah

Bagi teman-teman yang sudah cukup lama bekerja di bagian akuntansi, besar kemungkinanya pernah mempunyai atasan yang kemampuan teknis akuntansinya lemah—yang

Mana Lebih Baik: Kerja di Kantor Akuntan Publik Kecil atau Besar?

Pertanyaan ini tidak sekedar masuk-akal, tapi sangat penting untuk dijawab, khususnya bagi mereka yang sedang mempertimbangkan untuk bekerja di kantor

19 komentar

Silahkan Berkomentar
  1. Suci
    Suci 24 July, 2013, 01:14

    Sumpah, min. Berguna sekali.
    Ane masih bingung sama desakan Ibu saya untuk melanjutkan PPAK atau S2. Tapi kerja az belum sampai setahun. Masih ngumpulin duit juga gitu. Sementara saya masih ingin belajar banyak tentang sektor2 bisnis (kali az bisa bikin usaha sendiri).
    Syukur ada artikel ini, jadi saya mendapat pencerahan dan sedikit bisa mematahkan argumen Ibu saya, he he he…

    Reply this comment
    • Den Bagus
      Den Bagus 1 November, 2013, 10:34

      Berdasarkan pengalaman saya, PPAK tidak akan berpengaruh apa-apa buat anda. Dari segi Ilmu, PPAK cuma seperti refresh dari pelajaran di S1. Jika ingin menambah kredensial anda, banyak user yang belum tau mengenai PPAK ini (bahkan perusahaan-perusahaan besar lho).

      Mungkin satu-satunya manfaat PPAK adalah ijazahnya merupakan syarat mengkuti ujian CPA Indonesia.

      Reply this comment
  2. Gilang
    Gilang 6 August, 2013, 09:38

    wow very usefull, two thumbs up buat admin.
    keep posting min

    Reply this comment
  3. Vinny
    Vinny 8 August, 2013, 04:52

    Artikel yang benar2 sangat bermanfaat dan membuka lebar mata saya yang masih junior ini di bidang Akuntansi- mahasiswi Akuntansi semester 5.

    Thanks a lot min.

    Reply this comment
  4. Faizal
    Faizal 13 August, 2013, 12:00

    Jadi, kalo buat auditor atau akuntan mending gak ambil s2 aja ya??
    Yah, mentok di s1 deh.. ==”

    Reply this comment
    • takuanara
      takuanara 23 September, 2013, 00:04

      ambil CPA aja juga udah cukup, S2 nya bebas milih, MM atau maksi. biar keliatan ngejreng aja di KAP, g terlalu pengaruh

      Reply this comment
  5. Hidayatway
    Hidayatway 13 August, 2013, 23:58

    Wah baru tau ane gan kalo MBA lebih bagus dari maksi n MM, jadi pola pikir kita bakalan berubah disini, ane baru kerja 2 tahun di KAP dan tertarik buat ambil MBA, tapi di Indonesia kapan yah ada sekolah yang seperti ini?

    buat suci mending ngerasain kerja dulu deh sebelum PPAk, soalnya nanti bisa langsung nyambung sama apa yang diajarkan

    Reply this comment
    • hamba allah
      hamba allah 19 May, 2014, 08:47

      ada kog kuliah MBA di indonesia…
      browse aja german swis university.
      ada di BSD Serpong Tangerang Selatan

      Reply this comment
  6. M.Sasli
    M.Sasli 14 August, 2013, 16:28

    bah!
    Saya seorang Fresh Garduate. Beberapa minggu lagi saya akan berangkat ke jogja, insha Allah mau apply s2 MBA di UGM. Bulan Juni tadi, saya telah di wisuda dari Akuntansi. Dan saya lebih tertarik mendalami ilmu manajemen bisnis dari pada Master Akuntansi. Goals saya, punya usaha/dagangan/perusahaan sendiri, dan jadi seorang business analyst/consultant/planner bagi pemiliki start-up biz (UMKM).
    Nah, yang bikin galau, senior JAK tadi bilang, “Sekarang coba anda bayangkan, apa yang bisa dipetik oleh seorang fresh graduate S1 Akuntansi yang masuk S2 MBA sementara tidak dalam posisi yang sungguh-sungguh sedang menghadapi pekerjaan? Secara konsep dan teori mungkin bisa paham. Tetapi coba bandingkan bila yang belajar adalah seorang manager yang sebentar lagi akan dipromosikan menjadi seorang controller atau treasurer atau CFO? Tentu hasilnya akan sangat berbeda,”.

    Waduh, gimana ini??? apa saya harus bekerja dulu? tapi saya ngga mau jadi karyawan. apa saya harus berbisnis dulu? terus jadi konsultan? tapi saya ngga punya ilmunya.. umur saya baru aja 23thn, PLEASE HELP GIVE ME SOME SUGGESTS.
    please somebody respon komen saya…
    thanks in advance.

    Reply this comment
  7. Budianto
    Budianto 12 September, 2013, 09:09

    Wah. Artikelnya kurang membumi ini.

    Membandingkan MBA dari top school di Amerika (yang bagi orang Amrik sendiri adalah angan-angan) dengan MM dan Maksi Indonesia adalah sesuatu yang absurd.

    Sama saja anda bilang loh kenapa kita harus beli Avanza dan Innova? standard keamanannya buruk, lambat, seharusnya anda membeli Mercedez Benz CL Class, aman, kencang dan bergengsi.

    SEMUA ORANG JUGA TAHU.

    Masalahnya audience anda siapa sih sekarang, blog ini kan untuk akuntan dan financial professional kebanyakan di Indonesia. Bukan untuk investment banker/prop trader di Wall Street.

    Seharusnya anda memberikan informasi yang lebih membumi…ayolah semua orang tahu MBA Amerika pasti lebih bagus dari MM manapun di Indonesia, tapi siapa yang sanggup ke sana ? berapa persen dari pembaca blog ini ?

    Anda menganggap MM dan Maksi inferior, tapi realistis-lah, MM dan Maksi adalah sesuatu bisa dicapai sebagian besar pembaca blog ini. Akan lebih berguna jika anda mengemukakan perbedaan MM dan Maksi, juga perbedaan antara sekolah bisnis di universitas A, B dan C di Indonesia.

    Mungkin perbedaan kurikulum atau metode pengajaran antara MM/MBA di ITB, MM UI, Maksi UI, MM Prasetia Mulya, MM IPMI, MM Binus, MM IPB dan lain sebagainya.

    Itu lebih berguna daripada membahas Kellog, Booth, Darden, Sloan, HBS dsb yang ada di awang-awang…

    Cobalah lebih membumi.

    Reply this comment
  8. Noviratna
    Noviratna 1 October, 2013, 14:40

    terimakasih artikelnya, membuka wawasan dan pola pikir.

    Reply this comment
  9. Brian
    Brian 23 October, 2013, 06:35

    Baru nemu nih artikel….maaf sebelumnya, saya melihat artiekl ini kurang memberikan nilai tambah..,kalo tujuannya hanya sekedar informasi, ok lah…setuju dengan yang disampaikan BUDIANTO di atas, membandingkan sekolah bisnis di Indonesia dengan Amerika sepertinya kurang realistis dan terlalu mengada-ngada…Akan lebih memberikan nilai tambah bila melihat secara lebih mendalam sekolah bisnis di Indonesia, dan lagian sekolah bisnis di Indonesia juga gak jelek kok…FEB UGM misalnya, sudah terakreditasi ACCSB yang terkenal susaaaaaahhh sekali…biasanya orang2 kita kalo mau sekolah ke luar negeri lebih condong ke gengsi…dari sisi kualifikasi akademik, dijamin lulusan sekolah bisnis dari Indonesia gak kalah (dgn catatan, yang dibandingkan lulusan sekolah bisnis sekelas UGM dan UI)…kemampuan analitis dan riset lulusan kita juga bagus kok…sangat keliatan kalo pas di forum-forum diskusi atau seminar…bagi yg fresh graduate, tidak pernah ada kata “sia-sia” kalo kita mau studi lanjut…harus diakui, pendidikan semacam MAKSI atau MM memang sedikit memberikan nilai tambah….sebagian besar kasus bisnis riil terselesaikan melalui cara berpikir yang rasional, sistematis, dan komprehensif, dan itu sedikit yang kita dapatkan dari sekolah bisnis, tapi justru dari “jam terbang”…menurutku, justru jalur reguler semacam M.Si atau M.Sc lebih memberikan nilai tambah dibandingkan MAKSI atau MM…dengan kata lain, sekali lagi menurut padangan saya, kemampuan riset dan analitis lebih memberi “values” dibandingkan kemampuan praktis..

    Reply this comment
    • budi
      budi 22 November, 2013, 07:55

      hmm memang tak ada gading yang tak retak…..ilmu itu tergantung pada kita yang memilikinya dan digunakan untuk apa.

      Reply this comment
  10. riri
    riri 1 November, 2013, 06:06

    terima kasih buat informasinya, sangat bermanfaat..

    Reply this comment
  11. berto sinaga
    berto sinaga 6 November, 2013, 04:38

    bagus sekali artikelnya, sangat membatu saya untuk mengambil keputusan…

    Reply this comment
  12. Rama Aditya
    Rama Aditya 15 November, 2013, 11:21

    informasinya bermanfaat bgt, semakin memberikan arah pencerahan agar saya makin mantap melangkah..
    cocok buat kaum2 seperti saya yang masih fresh graduate..

    Reply this comment
  13. Abdul Malik
    Abdul Malik 30 December, 2013, 05:45

    Satahu saya tergantung kepada bagaimana si empunya mau kerja keras dan belajar terus menerus, sekolah cuma pengakuan, lapangan yang akan mengujinya, apa dia kompeten atau tidak. KIta bisa karena sering baca dan latihan ditambah pengalaman kerja. Wallahu’alam

    Reply this comment
  14. serenade
    serenade 3 January, 2014, 17:59

    seperti membandingkan tempe yang rasanya tidak segurih pizza, tapi dari segi gizi bukan makanan yang buruk. hemm..hemat saya, untuk kaum fresh grad yag belum pernah sama sekali bekerja, BEKERJA-lah terlebih dahulu. Tujuannya bukan uang semata, tapi PENGALAMAN. Walau di perusahaan/organisasi kecil yg simple, tapi percayalah, praktek lebih bermanfaat dari sekedar ber-teori. Setelah bekerja, mungkin bisa sambil mikir mau ambil S2 apa, yang disesuaikan dengan kapasitas pekerjaan kita. Jangan langsung buang uang hanya utk gengsi semata terhadap teman2 Anda sesama fresh grad S1 : “Eh, gw ambil S2 lho langsung setelah lulus S1..”

    -Salam-

    Reply this comment
  15. parlindungan sinaga
    parlindungan sinaga 1 May, 2014, 10:33

    Buat Budianto dan Brian, Admin bukan membandingkan perguruan tinggi yang ada di negara kita dgn negara luar , tetapi lebih membandingkan antara apa yang dipelajari pada Maksi , MM , MBA dan kegunaannya di lapangan ,. Dari judul pembahasan pun sudah jelas bahwa ini akan membahas JURUSAN apa yang bagus untuk para akuntan bukan PERGURUAN TINGGI apa yang bagus ,..
    Spertinya kalian terlalu sensitif dgn perguruan tinggi luar negeri ,..

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*