Belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak, tak harus tegang.


Lebih penting lagi, tak harus bayar. Jika bermanfaat, dishare saja


Peluang Karir Lulusan Akuntansi Di Finance Tergolong Bagus

<b>Peluang Karir Lulusan Akuntansi</b> Di Finance Tergolong Bagus

Bagaimana peluang karir anak akuntansi di perusahaan finance (pembiayaan)? Sangat bagus. Dan chance untuk masukpun tergolong tinggi, bahkan untuk fresh graduate sekalipun. Enak kan ambil jurusan akuntansi :D

Tiga dari lima sepupu saya pribadi, yang kebetulan lulusan akuntansi, masuk ke perusahaan Finance, dan rata-rata karir mereka tergolong bagus; bisa dibilang hidup mereka sudah mapan-mapan di usia yang masih relative muda (di bawah 30 tahunan), bahkan rata-rata mereka sudah punya rumah dan mobil.

 

Apa Itu Perusahaan Finance dan Bagaimana Operasionalnya?

Anak akuntansi tak tahu perusahaan finance? “Ter-la-lu”, kata Bang Haji yang belakangan beken di mainstream media, sebagai kandidat RI-1.

Okelah. Mungkian banyak diantara adik-adik calon akuntan, yang sebentar lagi memasuki dunia karir, belum tahu apa itu perusahaan finance.

Pernah membeli kendaraan (sepeda motor atau mobil) dengan cara mencicil? Atau beli barang gadget/elektronik dengan cara mencicil? Atau mungkin orang tua anda?

Nah, gadget/motor/mobil yang dibeli dengan cara mencicil, dibiayai oleh perusahaan pembiayaan (finance). Dalam artian, pihak perusahaan financenyalah yang membayar secara tunai ke dealernya. Nanti, pembayarannya anda cicil ke perusahaan financenya, bukan ke dealernya.

Khusus adik-adik calon akuntan yang sudah di semester-semester akhir atau sudah lulus, sebenarnya sudah pernah diajarkan dalam “Akuntansi Lanjutan” (advance accounting) mengenai perlakuan akuntansi perusahaan pembiayaan (finance). Kalau saya tidak salah, judul babnya “Bank dan Institusi Keuangan Lainnya.”

Yup. Perusahaan finance memang termasuk ke dalam golongan “institusi keuangan non-bank.” Mengapa?

Karena bisnis utama perusahaan finance memang bergerak di bidang keuangan; mengumpulkan dan mendistribusikan uang dari/ke masayrakat luas, dengan cara menyediakan fasilitas kredit atas pembelian barang tertentu. Hanya saja, mereka tidak menyediakan jasa simpan/pinjam layaknya sebuah bank, oleh sebab itu maka digolongkan ke institusi keuangan non-bank, tepatnya “lembaga pembiayaan”.

Perlu diketahui bahwa, pembiayaan kepemilikan kendaraan dan mobil—yang di dunia keuangan dikenal denga istilah “pembiayaan konsumen” (consumer finance)—hanya sebagian diantara berbagai macam lembaga pembiayaan, yang mungkin paling lekat di benak kita. Pada kenyataannya, masih ada banyak institusi keuangan non-bank lain yang tentunya memiliki market segment yang berbeda, diantaranya:

  • Sewa guna usaha yang lebih dikenal dengan perusahaan “leasing
  • Penyertaan modal yang lebih dikenal dengan “modal ventura” (venture capital)
  • Pedagang surat berharga, perusahaan anjak piutang yang di luar sana disebut dengan “factoring
  • Penerbitan kartu kredit (credit card issuance).

Untuk lebih fokusnya, tulisa ini, saya akan khusus berbicara mengenai karir di perusahaan pembiayaan konsumen (consumer finance) saja—seperti penyedia kredit pembelian elektronik, sepeda motor dan mobil dan lain sebagainya.

 

Bagaimana mekanisme pekerjaan pembiayaan, secara umum?

Mekanismenya kurang lebih seperti ini (saya asumsikan anda berencana akan membeli barang dengan cara mencicil):

1. Fase Pertama – Anda datang ke showroom/outlet (gadget/kendaraan), memilih barang yang ingin dibeli, sekaligus menyampaikan keinginan untuk meminta fasilitas kredit (membayar dengan cara mencicil).

2. Fase Kedua – Anda—sebagai calon pemohon kredit (biasa disebut “calon nasabah”)—diminta untuk mengisi aplikasi permohonan kredit dengan melampirkan copy identitas diri dan persyaratan lainnya (aplikasi dan persyaratan ditentukan oleh perusahaan financenya/bukan dealernya), biasanya di pandu oleh pegawai finance yang memang khusus standby di dealer/outlet. Pada fase ini, anda juga diminta untuk mengisi jumlah nominal uang muka yang akan anda bayarkan didepan (untuk gadget/elektronik mungkin tanpa uang muka). Pegawai finance yang standby di outlet/dealer biasanya “Marketing Officer” (MO) yang bekerja di bawah “Marketing Departement”.

3. Fase Ketiga – Pihak perusahaan finance—yang akan menyediakan fasilitas kredit—melakukan survey dengan cara mengunjungi tempat tinggal/tempat kerja yang tercantum dalam aplikasi kredit. Pegawai finance yang menjalankan tugas ini disebut “Surveyor” yang bekerja di bawah departemen “risiko” (risk department). Pada proses ini seorang surveyor melakukan pengumpulan data, observasi, termasuk wawancara tentunya, untuk nantinya dianalisa apakah anda layak diberi fasilitas kredit atau tidak. Data yang dikumpulkan, diantaranya:

  • Apakah identitas dan alamat sudah benar? Sekaligus biasanya diminta KTP dan kartu keluarga, jika di fase kedua belum dipenuhi (untuk memudahkan proses penagihan jika nantinya permohonan kredit dikabulkan)
  • Apakah tempat tinggal calon nasabah berstatus rumah sendiri atau bukan? (apakah nanti mudah dicari ketika proses penagihan cicilan, sekaligus menilai aset calon nasabah)
  • Jika rumah kontrakan, untuk jangka kontrak berapa lama? Sudah berapa lama tinggal di sana? (untuk mengetahui apakah ada kemungkinan nasabah kabur nantinya bila cicilan tidak lancar).
  • Apakah memiliki rekening listrik/telepon? Jika ada biasanya diminta foto copynya (untuk dinilai apakah konsisten memenuhi kewajibannya membayar listrik/telpon secara tepat waktu atau sering nunggak).
  • Apakah, sebelumnya, sudah pernah memperoleh fasilitas kredit dari institusi finance lainnya? Jika sudah biasanya diminta copy kartu cicilannya (sama seperti tujuan di atas)
  • Apakah memiliki tabungan di bank atau rekening koran? Jika ada biasanya diminta foto copynya (untuk menilai aliran kas/cash flow; apakah selalu bersaldo positive atau sebaliknya).
  • Apakah sudah bekerja? Jika sudah, apakah pegawai tetap/harian? Sudah berapa lama bekerja? Biasanya diminta slip gaji terakhir (untuk mengetahui kemampuan bayar calon nasabah).
  • Siapa yang menjamin? Kalau tidak salah, ini wajib (Si penjamin inilah nantinya yang dimintai pertanggunganjawab jika nasabah mengkir bayar).
  • Bagaimana kondite/perilaku calon nasabah? Data ini biasanya diperoleh dengan cara mencari keterangan di lingkungan dimana calon nasabah tinggal atau di tempa kerjanya (untuk menilai karakter calon nasabah; apaah tergolong orang yang disiplin atau sebaliknya, apakah sering bermasalah atau sebaliknya).

4. Fase Keempat – Anda diminta menunggu konfirmasi dari pihak finance; apakah permohonan kredit anda dikabulkan atau tidak. Pada fase menunggu ini, anda—sebagai pemohon kredit—memang hanya menunggu. Akan tetapi pihak finance terus bekerja. Ini yang jarang diketahui oleh pemohon kredit pada umumnya—sehingga seringkali mereka tidak sabaran, mengejar-ngejar kapan persetujuan keluar. Ini penting untik diketahui:

(a) Apa yang dilakukan pihak finance? Menilai kelayakan anda sebagai pemohon kredit dengan menggunakan data yang dikumpulkan oleh surveyor di fase ketiga.

(b) Apa yang dilakukan untuk menilai kelayan permohonan kredit? Layaknya bagian kredit suatu bank, perusahaan finance juga melakukan “penilaian potensi risiko” atas pemberian kredit kepada nasabah. Proses penilaian risiko ini dikenal dengan istilah “analisa kredit” (credit analysis). Tentunya perusahaan finance memiliki standar tertentu untuk menilai kelayakan sebuah pengajuan kredit. Konkretnya, mereka melakukan hitungan-hitungan terhadap 3 hal (dari data-data yang berhasil dikumpulkan oleh petugas surveyor di fase ketiga di atas), yaitu:

  • Rasio antara uang muka dengan pokok cicilan (menguntungkan pihak finance atau tidak);
  • Rasio kemampuan bayar (membandingkan antara ‘penghasilan calon nasabah dikurangi kebutuhan hidup pokok’ dengan ‘cicilan’); dan
  • Titik impas dan risiko bad debt (menghitung pada cicilan keberapa titik impas tercapai dan berapa besarnya risiko bad debt).

Hitungan-hitungan tersebut ditambah dengan “checklist” tertentu, itulah yang disebut dengan “credit analysis”.

(c) Siapa yang melakukan analisa kredit? Pegawai finance yang melakukan analisa kredit disebut “Credit Analyst”, bekerja di bawah department yang sama dengan surveyor yaitu Risk Department yang dikepalai oleh seorang Risk Manager (Pengelola Risiko).

5. Fase Kelima – Di fase ini pihak finance memberitahukan dealer dan calon nasabah apakah permohonan kreditnya disetujui atau tidak. Jika disetujui, maka barang (gadget/kendaraan) dikirimkan ke anda tentunya dengan surat jalan beserta kelengkapan barangnya. Sebelum barang dikirim, idealnya, pihak finance melakukan pembayaran atas keseluruhan nilai nominal transaksi (harga barang) kepada pihak penjual (dealer/outlet), tetapi bisa jadi dibayar belakangan—tergantung perjanjian kerjasama diantara mereka. Khusus kendaraan (motor/mobil), BPKB biasanya disimpan oleh pihak finance sebagai jaminan (collateral). BPKB baru akan diserahkan ke nasabah—sekaligus proses balik nama—ketika kredit (cicilan) telah lunas. Sehingga bisa dibilang, hak kepemilikan atas barang yang dibeli dengan cara mencicil, sesungguhnya, masih berada di pihak finance hingga cicilan lunas.

6. Fase Keenam – Anda—sah sebagai nasabah finance—mulai melakukan pencicilan (biasanya di tanggal tertentu bulan berikutnya). Normalnya, anda membayar cicilan dengan cara mendatangi kantor financenya, lalu bayar tunai. Jika ada pengaturan yang bagus, khususnya pembelian mobil, mungkin anda membayar cicilan dengan direct transfer ke rekening perusahaan financenya. Bagaimana kalau anda terlambat membayar cicilan? Dikenakan bunga, pasti. Mungkin anda diingatkan melalui telepon untuk membayar, dan bila anda tidak patuh, mungkin anda didatangi dan ditagih langsung oleh pegawai finance. Pegawai finance yang datang melakukan penagihan ke nasabah disebut “Collector”, bekerja di bawah “Risk Departement” bersama-sama dengan Surveyor dan Credit Analyst.

Itulah perusahaan finance dan mekanisme operasionalnya. Bisa dibayangkan? Bisa, pastinya.

Nanti jika anda sudah menjadi akuntan dan berpenghasilan, saran saya, sesekali cobalah membeli dengan cara kredit (mencicil) yang difasilitasi oleh perusahaan pembiayaan, supaya pernah mengalami langsung bagaimana proses kredit berjalan, bagaimana prosedurnya, PADA TATARAN PRAKTIKAL, sehingga teori yang diperoleh di bangku kuliah menjadi applicative—tidak sebatas teori-teori ‘thok’ dan tidak mubazir.

Tentu ada beban bunga yang harus anda tanggung akibat pembelian secara mencicil. Justru, sekaligus, anda jadi tahu bagaimana hitung-hitungan bunga cicilan dalam pelaksanaan yang sesungguhnya dan bagaimana pengaruh bunga terhadap nilai perolehan asset anda. Kalau bisa, yang dicicil diusahakan jangan barang-barang konsumtif, tetapi barang-barang modal yang nantinya akan menghasilkan kas kembali, tentunya. Sebagai orang akuntansi, kita perlu tahu hal-hal seperti itu.

 

Perkembangan Dan Prospek Perusahaan Finance

Sebelum masuk ke posisi apa, berapa gajinya dan bagaimana prospek karir anak akuntansi di Finance, rasanya perlu untuk mempertanyakan: bagaimana perkembangan dan masa depan perusahaan finance, beserta beberapa contoh perusahaan finance.

Perusahaan-perusahaaan atau lembaga-lembaga yang begerak di bidang finance, di Indonesia, bernanung di bawah Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) yang berkantor di Plaza Sentral, Jalan Sudirman, Jakarta.

Dari data yang saya peroleh dari APPI, perkembangan perusahaan finance di Indonesia lumayan bagus—masih tetap naik—di tengah gonjang-ganjingnya ekonomi global yang belum menunjukan tanda-tanda pemulihan. Jumlah perusahaan finance (di bawah APPI) –pun nampaknya terus bertambah. Sampai Agustus 2011 saja, sudah mencapai 195 perusahaan.

Berikut adalah beberapa contoh perusahaan consumer finance di Indonesia (yang besar dan memiliki cabang di hampir seluruh propinsi di Indonesia):

  • ADIRA – Nama lengkapnya PT. Adira Dinamika Multi Finance,Tbk. Established sejak 1990 dan telah menjadi perusahaan terbesar dalam pembiayaan otomotif di Indonesia. Membiaya berbagai macam merek kendaraan.
  • FIF – Nama lengkapnya PT. Federal International Finance. Established sejak 1989 dengan nama PT. Mitrapusaka Artha Finance. Namun seiring perkembangan perusahaan berganti nama menjadi PT. Federal International Finance ( FIF ) hingga saat ini. Khusus membiayai konsumen akhir untuk pembeli produk-produk buatan Astra International, karena memang pada kenyataannya, pemilik mayoritas saham FIF saat ini adalah PT. Astra International, Tbk.
  • WOM – Nama lengkapnya PT. Wahana Ottomitra Multiartha. Established sejak 1982 dengan nama PT. Jakarta Tokyo Leasing. Namun di tahun 1997 berubah nama menjadi PT. Wahana Ometraco Multiartha. Dan terakhir, di tahun 2000, berganti nama lagi menjadi PT. Wahana Ottomitra Multiartha (WOM) hingga saat ini. WOM fokus menyediakan pembiayaan untuk pembelian kendaraan roda dua saja, dalam berbagai merk.
  • BAF – Nama lengkapnya PT. Bussan Auto Finance (BAF). Etablished sejak 1997. Khusus menyediakan pembiayaan untuk pembelian sepeda motor merk Yamaha saja. BAF pernah memperoleh predikat “perusahaan pembiayaan terbaik” sejak 2006 hingga 2008 versi majalah Investor. Dan ditahun 2008-2010 memperoleh penghargaan “Top Brand Award” dari Pefindo untuk kategori pembiayaan motor roda dua.
  • TA Finance – Nama lengkapnya PT. Toyota Astra Financial Services. Perusahaan ini khusus melayani pembiayaan kendaraan merek Toyota, tentu saja, karena perusahaan ini merupakan perusahaan patungan antara PT. Astra International,Tbk dengan Toyota Financial Services Corporation (TFSC) yang merupakan anak dari Toyota Motor Corporation.
  • PT. Summit Oto Finance. Established 1990.
  • PT. Astra Credit Companies (ACC). Established 1982.
  • PT. Oto Multi Artha. Established 1994..
  • PT. Indomobil Finance Indonesia. Established 1993
  • PT. BCA Finance. Established 1981
  • Dan masih banyak lagi yang lainnya. Silahkan dilihat di websitenya APPI.

Prospek ke depannya?

Melihat trend konsumerisme yang rasanya tak mungkin turun di masa-masa yang akan datang, saya yakin perusahaan finance tidak akan ada matinya. Bahkan akan semakin banyak dan berkembang seiring dengan innovasi layanan yang mereka sediakan.

Pertanyaa selanjutnya: bagaimana suasana kerja di perusahaan finance?

 

Bekerja di Perusahaan Finance Mirip Seperti Bekerja Di Bank

Perusahaan finance, BUKAN bank. Dan bank BUKAN finance, tetapi suasana kerjanya mirip dengan suasana di bank, mengapa?

Karena, perusahaan finance di Indonesia (kecuali FIF dan anak-anaknya Astra) rata-rata entah anak perusahaan bank (kepemilikan sahamnya mayoritas dipegang oleh bank) ATAU berafiliasi dengan bank (dibackup dana oleh bank). Akibatnya:

  • Yang duduk di kursi eksekutif rata-rata orang bank (didrop dari bank), setidaknya sampai direktur-direktur bagian.
  • Menggunakan standar kualitas kinerja (operasional dan keuangan) bank.
  • Kebijakan dan standard operating procedure mereka otomatis menggunakan standar bank.
  • Staf yang akan dipromosikan ke jenjang management levelpun, sebagian besar, di gembleng dan dibina oleh bank.

Dan itu lumrah, tidak hanya di Indonesia, sudah menjadi konsekwensi logis. Jika tidak demikian, mana mau bank membackup dana yang begitu besar untuk operasional perusahaan finance. Inilah yang berpengaruh dominan terhadap kultur dan susana kerja diperusahaan finance—yang pada akhirnya menjadi terasa tidak jauh berbeda dengan suasana bekerja di bank.

Gambaran perusahaan finance sudah, mekanisme kerjanya sudah, perkembangan dan prospek perusahaan finance sudah, gambaran suasana kerja di perusahaan finance juga sudah. Selanjutnya… (mungkin ini bagian yang paling penting sekaligus menarik).

 

Posisi Apa? Berapa Gajinya? Bagaimana Jenjang Karirnya?

Seperti perusahaan lainnya, perusahaan financepun memiliki bagian accounting—dengan fungsi dan formasi lengkap, bahkan mungkin lebih lengkap dibandingkan perusahaan-perusahaan lain di luar institusi keuangan.

Sehingga, posisi yang paling pas untuk dilamar di perusahaan finance, tentu saja posisi di bagian bagian accounting:

  • Cash Accountant – Terbuka
  • Accounts Payable – Terbuka
  • Accounts Payable – Terbuka
  • Asset Accountant – Terbuka
  • Tax Accountant – Terbuka
  • Internal Auditor – Terbuka
  • Chief Accountant – Terbuka
  • Controller – Terbuka
  • CFO – Terbuka

Nah tergantung kemampuan dan pengalaman masing-masing. Khusus untuk fresh graduate, tentu cari posisi-posisi yang terbuka untuk entry-level. Cash, A/P, A/R, Asset, Internal Auditor.

Berapa standar gaji di perusahaan finance?” Mungkin ada yang bertanya demikian. Jawaban: sama seperti standar gaji staf accounting di bank, yang jelas lebih besar dibandingkan Teller. Untuk entry-level, ya.. gaji pokoknya berkisar antara 2.5 s/d 5 juta—untuk Jakarta. Sedangkan untuk perusahaan finance yang beroperasi di daerah, sepertinya sedikit di bawah standar Jakarta.

Kabar bagusnya, nah ini yang membuat menjadi menarik dan berprospek bagus, khusus di perusahaan finance, orang accounting bisa melamar di bagian lain di luar accounting, khususnya: RISK DEPARTMENT.

Khusus posisi CREDIT ANALYST, di perusahaan finance, tidak sekedar terbuka tetapi malah DIUTAMAKAN lulusan akuntansi. Bagus kan berjurusan akuntansi :D

Seperti telah saya sampaikan di awal tulisan, 3 dari 5 sepupu saya yang kebetulan berjurusan sama dengan saya (akuntansi), bekerja di perusahaan finance. Sebagai gambaran perlu saya sampaikan sedikit mengenai perjalanan karir adik-adik sepupu saya:

Sepupu pertama, awalnya melamar posisi “CREADIT ANALYST”, di salahsatu lembaga pembiayaan kendaraan (yang ada dalam list di atas). Setelah sekitar 5 tahun di posisi credit analyst, dia dapat promosi untuk memasuki jenjang management. Mendapat kesempatan mengikuti internship khsusus yang dibimbing langsung oleh management bank di mana perusahaannya bernaung. Selesai internship, langsung jadi Risk Manager di usia yang masih 27 tahun. Sekitar 3 tahun jadi Risk Manager, sejak tahun lalu dia dikirim ke daerah (Sumatra) untuk menjadi Kepala Cabang di sana.

Berapa standar gaji seorang Credit Analyst? Tahun pertama masuk (fresh graduate) sudah langsung 4 juta. Setelah menduduki Risk Manager, sudah di atas 20 juta, plus tunjangan tunjangan dari kendaraan, kesehatan, rumah, hingga biaya pernikahan segala. Sekarang jadi Kacab, tidak tahu lagi berapa gajinya, yang jelas bisa beli apartemen, punya dealer sendiri. Nah kurang apalagi? Saya, terusterang, iri sama dia, anyway, nasib orang beda-beda, bukan? Saya juga cukup happy dengan menjadi akuntan.

Sepupu kedua (kakaknya Unyu), masuk di perusahaan finance lain, juga lulusan akuntansi (D3), hanya selisih 2 tahun dengan sepupu pertama. Dia melamar posisi “SURVEYOR” masih di bawah Risk Departement. Sekarang dia memasuki tahun ke 5, sedang menjalani internship di kantor pusatnya. Sebenarnya, menurut sepupu saya, bukan karena D3 sehingga dia hanya bisa masuk jadi surveyor; untuk masuk ke credit analyst, D3 akuntansipun bisa. Hanya saja, yang terbuka saat itu memang hanya posisi surveyor.

Berapa gaji seorang Surveyor? Lebih kecil dibandingkan Credit Analyst. Gaji pokok awalnya Rp 3 jutaan konon. Belakangan sudah di atas 5 juta. Anehnya, mungkin dia yang paling makmur diantara kami. Omong punya omong, ternyata, gaji pokoknya memang kecil tetapi insentifnya yang tinggi, dihitung per konsumen yang tarifnya memang cukup tinggi. Belum lagi, uang lain-lainya. Konon, sudah menjadi rahasia umum di kalangan staf finance bahwa, para surveyor juga mendapat semacam insentif dari dealer/outlet. Saya tidak tahu persis angkanya, yang jelas satu kata saja: MAKMUR, asli. Apalagi nanti kalau posisinya sudah di level manajemen, wahhhh… saya hanya bisa menelan ludah.

Sepupu ketiga, juga masuk ke perusahaan finance, dengan posisi Credit Analyst sejak lulus S1 akuntansi 2 tahun lalu. Sekarang tentu masih dia masih berada di awal-awal karir. Tetapi berkaca dari supupu pertama, rasanya jenjang karirnya tidak akan jauh berbeda. Dan kisaran gajinya, meskipun di finance yang berbeda, ternyata sama seperti sepupu pertama saat di awal-awal karirnya.

Setidaknya dua posisi (credit analyst dan surveyor) itu yang saya ketahui terbuka lebar, di perusahaan finance, untuk lulusan akuntansi.

Lupakan soal gaji, untuk sementara. Yang ingin saya sampaikan di sini bahwa: peluang karir bagus untuk anak akuntansi itu, sangat luas. Tidak hanya jadi auditor di KAP, jadi akuntan di perusahaan, atau jadi pegawai pajak. Kiranya, perlu membuka diri untuk peluang-peluang lain, tentu saja termasuk peluang berkarir di perusahaan finance yang prospeknya juga ternyata tergolong bagus, tak kalah dibandingkan KAP, konsultan pajak dan industri lain.

Menurut para pakar karir, konon, karir itu seperti jodoh. Ada keterlibatan chemistry di dalamnya, cocok-cocokan. Hanya saja, bagaimana bisa tahu ada chemistry atau tidak kalau tidak dicoba berkenalan terlebih dahulu? Saran saya, jika memang ada ketertarikan, dicoba. Setelah itu anda akan tahu apakah ada chemistry atau tidak, apakah berjodoh atau tidak. Mungkin dimulai dengan melihat-lihat daftar perusahaan finance yang ada di websitenya APPI, kunjungi official website masing-masing perusahaan finance, lihat di menu “karir” nya. Selamat mencoba, semoga berhasil. Sekaligus selamat berakhir pekan.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.


Tags assigned to this article:
credit analystfinancekarirKarir Akuntansisurveyor

Related Articles

PricewaterhouseCoopers Diskriminatif Tehadap Auditor Muslim?

Seorang mantan auditor PricewaterhouseCoopers (PwC) mengajukan tuntutan hukum terhadap kantor akuntan publik terbesar tersebut atas tuduhan perlakuan diskriminatif terhadap auditor

Akuntan Yang Tidak Bekerja di KAP adalah Pecundang?

Ini tentang karir akuntan. Ada semacam persepsi umum bahwa: seorang akuntan yang tidak peranh bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP)

Tips Menghadapi Interview Kerja Untuk Posisi Akuntansi-Keuangan

Menghadapi interview kerja pertamakalinya, gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Terlebih-lebih untuk posisi akuntansi-keuangan.  Saya katakan gampang karena sesusungguhnya tidak ada

  1. Willy
    Willy 8 December, 2012, 14:07

    mantab, makin tambah pengetahuan aja, ternyata gitu toh karir di finance,,,,,,,,,

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*