Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.


ttd. Jurnal Akuntansi Keuangan


Peluang Karir Akuntansi dan Keuangan di Luar KAP dan Perusahaan

Peluang Karir Akuntansi dan Keuangan di Luar KAP dan Perusahaan

Mungkinkah orang akuntansi dan keuangan berkarir di luar KAP dan perusahaan tanpa keluar dari disiplin ilmunya? Sangat mungkin, bahkan terbuka lebar. Di tulisan ini JAK akan membahas mengenai kemungkinan orang akuntansi berkarir di luar KAP dan di luar perusahaan. Dimana dan persiapan apa yang diperlukan? 

 

Peluang Karir Akuntansi dan Keuangan itu Luas

Peluang karir untuk anak akuntansi dan keuangan luas, bahkan mungkin tak terbatas, asal mau mencari. Dasar logikanya, setiap organisasi—apapun bentuk dan badan hukumnya—pasti melibatkan unsur-unsur berikut ini untuk menjalankan aktivitasnya:

  • Aset (kas dan non-kas);
  • Utang; dan
  • Piutang

Perusahaan berorientasi profit (manufaktur, dagang, jasa, termasuk KAP di dalamnya), sudah pasti melibatkan unsur-unsur tersebut, sehingga peluang karir di dalam perusahaan dan KAP—seperti sudah kita ketahui—memanglah sangat terbuka bagi orang akuntansi dan keuangan.

Di luar KAP dan perusahaan, dimanapun ada aktivitas yang melibatkan unsur-unsur di atas, dalam volume yang cukup besar, di sana pasti ada peluang bekerja bagi orang akuntansi dan keuangan. Jika fokus ide karir anda, selama ini, masih di seputaran KAP dan perusahaan saja, mungkin sudah waktunya untuk melihat keluar wilayah itu.

Di kesempatan ini, sambil menunggu jelang Tahun Baru 2013, JAK ingin mengajak anda untuk mengeksplorasi berbagai peluang karir akuntansi dan keuangan di luar KAP dan di luar perusahaan, siapa tahu bisa menjadi bahan pertimbangan dalam merencanakan karir di 2013.

Nah, di wilayah mana saja peluang itu terbuka dan persiapan apa saja yang diperlukan untuk memasuki masing-masing wilayah tersebut?

Ada 3 wilayah atau sektor utama, di luar KAP dan perusahaan, yang peluang karirnya terbuka bagi orang akuntansi dan keuangan, yaitu:

  • Sektor Non-Profit (non-profit sector)
  • Sektor Pemerintah (governmental sector)
  • Sektor Pendidikan (educational sector)

Mungkin tidak seluas perusahaan dan KAP, tetapi tetap saja ada peluang untuk berkarir di sana. Kita bahas satu persatu; organisasi macam apa (persisnya) yang ada di masing-masing wilayah itu dan persiapan seperti apa yang diperlukan untuk masuk kesana.

 

Peluang Karir Akuntansi dan Keuangan di Sektor Non-Profit

Masuk dalam sektor non-profit, antara lain:

1. Yayasan (Foundation)

Apakah yayasan memerlukan pegawai akuntansi dan keuangan? Jelas IYA. Bayangkan Bill Gates’s Foundation (untuk internasional) atau Yayasan Ciputra atau Bakrie Foundation (untuk skup nasional) misalnya, berapa perputaran aset mereka? Berapa besaran kas yang digunakan setiap bulannya?

Sangat besar, bahkan mungkin lebih besar dari perusahan menengah. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana mereka melakukan pengelolaan tanpa akuntansi dan keuangan.

Yayasan-yayasan besar seperti itu bahkan mengelola banyak bidang kegiatan (semacam devisi dalam perusahaan berorientasi profit). Tak sedikit yayasan yang harus melaporkan posisi keuangan mereka dalam kondisi teraudit oleh akuntan publik. Di yayasan sebesar itu, susunan pegawai akuntansinya lengkap, layaknya perusahaan besar.

Tentu lebih banyak yayasan yang tergolong kecil dan menengah, namun merekapun tetap memerlukan pegawai akuntansi dan keuangan, sekurang-kurangnya mungkin Bookkeeper, yang pekerjaannya masih harus dievaluasi oleh akuntan dan konsultan pajak di akhir tahun.

Secara keseluruhan bisa saya sampaikan di sini bahwa, peluang karir di yayasan sangat terbuka bagi orang akuntansi dan keuangan. Mereka juga butuh orang khusus yang mampu menangani pembukuan dan pelaporan keuangan.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk berkarir di yayasan?

Yayasan atau foundation, dalam menjalankan aktivitasnya, tak beda jauh dengan perusahaan yang berorientasi laba. Namun ada beberapa hal yang khas, dilihat dari aspek akuntansi, antara lain: pendapatan mereka sebegian besar berupa donasi (sumbangan) yang berasal dari penyandang dana (baik tetap maupun tak tetap), aktiva tetap mereka mungkin sebagian besar diperoleh dari donasi (sumbangan) juga, tidak mengenal istilah modal, tidak mengenal istilah laba (karena mereka tergolong nirlaba).

Sehingga yang perlu dipersiapkan, antara lain:

  • Ketrampilan mengoperasikan komputer, ini basic, sudah pasti harus.
  • Mahir menggunakan aplikasi komputer seperti Excel dan words, juga basic, harus.
  • Mampu mengoperasikan software akuntansi tertentu juga penting.
  • Menguasai teknis akuntansi keuangan secara umum (mulai dari pencatatan hingga pelaporan), harus.
  • Menguasai perlakuan akuntansi khusus yayasan (organisasi non-profit), kuasai PSAK 45 (Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba) akan menjadi nilai tambah.
  • Menguasai teknis perhitungan dan pelaporan pajak, khusus yayasan (organisasi non-profit), juga bisa menjadi nilai tambah.

2. Koperasi

Apakah koperasi memerlukan pegawai akuntansi dan keuangan? Jelas IYA. Namun seperti halnya yayasan, ukuran atau skala koperasipun bermacam-macam, mulai dari skala kecil hingga besar. Yang paling pasti, koperasi—seberapapun skalanya—wajib lapor pajak, artinya minimal ada pembukuan sebagai dasar untuk membuat laporan pajak, meskipun mungkin sederhana.

Aktivitas koperasi yang paling dasar adalah simpan-pinjam, dari-dan-untuk anggota. Dalam skala yang cukup besar, koperasi juga melayani simpan-pinjam bagi publik, terutama pedagang kecil di pasar-pasar atau toko kelontong. Untuk itu, sudah tentu butuh pencatatan dan pelaporan yang akurat dan akuntabel, disamping pengelolaan operasional.

Satu dasawarsa terakhir ini, koperasi tidak lagi sekedar bergerak di bidang simpan-pinjam, Tak sedikit koperasi yang bergerak di bidang perdagangan. Koperasi yang tergolong besar bahkan memiliki jaringan minimarket, gerai, outlet, hingga supermarket dimana-mana.

Saya tidak bisa bayangkan bagaimana mereka beroperasi tanpa akuntansi dan keuangan. Salah satu klien saya adalah koperasi yang cukup besar, mereka bahkan memiliki bagian akuntansi, keuangan dan pajak yang lengkap, layaknya industri, usaha dagang dan jasa. Sehingga saya berani mengatakan bahwa peluang berkarir di koperasi juga sangat terbuka.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk berkarir di Koperasi?

Koperasi orientasinya memang non-profit dan khusus melayani anggotanya, namun aktivitasnya sudah menyerupai perusahaan non-koperasi. Sehingga baik perlakuan akuntansi maupun pajaknya tidak jauh berbeda. Untuk koperasi yang bergerak di bidang perdagangan sama persis seperti usaha dagang (trading dan retailer) pada umumnya yang didalamnya ada pembelian, persediaan, harga pokok penjualan, piutang dan hutang dagang.

Ada kekhasan, yang tentu diatur secara khusus, baik dari sisi akuntansi maupun perpajakan. Salahsatu yang khas dari koperasi adalah pendapatan koperasi, khususnya yang bergerak dalam simpan-pinjam, dimana sebagian besarnya bersumber anggota dalam bentuk simpanan—mulai dari simpanan pokok, wajib hingga sukarela. Keuntungan yang dibagikan tidak disebut dividen, melainkan “sisa hasil usaha” (SHU).

Sehingga yang perlu dipersiapkan sama seperti di yayasan, hanya saja ada beberapa tambahan skill khusus yang harus dikuasai selain hal-hal yang sifatnya basic, antara lain:

  • Perlakuan akuntansi khusus koperasi (kuasai PSAK 27 untuk koperasi umum dan PSAK 104 untuk Koperasi Syariah).
  • Teknis penghitungan dan pelaporan pajak tertentu khusus untuk koperasi yang bisa jadi agak berbeda (baik berupa pengecualian yang meringkan maupun kewajiban tambahan).

3. LSM Dan NGO

Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan Non-Govermental Organization (NGO) ini posisinya agak unik. Saking uniknya, nyaris tidak bisa dibedakan. Tentu saja mereka memiliki kekhasan masing-masing (mohon dikoreksi jika saya keliru), antara lain:

  • Dibandingkan dengan yayasan (pada umumnya), ‘LSM-dan-NGO’ didirikan untuk tujuan yang sangat khusus (dalam cakupan bidang wilayah yang jauh lebih spesifik)—ada yang khusus mengkampanyekan pencegahan HIV misalnya, khusus menangani anak terlantar, mengkampanyekan anti-korupsi, Hak Asasi Manusia (HAM), konservasi dan pelestarian lingkungan hidup (baik yg khusus fauna, flora tertentu, atau wilayah tentu seperti pantai, danau, dlsb).
  • Khusus Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang belakangan ini sangat marak (mungkin ada ribuan di seluruh Indonesia dari daerah sampai pusat), adalah badan yang didirikan untuk mengkampanyekan kepentingan khusus, yang diinisiasi oleh individu, kelompok orang atau organisasi, non pemerintah, baik dari dalam negeri atau luar negeri, dengan bidang konsentrasi bermacam-macam seperti di atas.
  • Non-Govermental Organization (NGO) hampir sama dengan LSM, hanya saja yang menginisiasi dan mendirikan adalah: organisasi, orang atau sekelompok orang PEMERINTAH, yang secara struktural maupun fungsional tidak ada kaitannya dengan pemerintah. Artinya: meskipun dimaksudkan untuk mensukseskan program pemerintah, operasionalnya tidak dibawah pengawasan pemerintah, tidak menggunakan uang negara/pemerintah daerah, hasil kerjanyapun tidak dilaporkan kepada pemerintah, melainkan kepada inisiator. Contoh yang paling banyak adalah NGO-NGO yang dinisiasi dan didirikan oleh badan dunia seperti United Nations (UN), badan kesehatan dunia (WHO), Unicef, Unesco, dan lain sebagainya.

Itu awalnya NGO. Belakangan, dari pengamatan saya (penulis) pribadi, penyebutan “Yayasan”, “LSM” dan “NGO” sudah susah dibedakan. Ada LSM yang menyebut dirinya NGO, atau NGO yang karakternya menyerupai LSM, saya tidak tahu mengapa demikian.

Yang paling penting bagi kita akuntan dan calon akuntan: adakah peluang karir di LSM dan NGO?

Jawabannya: ADA, tidak berbeda dengan yayasan, mereka juga butuh akuntansi dan perpajakan.

Namun ada catatan penting yang perlu diketahui; Khususnya LSM belakangan ini, cenderung bersifat temporal (bersifat sementara), setidaknya jika dibandingkan dengan Yayasan dan NGO. Mengapa? Karena bidang konsentrasi mereka cenderung spesifik yang bisa jadi merupakan kampanye untuk susuatu yang sifatnya temporal. Tentu ada banyak LSM yang bertahan cukup lama.

Apa yang perlu dipersiapkan?

Sama persis seperti bekerja di yayasan. Perlakuan akuntansi yang diterapkanpun sama yaitu: akuntansi untuk entitas nirlaba (non-profit organization), PSAK 45.

Peluang karir akuntansi di sektor non-profit sudah kita bahas, selanjutnya kita eksplorasi peluang akuntansi di sektor pemerintah.

 

Peluang Karir Akuntansi dan Keuangan Sektor Pemerintah

Meskipun tidak ada yang namanya departemen (bagian) akuntansi, kantor dan badan-badan pemerintah pun memerlukan orang-orang khusus yang menguasai bidang akuntansi dan keuangan, seperti layaknya di organisasi swasta.

Khusus Departemen Keuangan—yang entah mengapa sekarang disebut “Kementrian Keuangan (Kemenkeu)”—memang sudah memiliki sekolah dan lembaga pendidikan sendiri, STAN untuk Ditjen Anggaran, Bea Cukai dan Pajak misalnya. Pun demikian, masih membuka pintu bagi Diploma 3 dan Sarjana Akuntansi dari universitas umum.

Di luar Kemenkeu, BPK dan PPATK, peluang bagi orang akuntansi dan keuangan juga terbuka. Hal itu bisa dilihat dari lowongan kerja Pegawai Negeri Sipil (PNS), di berbagai departemen mulai dari pusat hingga daerah (termasuk di pemda propinsi dan kabuten/kabupaten kota), jelas secara eksplisit menyebutkan persayaratan tertentu, yaitu: “lulusan Diploma atau Sarjana Jurusan Akuntansi.” Artinya, kantor dan lembaga pemerintah non-departemen keuanganpun butuh orang-orang khusus yang menguasai bidang akuntansi dan keuangan.

Di luar Kemenkeu, bidikan karir di sektor pemerintah yang paling prestise dan sesuai untuk orang akuntansi adalah di kantor-kantor “inspektorat”.

Mungkin tidak semua adik-adik mahasiswa tahu bahwa setiap depertemen (kementrian) memiliki badan khusus yang disebut “inspektorat” yang bekerja secara independent untuk khusus melakukan pemeriksaan (audit) dan pengawasan di masing-masing lingkungannya.

Audit dan pengawasan, di sektor pemerintah, secara garis besar terbagi menjadi 2, yaitu: audit kinerja dan audit keuangan, yang melibatkan pekerjaan memeriksa, menganalisa, minimal membandingkan antara anggaran dan realisasi anggaran—mulai dari perencanaan, hingga perampuangan suatu proyek. Di badan inilah lulusan akuntansi paling banyak dibutuhkan dan bisa menerapkan ilmunya secara maksimal.

Khusus di daerah, pekerjaan audit dan pengawasan terhadap pemda dan badan-badan usaha daerah (PDAM misalnya) dilakukan oleh suatu badan khusus yang disebut “Badan Pengawas Daerah” (Bawasda). Badan inilah, sejak diberlakukannya otonomi daerah (OTDA), yang melakukan fungsi sebagaimana layaknya kantor inspektorat di pusat. Sehingga, bidikan karir PNS di daerah yang paling bagus untuk orang akuntansi adalah Bawasda.

Dari paparan sederhana di atas, jelas terlihat bahwa peluang karir bagi orang akuntansi dan keuangan di sektor pemerintah juga sangat terbuka.

Apa yang perlu dipersiapkan untuk bekerja di sektor pemerintah (PNS)?

Secara umum, konon (maaf saya belum pernah mengalaminya sendiri), yang diperlukan hanya ijasah (baik D3 maupun Sarjana Jurusan Akuntansi), tak ada yang lain.

Banyaknya “rumor-miring” menganai transfaransi penerimaan PNS (test CPNS), menurut saya pribadi, tidak perlu menjadi kekhawatiran apalagi membuat ragu-ragu. Jangan. Anda orang akuntansi dan keuangan, memiliki hard-core value yang sangat khusus, berfikir rasional adalah salah satu wujud nyata dari value tersebut. Jangan mudah mempercayai hal-hal yang belum tentu kebenarannya. Coba dan buktikan sendiri, itu baru orang akuntansi sejati namanya.

Saran saya, khusus untuk rekan akuntan dan calon akuntan yang ingin berkarir di sektor pemerintah, kuasai akuntansi sektor pemerintah (Govermental Accounting), termasuk mempejari peraturan pemerintah yang khusus mengatur penerapan akuntansi di sektor pemerintah, PP 71 misalnya.

Bagaimanapun juga, setelah bekerja di kantor atau badan pemerintah anda masih membawa nama baik almamater Jurusan Akuntansi. Tunjukan bahwa orang Akuntansi, di lungkungan manapun, selalu menjunjung tinggi kompetensi, akuntabilitas dan profesionalitas. Bikin almamatermu bangga, beri contoh yang baik kepada adik-adik mahasiswa akuntansi, agar mereka semakin semangat belajar akuntansi. Jangan sebaliknya.

Paling buntut, kita eksplorasi kemungkinan karir di sektor pendidikan….

 

Peluang Karir Akuntansi dan Keuangan di Sektor Pendidikan

Akuntansi memiliki bidang profesi khusus kompartemen “Akuntan Pendidik”—khusus untuk akuntan yang mengajar, di sekolah-sekolah dan universitas-universitas, baik negeri maupun swasta.

Kawan akuntan dan calon akuntan yang berminat mengajar (menjadi pendidik), peluang di sektor pendidikan juga tak kalah terbukanya. Melihat perkembangan dunia pendidikan—khususnya swasta—yang begitu pesat belakangan ini, peluang di sektor pendidikan menjadi semakin luas.

Khususnya di universitas (baik Diploma 3 maupun S1), menurut kawan-kawan di edukasi, kebutuhan akan kelas akuntansi meningkat hingga 3-6 kali lipat, selama kurun waktu 5 tahun belakangan ini. Jika dijaman saya kelas akuntansi hanya ada 2 kelas per universitas (itupun tak sampai 40 orang), saat ini sudah sampai 3 kelas pagi dan 3 kelas sore. Belum lagi di swasta dan kursus-kursus, peminat akuntansi tergolong tinggi.

Tak kalah menariknya, menurut infomarmasi kawan akuntan pendidik, gaji guru dan dosen belakangan ini meningkat drastis, khususnya yang berstatus PNS. Menjadi pendidik saja, sebenarnya sudah sangat bagus, mulia, menyebarkan ilmu. Apalagi sekarang gaji guru dan dosen semakin meningkat, tentu menjadi bahan pertimbangan yang sangat menarik. Belum lagi kesempatan memperoleh “tugas belajar“—yang jauh lebih besar peluangnya dibandingkan di luar sektor pendidikan—untuk meningkatkan komepetensi, dengan mengambil program S2 atas biaya instutusi.

Menjadi akuntan pendidik, jika memang memiliki minat mengajar, kenapa tidak? Tak kalah cerah dibandingkan berkarir dalam perusahaan atau Kantor Akuntan Publik (KAP).

Untuk adik-adik pelajar dan mahasiswa akuntansi, saya pikir tidak ada salahnya berpikir sejak dini, sehingga tahu akan kemana setelah lulus nanti. Yang jelas, seperti telah saya sampaikan di awal, mempertimbangkan berkarir di dalam perusahaan atau kantor akuntan publik saja, mungkin kurang cerdas. Semakin banyak melihat peluang, semakin jelas visi dan arah yang bisa dituju ke depannya. Semakin jelas visi ke depan, semakin semangat dan mantap dalam belajar akuntansi. Akhirnya, saya mewakili JAK mengucapkan selamat berakhir pekan sekaligus selamat berlibur panjang jelang tahun Baru. Semoga di 2013 nanti makin cerah, jalan dan kesuksesan semakin terbuka. Aamiin.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Anak Akuntansi, Ada Lowongan Kerja di Bank Indonesia!

Jika saya tidak salah, banyak anak akuntansi yang ingin (tepatnya terobsesi) untuk kerja di bank, meskipun hanya pegawai kontrak. Entah

PricewaterhouseCoopers Diskriminatif Tehadap Auditor Muslim?

Seorang mantan auditor PricewaterhouseCoopers (PwC) mengajukan tuntutan hukum terhadap kantor akuntan publik terbesar tersebut atas tuduhan perlakuan diskriminatif terhadap auditor

Menjadi Orang Akuntansi Keuangan Yang Disegani di Dalam Perusahaan

Apakah bisa membuat bagian akuntansi keuangan disegani? Apakah bisa menjadi orang akuntansi keuangan yang disegani di dalam perusahaan? Jawaban saya:

  1. eddy
    eddy 30 December, 2012, 15:12

    Artikelnya sangat bagus dan dapat memotivasi.

    Reply this comment
  2. zakaria
    zakaria 31 December, 2012, 10:18

    temen-temen saya yang dari akunting ada yang menjadi

    1. Marketing Produk di perusahaan
    2. AO di perbankan
    3. Teller di perbankan
    4. Akunting di Perbankan/Back Office di perbankan.
    5. Dadi Direktur Bank juga ada.
    6. Kepala Operasional di Bank ada juga.
    7. Auditor Internal.
    8. Treasure

    dll

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*