Jurnal Akuntansi Keuangan (JAK), tempat belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak!

Cara Menjurnal Transaksi Persediaan (Inventory)

Cara Menjurnal Transaksi Persediaan (Inventory)

Di tulisan ini saya ingin berbagi mengenai cara menjurnal transaksi persediaan (inventory) mulai dari awal hingga akhir siklus persediaan. Namun sebelum itu, saya rasa ada baiknya jika tinjau kembali: apa sih tujuan utama dari perlakuan akuntansi persediaan?

 

Tujuan Utama Perlakuan Akutansi Persediaan

Ada 2 (dua) tujuan atau lebih tepatnya target utama perlakuan akuntansi persediaan, yaitu:

  • Penyandingan cost-pendapatan (pada Laporan Laba Rugi) yang lebih persis sehingga menghasilkan nilai Laba yang lebih akurat.
  • Penyajian saldo persediaan (pada Neraca) yang lebih akurat sehingga nilai total aset menjadi lebih representative.

Terlepas dari sistim apapun yang digunakan (baik periodik maupun perpetual), laporan keuangan harus terartikulasi secara penuh, dalam artian: masing-masing angka dalam laporan keuangan mesti terhubung, secara mekanik, antara yang satu dengan lainnya.

Untuk mencapai tujuan tersebut, maka setiap kejadian menyangkut persediaan—mulai dari awal hingga akhir siklus apapun jenisnya (bahan baku diterima, bahan baku diolah menjad barang dalam proses, barang jadi masuk ke gudang penyimpanan, persediaan rusak-usang-hilang, persediaan dipindahkan dari gudang satu ke gudang lainnya)—mesti tercatat dengan benar, tanpa ada yang ketinggalan.

 

Jurnal Untuk Persediaan Bahan Baku

Berikut ini adalah jurnal-jurnal untuk mencatat kejadian sehubungan dengan Persediaan Bahan Baku.

1. Bahan Baku Diterima – Ketika bahan baku diterima artinya nilai saldo persediaan bahan baku meningkat. Setelah melakukan pemeriksaan seperlunya (melakukan penghitungan fisik dan membandingkannya dengan PO), bagian Penerimaan (Receiving) membuat jurnal penerimaan bahan baku sbb:

[Debit]. Persediaan – Bahan Baku = xxx
[Kredit]. Utang Dagang = xxx

Catatan: xxx adalah nilai barang diterima sesuai dengan hasil penghitungan fisik, bukan surat jalan. Jika itu pembelian tunai maka akun “Utang Dagang” diganti dengan “Kas”).

2. Bahan Baku Pindah Ke Produksi – Ketika bahan baku keluar dari gudang menuju ke ruang produksi, artinya nilai saldo persediaan bahan baku menurun. Setelah di produksi bahan baku berubah bentuk menjadi “Persediaan Barang Dalam Proses” populer dengan istilah “Work-In-Process” (WIP). Untuk itu anda perlu membuat jurnal sbb:

[Debit]. Persediaan – Barang dalam Proses (WIP) = xxx
[Kredit]. Persediaan – Bahan Baku = xxx

3. Membuat Jurnal Penyesuaian Pada Bahan Baku – Ada kalanya bahan baku mengalami kerusakan, usang atau hilang, dari waktu-ke-waktu. Risiko semacam itu tidak bisa dihndari dalam setiap operasional perusahaan. Merujuk pada prinsip kehati-hatian, perusahaan perlu membuat cadangan, sebagai antisipasi terhadap risiko semacam itu. “Membuat cadangan” dalam hal ini maksudnya, mengakui beban terlebih dahulu—sebelum risiko itu benar-benar terjadi. Berikut adalah jurnal yang perlu anda masukan untuk membuat cadangan:

Cadangan Bahan Baku Rusak/Hilang:

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Cadangan Bahan Baku Rusak/Usang = xxx

Cadangan Bahan Baku Hilang/Tercuri:

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Cadangan Bahan Baku Hilang/Tercuri = xxx

Catatan: Sebagai alternative (lebih saya rekomendasikan), anda bisa membuat satu cadangan saja untuk keduanya, dengan jurnal sbb:

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Cadangan Bahan Baku = xxx

Selanjutnya, ketika kerusakan atau keusangan sungguh-sungguh terjadi, anda tinggal membuat jurnal penyesuaian untuk menghapus cadangan dan mengurangi saldo persediaan, sbb:

[Debit]. Cadangan Bahan Baku Rusak/Usang = xxx
[Kredit]. Persediaan – Bahan Baku = xxx

Dan bila, kehilangan sungguh-sungguh terjadi, cadangan dihapus dan saldo persediaan bahan baku dikurangi dengan jurnal penyesuaian, sbb:

[Debit]. Cadangan Bahan Baku Hilang/Tercuri = xxx
[Kredit]. Persediaan – Bahan Baku = xxx

Catatan: Jika anda menggunakan cara alternative, membuat satu cadangan semua jenis risiko, anda tinggal memasukan jurnal di bawah ini untuk setiap risiko yang sungguh-sungguh terjadi (apapun jenisnya):

[Debit]. Cadangan Bahan Baku = xxx
[Kredit]. Persediaan – Bahan Baku = xxx

Perlu disadari bahwa risiko yang sama bisa terjadi pada persediaan barang dalam proses. Untuk itu, anda juga perlu membuat cadangan untuk masing-masing persediaan tersebut. Caranya, sama saja dengan membuat cadangan pada bahan baku, tinggal ganti nama cadangan sesuai dengan jenis persediaannya. Perlakuan pengahapusan cadanganpun sama saja.

 

Jurnal Untuk Persediaan Barang Jadi

Berikut adalah jurnal-jurnal yang anda perlukan untuk mencatat kejadian-kejadian sehubungan dengan persediaan bahan baku.

1. Persediaan Barang Jadi Diterima – Persediaan barang jadi bisa diterima dari dalam perusahaan itu sendiri (bagian produksi) bila perusahaan manufaktur atau dari luar perusahaan (pemasok/supplier/vendor) bila perusahaan dagang. Darimanapun datangnya, yang jelas persediaan barang jadi diterima membuat nilai saldo persediaan barang jadi meningkat. Untuk itu anda perlu memasukan jurnal sbb:

Jika barang jadi diterima dari dalam perusahaan (bagian produksi), maka jurnalnya:

[Debit]. Persediaan Barang Jadi = xxx
[Kredit]. Persediaan Barang dalam Proses (WIP) = xxx

Jika barang jadi diterima dari pihak luar (pemasok/supplier/vendor), maka jurnalnya adalah sbb:

[Debit]. Persediaan Barang Jadi = xxx
[Kredit]. Utang Dagang = xxx
(Catatan: Bila persediaan dibeli secara tunai, maka sisi kreditnya adalah akun “Kas’)

2. Persediaan Barang Jadi Dikirim (Dikeluarkan) – Ada 2 kemungkinan mengapa persediaan barang jadi dikirimkan atau dikeluarkan dari gudang perusahaan, yaitu: (a) dikirimkan ke pembeli/pelanggan yang artinya dijual; atau (b) dikirimkan ke gudang lain di luar perusahaan—tetapi masih milik perusahaan itu sendiri. Apapun kemungkinannya, yang jelas nilai saldo persediaan barang jadi pastinya menurun. Untuk itu, anda perlu memasukan jurnal untuk mencatat kejadian tersebut.

Jika barang jadi terjual, maka jurnalnya:

[Debit]. Piutang Dagang = xxx
[Kredit]. Penjualan = xxx
(Untuk mengakui penjualan)

Catatan: Jika penjualan dalam negeri, maka anda perlu mengakui utang PPN, sehingga jurnalnya menjadi:

[Debit]. Piutang Dagang = xxx
[Kredit]. Utang PPN = x
[Kredit]. Penjualan = xx

Dan;

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Persediaan Barang Jadi = xxx
(Untuk mengakui penurunan nilai persediaan barang jadi)

Jika persediaan barang jadi dikirimkan ke gudang lain, biasanya tidak dicatat. Tetapi untuk tujuan pengendalian, saya menyarankan agar tetap dicatat, dengan jurnal:

[Debit]. Persediaan Barang – Gudang Tangerang = xxx
[Kredit]. Persediaan Barang – Gudang Jakarta = xxx

Sekilas Mengenai Konsinyasi

Pada kasus KONSINYASI, pengiriman persediaan barang ke toko dimana barang dikonsinyasikan, dari perspektif akuntansi, belum diakui sebagai penjualan, melainkan dianggap sebagai perpindahan barang dari gudang perusahaan ke gudang lain. Saya akan bahas khusus mengenai KONSINYASI di kesempatan lain. [Update: Mengenai Konsinyasi sudah saya bahas dalam berbagai aspek, silahkan baca: Konsinyasi Dilihat Dari Aspek Bisnis, Akuntansi dan Pajak]

3. Penyesuaian Pada Persediaan Barang Jadi – Dibandingkan dengan persediaan bahan baku, risiko kehilangan dan kerusakan persediaan barang jadi lebih tinggi, karena nilainya yang memang lebih tinggi. Oleh sebab itu, cadagangan sebagai antisipasi risiko mutlak diperlukan, yang nilainya tentu harus lebih besar dibandingkan cadangan bahan baku. Berikut adalah jurnal untuk membuat cadangan dan penghapusan (penyesuaiannya):

Untuk membuat cadangan, junalnya:

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Cadangan Persediaan Barang Jadi = xxx

Bila kerusakan atau kehilangan benar-benar terjadi, cadangan dihapus dengan jurnal penyesuaian, sbb:

[Debit]. Cadangan Persediaan Barang Jadi = xxx
[Kredit]. Persediaan Barang Jadi = xxx

 

Jurnal Penyesuaian Penghitungan Fisik Persediaan

Baik menggunakan sistim priodik maupun perpetual, di akhir periode tetap saja perlu dilakukan penghitungan fisik:

(a) Sistim periodik – Anda perlu melakukan penghitungan fisik, di akhir periode, guna menentukan saldo akhir barang jadi yang akan disajikan di Neraca, Apapun hasil dari penghitungan fisik, itulah saldo persediaan yang diakui, sehingga tidak perlu membuat jurnal penyesuaian untuk maksud ini. Pada sistim periodik, hasil penghitungan fisik juga digunakan sebagai dasar dalam menentukan besarnya harga pokok penjualan yang dibebankan, yaitu dengan perhitungan sbb:

[box_dark]Saldo awal persediaan + Persediaan diterima – Saldo akhir persediaan (hasil penghitungan fisik) = Harga Pokok Penjualan (HPP).[/box_dark]

Selanjutnya HPP dibebankan dengan cara memasukan jurnal sbb:

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = xxx
[Kredit]. Persediaan = xxx

(b) Sistim Perpetual – Jika ada yang berpikir bahwa penggunaan sistim perpetual tidak memerlukan penghitungan fisik di akhir periode, itu pandangan yang KELIRU. Yang benar, penghitungan fisik TETAP diperlukan guna MEMASTIKAN apakah saldo akhir persediaan yang nampak di buku sesuai dengan kenyataannya atau tidak. Jika hasil penghitungan fisik ternyata sama persis dengan saldo di buku, maka jurnal penyesuaian tida diperlukan. Tetapi jika tidak sama, maka perlu dibuatkan jurnal penyeseuaian.

Misalnya:

Buku catatan persediaan perpetual menunjukan saldo akhir persediaan sbb:

Bahan Baku = Rp 50,000,000
Barang Dalam Proses = Rp 28,000,000
Barang Jadi = Rp 35,000,000

Sementara hasil penghitungan fisik menujukan data sebagai berikut:

Bahan Baku = Rp 55,000,000
Barang Dalam Proses = Rp 25,000,000
Barang Jadi = Rp 42,000,000

Dari data tersebut jelas ada selisih antara hasil penghitungan fisik dengan saldo yang ditunjukan oleh buku persediaan, sbb:

Perbedaan Bahan Baku = 55,000,000 – 50,000,000 = 5,000,000
Peredaan Barang Dalam Proses = 28,000,000 – 25,000,000 = 3,000,000
Perbedaan Barang Jadi = 42,000,000 – 35,000,000 = 7,000,000

Selisih-selisih tersebut perlu dibuatkan jurnal penyesuaian agar buku catatan persediaan menunjukan angka saldo yang sama dengan hasil penghitungan fisik, dan harga pokok penjualan yang dibebankan juga menjadi sesuai dengan kenyataannya. Berikut adalah jurnal penyesuaian yang diperlukan:

[Debit]. Persediaan – Bahan Baku = Rp 5,000,000
[Debit]. Persediaan – Barang Jadi = Rp 7,000,000
[Kredit]. Persediaan – Barang Dalam Proses = Rp 3,000,000
[Kredit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 9,000,000

(Untuk menaikan saldo persediaan bahan baku dan barang jadi, menurunkan saldo barang dalam proses, sekaligus mengurangi pembebanan Harga Pokok Penjualan yang dibebankan terlalu tinggi Rp 9,000,000 (=5,000,000+7,000,000-3,000,000).

Demikian beberapa jurnal yang diperlukan guna mencatat berbagai transaksi sehubungan dengan persediaan (inventory).   Di tulisan selanjutnya, saya akan bahas mengenai konsinyasi (consignment). Untuk sementara, jika ada yang ingin disampaikan sehubungan dengan cara menjurnal transaksi persediaan, silahkan disampaikan di ruang komentar. Semoga sukses dalam karir.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Cara Menghitung dan Menjurnal Pajak Tangguhan (Bagian Pertama)

Seperti namanya, “Pajak Tangguhan” adalah pajak yang ditangguhkan alias DITUNDA. Bagaimana perlakuan akuntansinya? Bagaimana cara menghitungnya? Bagaimana cara menjurnalnya? Sesuai

Apakah Bank Itu Tuhan?

Kata Mas bro Bob (adminnya JAK), mungkin ini artikel akuntansi paling ‘galau’ yang pernah anda baca, sampai mikir apakah bank

Cara Membuat Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement) Part 1

Apakah membuat laporan arus kas (cash flow statement) tergolong pekerjaan sulit atau mudah? Tergantung. Bagi yang sudah terbiasa tentu mudah.

10 komentar

Silahkan Berkomentar
  1. Donny Iskandarsyah
    Donny Iskandarsyah 21 September, 2012, 02:19

    Selamat pagi, JAK. saya mau tanya, dalam membuat suatu cadangan bagi persediaan barang, baik raw material, WIP, dan Finished Goods,
    1. bagaimana pihak internal mendapatkan nilai cadangan yg pas bagi perusahaannya untuk akun persed tsb? Apakah melalui taksiran rata2 pengalaman sebelumnya atau menentukan suatu batas, misal 10% dari jumlah keseluruhan persediaan sesuai rata2 industri sejenis?

    2. Dalam membuat suatu cadangan bagi persediaan, sudah pasti nanti cadangan tdk terealisasi semuanya dlm tahun berjalan sehingga akan dimasukkan ke dlm lap posisi keuangan akhir periode tahun berjalan sblm ke tahun sebelumnya, apakah cadangan persediaan yg masuk ke lap posisi keuangan tsb sifatnya akan sama dengan cadangan kerugian piutang, yg dmn akan mengurangi akun persediaan untuk mendapatkan akun persediaan bersih? dan akan menambah cadangan persediaan yg akan dibentuk untuk thn berikutnya?

    Terima kasih JAK, sukses selalu.

    Reply this comment
    • Donny Iskandarsyah
      Donny Iskandarsyah 21 September, 2012, 03:08

      Oh ya, pertanyaan nomor dua, kalimat “…ke dlm lap posisi keuangan akhir periode tahun berjalan sblm ke tahun sebelumnya…”, salah tulis, mksdnya “…ke dlm lap posisi keuangan akhir periode tahun berjalan sblm ke tahun berikutnya…”. thx

      Reply this comment
  2. arul
    arul 1 November, 2012, 06:07

    assalamualaikum admin JAK, semoga senantiasa dalam lindunganNYA

    pada kesempatan ini saya ingin menanyakan mengenai pencatatan persediaan periodik dan perpetual . sekedar berbagi pengalaman, di perusahaan tempat saya bekerja terdahulu, pihak manajemen menerapkan metode persediaan perpetual average (Nilai rata” pada saat persediaan tersebut dikeluarkan/dijual) dalam pembukuan persediaannya . setahu saya DJP memperbolehkan wajib pajak menggunakan metode pencatatan persediaan FIFO dan Average . yang menjadi kendala saya pada waktu itu adalah pada saat penyusunan spt tahunan badan dimana program spt tahunan badan menghitung HPP/BPP menggunakan metode periodik (pers. awal + pembelian – pers. akhir).

    perbedaan metode tersebut tentu sangat mengganggu saya, karena perbedaan metode tersebut menghasilkan nilai yang berbeda antara pembukuan akuntansi saya dengan perhitungan spt tahunan badan .

    pertanyaan saya adalah :
    1. nilai HPP/BPP mana yang seharusnya saya laporkan ?
    2. apakah metode pencatatan persediaan di perusahaan saya terdahulu sudah sesuai PSAK dan UU. PPH ?

    Mohon pencerahannya, atas waktunya diucapkan banyak terima kasih..

    Reply this comment
  3. Muhamad Johan
    Muhamad Johan 8 January, 2013, 07:48

    Selamat Sore JAK

    Saya ingin menanyakan seputar persediaan. Berdasarkan data pembukuan kantor saya persediaan Rp.1M(Contoh), tetapi setelah dilakukan stock opname banyak barang yang usang sehingga berpengaruh terhadap nilai jual yang ditaksir turun sekitar 20%. bagaimana perlakuaanya dalam akuntansi? tolong dijelaskan sejelasnya bos.

    Reply this comment
    • Jurnal Akuntansi Keuangan
      Jurnal Akuntansi Keuangan Author 8 January, 2013, 09:33

      Mas @Muhamad Johan, setiap persediaan yg mengalami penurunan nilai (entah karena usang atau rusak), perlu dilakukan revaluasi. Nilai baru yang diakui adalah sebesar harga pasar atau tidak lebih dari Harga Pokok Penjualannya.

      Reply this comment
  4. lilik herawati
    lilik herawati 10 February, 2013, 13:05

    saya mau tanya bagaimana cara menjurnal untuk perusahaan manufactur yang barang bakunya datang tidak sesuai p.o dari pembelian(datang secara parsial),sedngkan bahan itu harus dikeluarkan dari gudang untuk produksi,trim kasih banyak

    Reply this comment
  5. Friska
    Friska 7 May, 2013, 07:20

    Saya mau tanya cara pencatatan persediaan untuk perusahaan yang barang jadinya menggunakan bahan baku dari alam bukan dengan pembelian, misalnya pabrik liquid (gas cair untuk oksigen,nitrogen dan argon) dimana bahan bakunya menggunakan udara ..tetapi nantinya akan mempunyai persediaan akhir . Terimakasih

    Reply this comment
  6. Ftkr Rhmn
    Ftkr Rhmn 7 August, 2013, 17:09

    koq pertanyaanya jarang ada yang dijawab ya?
    padahal saya mau tanya tentang proses penerimaan bahan baku (yang katanya sesuai PO):
    1. Apakah biaya transport memang tidak boleh dimasukkan?
    2. Contoh diatas:
    [Debit]. Persediaan – Bahan Baku = xxx
    [Kredit]. Utang Dagang = xxx
    apakah itu untuk system periode apa perpetual?
    dan bagaimana pula untuk jurnal pembeliannya? misalnya membeli bahan baku secara tunai, berarti jurnal ada 2 macam, jurnal untuk persediaan dan jurnal untuk pembelian?
    thank.s

    Reply this comment
  7. Rasyadhiar Rachman
    Rasyadhiar Rachman 1 November, 2013, 16:06

    Selamat pagi, siang, sore, atau malam, pak JAK.
    saya membuka bisnis kecil, seperti es lilin (contoh). saya berproduksi dan menjualnya dan saya berkerja sendiri, apakah benar jika saya menggunakan sistem persediaan perpetual??

    Reply this comment
  8. bonas
    bonas 4 November, 2013, 16:28

    Dear Suhu
    minta tolong yang punya format laporan keuangan excel dari mulai jurnal BB NL Neraca Laba Rugi dengan perusahaan prosuksi dan dagang share ilmunya. terimakasih

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*