Cara Mudah Menghitung Harga Pokok Penjualan Sekaligus Alurnya
Bagimana caranya menghitung harga pokok penjualan? Pertanyaan ini sering saya gunakan untuk test penerimaan calon pegawai di bagian accounting. Melalui tulisan ini saya ingin share cara mudah menghitung harga pokok penjualan, beserta alurnya, dengan bagan grafis sederhana (agar mudah diingat). Mungkin tidak applicable untuk segala kondisi, tetapi (mudah-mudahan) bisa menjadi awal pemahaman yang tentunya masih perlu dilengkapi dengan panduan-panduan dari buku dan literature.
Siapa Bilang Menghitung Harga Pokok Penjualan Hanya Urusan Cost Accountant?
Kembali ke pertanyaan yang sering saya ajukan dalam test penerimaan staf accounting. Jawaban mereka, bervariasi. Tentu saja ada yang benar dan ada yang salah. Tak sedikit juga jawaban yang membuat saya tersenyum kecut—prihatin persisnya.
Bagaimana tidak prihatin, suatu ketika, seorang kandidat yang melamar posisi cost accountant tidak tahu caranya menghitung harga pokok penjualan—padahal perhitungan harga pokok penjualan adalah fundamentalnya akuntansi biaya (cost accounting).
Yang lebih memperihatinkan lagi, salah seorang kandidat yang melamar posisi chief accountant dengan penuh percaya diri bertanya:
“Apakah perusahaan bapak menerapkan sistim persediaan periodik?”
Saya jawab, ‘Tidak. Kami menerapkan sistim perpetual”
“Oh. Kalau begitu tidak perlu menghitung HPP, pak. Kan sudah dijurnal saat terjadi penjualan,” dia menyampaikan pandangannya.
Betul. Dalam sistim persediaan perpetual, harga pokok penjualan diakui saat barang laku terjual. Tetapi saya tidak terlalu yakin jika dia benar-benar memahami konsep harga pokok penjualan dengan baik. Untuk itu saya meminta dia membuat satu contoh.
“Misalnya, Pak. Terjadi penjualan barang persediaan maka dijurnal:
[Debit]. Piutang Dagang
[Kredit]. Penjualan
Dan;
[Debit]. Harga Pokok Penjualan
[Kredit]. Persediaan Barang Jadi”
Jurnalnya sudah benar. Lalu saya minta dia mengisikan angka di masing-masing jurnalnya. Dan, dia memasukan angka (saya tidak ingat persisnya), tetapi kurang-lebih sbb:
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 20
[Kredit]. Penjualan = Rp 20
Dan;
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 15
[Kredit]. Persediaan Barang Jadi = Rp 15
Saya bertanya lagi, “Mengapa kalau penjualannya Rp 20 trus HPP-nya jadi Rp 15? Apakah boleh jika angka 15 itu saya ganti dengan angka 5 atau 1,000,000 atau angka apa saja yang saya suka?”
Melihat dia cuma diam dan nampak bingung, saya ganti pertanyaanya dengan ekspresi yang lebih tegas, “Saat anda membuat jurnal transkasi penjualan, dari mana anda tahu harga pokok penjualan sebesar angka yang anda masukan dalam jurnal?”
“Biasanya sudah ada di system, pak,” dia menjawab dengan jujur.
Mendapat jawaban seperti itu, lalu saya mendesak dia dengan pertanyaan, “Dan, anda PERCAYA dengan angka yang di sistem itu?”
“Kan sudah dihitung oleh cost accountant, pak. Bukan tanggungjawab saya.”
Dari sana saya mengambil kesimpulan bahwa kandidat tidak sungguh-sungguh memahami teknis perhitungan harga pokok penjualan. Dan dia bukan orang yang tepat untuk berada dalam team saya. Yang mungkin luput dari pertimbangannya adalah: seorang cost accountant berada di bawah tanggungjawabnya—sebagai seorang chief accountant.
Lepas dari itu semua, khususnya chief accountant, harus bisa menjamin akurasi setiap digit angka yang tersaji dalam laporan keuangan—termasuk harga pokok penjualan yang “muncul di system.” Nah, jika darimana datangnya (teknis perhitungannya) saja tidak tahu, bagaimana bisa menjamin angka yang dihasilkan sudah akurat atau belum.
Mengenai angka harga pokok penjualan satuan yang suda ada di sistem (software) akuntansi perusahaan, TIDAK muncul begitu saja, melainkan melalui perhitungan teknis—entah itu dilakukan secara manual (lalu diinput ke sistem) atau melalui proses otomatisasi dengan menggunakan variable-variable data yang dimasukan saat proses produksi berlangsung.
Pada perushaan-perusahaan yang menerapkan “standard costing”, perhitungan harga pokok penjualan biasanya diotomatisasi dengan menggunakan input data yang dimasukan pada saat suatu product (barang) dirancang di bagian Research and Development. Unit cost (harga pokok satuan) suatu produk terdiri dari berbagai element cost (yang sudah distandarisasi) yang kemudian membentuk apa yang disebut dengan ‘Bill of Materials” (BOM). Bagimanapun juga, tetap melalui alur pehitungan yang menggunakan konsep dasar harga pokok penjualan.
Yang ingin saya sampaikan (melalui ilustrasi kasus di atas) adalah:
“Mampu menghitung harga pokok penjualan adalah wajib bagi seorang akuntan—terlepas apakah dia seorang cost accountant atau bukan.”
Bahkan seorang auditor—yang nota benanya lebih banyak menggeluti akuntansi keuangan (dibandingkan akuntantansi biaya/akuntansi manajemen)—pun wajib tahu. Tidak menutup kemungkinan, seorang auditor perlu menguji akurasi angka-angka yang ada di Laporan Laba Rugi yang pastinya mengandung harga pokok penjualan.
Melalui tulisan ini saya ingin share cara mudah menghitung harga pokok penjualan, sekaligus alurnya. Jika tertarik, silahkan ikuti sampai selesai.
Perhitungan Harga Pokok Penjualan Sederhana
Perhitungan Harga Pokok Penjualan yang paling sederhana adalah sbb:
Saldo Awal Persediaan + Pembelian (atau penambahan persediaan) – Saldo Akhir Persediaan = Harga Pokok Penjualan
Perhitungan sederhana itu bisa diterapkan pada jenis perusahaan dagang yang jenis persediaannya hanya berupa barang jadi—yang dibeli dari pemasok. Misalnya:
Data persediaan UD. JAK (pedagang eceran beras) untuk tahun 2012 adalah sbb:
Saldo awal persediaan = Rp 5,000,000
Pembelian beras dari 1 Januari s/d 31 Desember 2012 = Rp 85,000,000
Saldo Akhir Persediaan per 31 Desember 2012 = Rp 3,000,000Harga Pokok Penjualan 2012 = 5,000,000 + 85,000,000 – 3,000,000
Harga Pokok Penjualan 2012 = 87,000,000
Itu perhitungan harga pokok penjualan beras pada perusahan dagang beras. Perhitungan menjadi agak rumit untuk perusahan manufaktur—yang barang persediaannya dibuat sendiri (baik itu sebagian atau keseluruhan).
Bagaimana menghitung harga pokok penjualan perusahaan manufaktur?
Yuk kita pindah ke paragraph berikutnya…
Alur Perhitungan Harga Pokok Penjualan Perusahaan Manufaktur
Menghitung harga pokok penjualan untuk perusahaan manufaktur menjadi sedikit lebih rumit, jika dibandingkan dengan perusahaan dagang, karena adanya “persediaan bahan baku” (raw materials) yang diolah menjadi “persediaan barang dalam proses” (work in process—biasanya disingkat WIP), lalu barang jadi (finished goods—biasa disingkat FG).
Proses pengolahan dari bahan baku menjadi barang dalam proses lalu barang jadi menimbulkan cost-cost lain, diantaranya: “biaya tenaga kerja langsung” (labor cost) dan “overhead produksi” (production overhead).
Secara garis besar alur proses produksi adalah sbb:
Bahan Baku (raw materials) dikeluarkan dari gudang ==> Bahan baku diolah menjadi barang dalam proses (work in process) ==> Barang dalam proses diolah lagi menjadi barang jadi (finished goods).
Nah, perhitungan harga pokok penjualan mengikuti alur produksi di atas. Berikut adalah bagan alur perhitungan yang saya buat sedemikian rupa sehingga menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami:
Penjelasan:
Dari bagan di atas jelas terlihat bahwa, alur penghitungan “Harga Pokok Penjualan” perusahaan manufaktur melalui 4 tahapan, mengikuti alur produksi, yang terdiri dari:
- Tahap-1. Perhitungan “Bahan Baku Yang Digunakan”
- Tahap-2. Perhitungan “Total Biaya Produksi”
- Tahap-3. Perhitungan “Harga Pokok Produksi”
- Tahap-4. Pergitungan “Harga Pokok Penjualan”
Berikut adalah penjelasan lebih rincinya:
Tahap-1. Perhitungan BAHAN BAKU YANG DIGUNAKAN:
Saldo Awal Persediaan Bahan Baku – Yang dimaksud dengan “saldo awal persediaan bahan baku” adalah total nilai persediaan bahan baku di awal periode yang dihitung (awal bulan untuk bulanan dan awal tahun untuk tahunan). Saldo awal periode yang dihitung sama dengan saldo akhir periode sebelumnya yang secara global bisa dilihat di Neraca, sedangkan per jenis bahan baku bisa dilihat di buku persediaan (inventory ledger) dan kartu stock. Cakupan “bahan baku” dalam hal ini termasuk: bahan penolong/pembantu/apapun namanya.
Pembelian Bahan Baku – Yang dimaksud dengan “pembelian bahan baku” dalam hal ini adalah total pembelian bahan baku (termasuk bahan penolong) NETO selama periode yang dihitung. Misalnya: “Perhitungan HPP untuk bulan Juni 2012”, berarti total pembelian bahan baku dari 1 s/d 30 Juni 2012. Jika “Perhitungan HPP untuk Tahun 2012”, berarti total pembelian bahan baku dari 1 Januari s/d 31 Desember 2012. Bisa dilihat di buku besar persediaan. Dan “NETO” dalam hal ini artinya: sudah memperhitungkan pengurangan dan penambahan akibat adanya discount, rabat, dan retur.
Saldo Akhir Persediaan Bahan Baku – Yang dimaksud dengan “saldo akhir persediaan bahan baku” adalah total nilai persediaan bahan baku (yang tersisa) pada akhir periode yang dihitung—setelah dilakukan penghitungan fisik dan penyesuaian-penyesuaian.
Bahan Baku yang Digunakan – Yang dimaksud dengan “bahan baku yang digunakan” dalam hal ini adalah total bahan baku yang diolah (diproduksi) untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Angka ini (Rp 67,000 dalam contoh) diperoleh dengan menggunakan formula perhitungan seperti yang terlihat pada bagan: saldo awal persediaan bahan baku + pembelian bahan baku – saldo akhir persediaan bahan.
Tahap-2. Perhitungan TOTAL BIAYA PRODUKSI
Bahan Baku yang Digunakan – Ini pindahan dari perhitungan tahap-1
Biaya Tenaga Kerja Langsung – Yang dimaksud dengan “biaya tenaga kerja langsung” adalah total upah karyawan/buruh yang pekerjaannya berimplikasi langsung terhadap volume output produk yang dihasilkan. Angkanya bisa dilihat dari daftar pembayaran gaji untuk karyawan yang masuk dalam kelompok “tenaga kerja langsung”. Yang masuk dalam kelompok tenaga kerja langsung adalah pegawai yang dibayar berdasarkan jumlah jam kerja (yang ada rate per jamnya) atau berdasarkan volume pekejaan yang diselesaikan (biasa disebut borongan). Sedangkan pegawai bagian produksi di luar kriteria itu, tidak ikut dihitung.
Overhead Produksi – Overhead ini sering menjadi sumber kebingungan dan simpang-siur. Begini saja, yang dimaksud dengan “overhead produksi” adalah segala biaya yang berhubungan dengan aktivitas produksi SELAIN bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung (lihat bahan penjelasan mengenai bahan baku di tahap-1). Termasuk dalam kelompok ini adalah biaya yang timbul dari aktivitas packaging, pengiriman barang, biaya pemeliharaan mesin dan peralatan, biaya pemeliharaan gedung pabrik dan gudang, penyusutan mesin dan peralatan, penyusutan gedung pabrik dan gudang.
Total Biaya Produksi – Yang dimaksud dengan “total biaya produksi” dalam hal ini adalah semua biaya yang timbul akibat aktivitas produksi yang berlangsung selama periode yang dihitung—termasuk bahan baku yang digunakan (itu sebabnya mengapa “biaya bahan baku yang digunakan” dari perhitungan tahap-1 diikutsertakan) ditambah biaya tenaga kerja langsung dan overhead produksi.
Note: Sampai pada tahap ini, perhitungan telah mencerminkan segala biaya/cost yang timbul dari aktivitas produksi selama periode yang dihitung, TETAPI belum mengikutsertakan penggunaan “persediaan barang dalam proses” yang merupakan SISA (saldo akhir) periode sebelumnya. Itu sebabnya mengapa hasil perhitungan sampai pada tahap-2 ini disebut “Biaya produksi” saja—BELUM disebut Harga Pokok Produksi. Lanjut ke tahap-3…
Tahap-3. Perhitungan HARGA POKOK PRODUKSI
Total Biaya Produksi – Ini pindahan dari perhitungan tahap-2 (baca note di tahap-1)
Saldo Awal Persediaan Barang Dalam Proses – Yang dimaksud dengan “saldo awal persediaan barang dalam proses” adalah total nilai persediaan barang dalam proses di awal periode yang dihitung. Saldo awal periode yang dihitung sama dengan saldo akhir periode sebelumnya yang secara global bisa dilihat di Neraca, sedangkan rincian per item/jenis barang bisa dilihat di buku persediaan (inventory ledger) persediaan barang dalam proses.
Saldo Akhir Persediaan Barang Dalam Proses – Yang dimaksud dengan “saldo akhir persediaan barang dalam proses” adalah total nilai persediaan barang dalam proses (yang tersisa) pada akhir periode yang dihitung—setelah dilakukan penghitungan fisik dan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.
Harga Pokok Produksi – Yang dimaksud denga “harga pokok produksi” adalah segala biaya/cost yang timbul dari aktivitas produksi pada masa yang dihitung (itu sebabnya mengapa total biaya produksi dari hasil perhitungan tahap-2 diikutsertakan) ditambah dengan saldo awal persediaan barang dalam proses, lalu dikurangi saldo akhirnya.
Note: Ketiga tahap (dari tahap-1 s/d tahap-3) ini sudah mewakili semua biaya/cost yang timbul dari aktivitas suatu proses manufaktur (pabrikan). Dengan kata lain, mencerminkan semua biaya/cost yang timbul akibat proses pengolahan dari bahan baku menjadi barang yang siap untuk dijual. Kasarannya, angka ini mewakili nilai persediaan barang jadi yang berhasil dibuat selama periode yang dihitung. TETAPI belum mengikutsertakan penggunaan persediaan barang jadi SISA dari periode sebelumnya. Itu sebabnya mengapa hasil perhitungan sampai tahap-3 ini disebut “Harga Pokok Produksi” saja—BELUM disebut Harga Pokok Penjualan. (Untuk menentukan HARGA POKOK PRODUKSI SATUAN, perhitungan dibuat ditahap ini dengan cara membagi total nilai harga pokok produksi dengan jumlah output produk yang dihasilkan selama periode tersebut, dibuat per jenis/item produk.)
Tahap-4. Pergitungan HARGA POKOK PENJUALAN (HPP)
Harga Pokok Produksi – Ini pindahan dari perhitungan tahap-3 (baca note di tahap-3)
Saldo Awal Persediaan Barang Jadi – Yang dimaksud dengan “saldo awal persediaan barang jadi” adalah total nilai persediaa barang jadi di awal periode yang dihitung. Saldo awal periode yang dihitung sama dengan saldo akhir periode sebelumnya yang secara global bisa dilihat di Neraca, sedangkan rincian per jenis/item barang bisa dilihat di buku persediaan (inventory ledger) barang jadi dan kartu stock.
Barang Tersedia Untuk Dijual – Yang dimaksud dengan “barang tersedia untuk dijual” adalah total nilai persediaan barang jadi—yaitu: barang jadi yang dihasilkan selama periode yang dihitung ditambah dengan saldo awal persediaan barang jadi (alias sisa barang jadi dari periode sebelumnya)—yang tersedia atau siap untuk dijual.
Saldo Akhir Persediaan Barang Jadi – Yang dimaksud dengan “saldo akhir barang jadi” adalah nilai persediaan barang jadi (yang tersisa) di akhir periode yang dihitung—tentunya setelah melalui penghitungan fisik dan rekonsiliasi (antara fisik barang dan catatan), serta adjustments yang diperlukan telah dimasukan.
Harga Pokok Penjualan (HPP) – Inilah hasil (angka) yang diperoleh diujung alur proses—setelah melalui empat tahap penghitungan—untuk menentukan harga pokok penjualan perusahaan manufaktur.
Tentu ini bukan panduan yang komprehensif, tetapi saya berharap ini bisa menjadi panduan awal yang bisa membantu pembaca untuk memahami alur penghitungan harga pokok penjualan (HPP) dengan lebih mudah. Untuk panduan yang lebih komprehensif silahkan baca kembali buku-buku akuntansi manajemen dan akuntansi biaya.









Saya mau tanya pak.
Apakah Retur Beli dan Retur jual juga mempengaruhi HPP?
Dan, Ketika terjadi transaksi retur tersebut, bagaimana jurnal persediaannya.
Maaf sebelumnya pak. Saya bukan orang accounting.
retur beli mempengaruhi HPP. lihat kembali rumus hpp: pers Awal + Pembelian bersih (dalam hal ini pembelian bersih adalah jumlah pembelian dikurangi ‘retur pembelian’ dan biasanya ditambah biaya angkut pembelian) – per Akhir. sedangkan retur Jual harus dilihat lagi detail kasusnya. apakah retur jual adalah pengembalian barang dalam kondisi rusak shg sudah tidak punya nilai jual, atau kembali dalam keadaan utuh dan masih dijual kembali. kalau masih bs dijual, maka itu akan mmpengaruhi persediaan menjadi bertambah dan tentunya mmpengaruhi HPP, sedangkan yang rusak itu bisa dimasukkan ke bagian kerugian dalam penjualan barang dimana biaya kerugian itu bisa di post kan ke biaya2 operasional. semoga bisa mmbantu.
terimakasih Pak. JAK, atas penjelasannya,,,akuntansi jadi lebih mudah dimengerti
Bahasan yang sangat bermanfaat. Terima kasih pak.
Penjelasannya dapat diterima orang awam seperti saya.
Sukses Pak JAK.
terima kasih atas penjelasannya pak,ingatan saya jd pulih lg.hehe
untuk biaya biaya seperti listrik, air, catring dll apakah juga termasuk ke dalam biaya overhead??
harus dilihat dulu apakah biaya listrik itu untuk kepentingan produksi sperti listrik di bagian pabrik/produksi atau listrik untuk kantor administrasi. kalau listriknya adalah listrik dibagian produksi atau pabrik untuk kepentingan proses produksi, maka biaya nya bisa dimasukkan ke dalam unsur produksi yaitu masuk kebagian factory overhead, atau disingkat dengan foh. kalau listrik di bagian kantor administrasi itu hanya masuk ke kategori biaya operasional kantor. yang segrup dengan gaji, sewa, perlengkapan kntor dll. begitu pula dengan biaya lain seperti catring, jika itu merupakan bagian dari proses produksi maka masuk ke foh. bahkan air, jika perusahaannya adalah perusahaan pengolahan air bersih, maka air itu merupakan Direct Materialnya atau bahan baku nya.
Pak, Gimana cara melihat posisi keuangan (Neraca) itu bagus atau ngga? Apakah CAR harus brp % dan lain2? Thanks
Maaf saya agak lupa CAR itu sendiri, bisa tolong dijelasin? Thanks
Pak, mohon info, saya bekerja di perusahaan developer, bagaimana ya menghitung HPP nya.. tyolong ya pak
kakak, makasih ya.
postingan kakak ini sangat membantu.
walaupun awalnya gag terlalu ngerti, tapi seenggaknya saya dpt pencerahan untuk pr Akuntansi saya.
sekali lagi terimakasih banyak kakak^^
semoga selalu sukses^^
Mantap …
Sukses Selalu Kakak
) sangat membantu buat kamii…
pak sy bkrja di perusahaan air minum dlm kemasan,setelah ketemu HPP bagaimana cara menentukan harga per produknya,bukankah setiap bulan HPP selalu berbeda(,yg sudah dketahui adlah volume produk per bulan,serta biaya overheadnya),,,minta rumusnya kalo ada,trims
Dear JAK,
Sy bekerja pada koperasi producer dan exporter biji kopi arabika. Yg ingin sy tanyakan adalah:
1. Jika Bahan Baku yg diperoleh dgn cara hutang kepada kolektor kopi sbyk 2M dan ekspor dilakukan pd akhir th 2010 tetapi kami menerima pembayaran pada awal th 2011.
penulisan pada neraca yg 2M tersebut masuk pada akun hutang pada kolektor atw bagaimana?
Terima kasih
Ùntuk bahan baku yang hutang 2M tersebut dimasukkan dalam kategori hutang usaha dikarenakan membeli dengan cara berhutang. Sedangka untuk penjualannya Sebesar 2M, pada tahun 2010 diakui sebagai piutang usaha dan setelah dilunasi baru dijurnal kas debet dan piutang usaha dikredit.semoga bisa membantu
Prosedur editing harga oleh pihak pembelian sampai akhirnya menentukan HPP itu bagaimana ya?
Bukti hitam di atas putih apa saja yg akan di perlukan jika pihak pembelian melakukan editing harga di suatu komponen yang mana suatu komponen tersebut mungkin di gunakan oleh satu atau lebih barang jadi yang masing-masing hpp nya berbeda-beda??
Terima kasih
makasih untuk penjelasanya,,,
Pak, mau nanya bgm perlakuan bonus barang dagangan dr pemasok, apa masuk ke pembelian/penambah persediaan ato masuk stok akhir persediaannya?
Terima kasih.
Kalau kasusnya seperti itu seharusnya akan mengurangi harga pembelian sehingga akan mengurangi harga pokok penjualannya.. semoga bisa membantu
So good… make easy to learn…
Terima kasih…infonya sangat mencerahkan…lugas dan gamblang. salam
biaya angkut pembeliaan itu menambah jumlah pembelian ya kalu hitung hpp
Biaya angkut pembelian dimasukkan ke dalam pembelian sehingga akan menambah HPP
Pagi pak, saya mau tanya klo u/ menghitung hpp diperusahaan pengembang property yang merangkap konstraktor, terima kasih
Aslm. Wr.WB
Sore Pak,,,Saya bekerja di perusahaan HTI yang saya tanyakan adalah bagaimana caranya menghitung COGS nya ?
Inventory baru di akui biayanya jika terjadi penjualan.
Apakah metodenya sama dengan perusahaan manufactur yang mana saya harus membuat 4 step seperti diatas ?
terima kasih atas ilmu nya, benar-benar membantu ,saya sama sekali tidak mengerti dengan penjelasan dosen saya , setelah dijelaskan disini ,alhamdulillah saya benar benar mengerti akuntansi untuk manufaktur ,sekali lagi terima kasih banyak
Thxs artikelnya sngat menarik.
Saya mau menayakan u/ ksus prusahaan dagang, kbetulan saya bekerja di perusahaan distributor produk computer.
Apakah biaya pmbelian utk kperluan pameran ato promosi msk kedlm proses HPP?
Biaya yang tidak termasuk dalam proses produksi secara otomatis bukan dimasukkan ke dalam HPP. Untuk kasus tersebut, biaya untuk pameran atau promosi, dimasukkan ke dalam beban operasi.
Maaf min, sepertinya penjelasan mengenai COGS statement yang dijelaskan dalam artikel ini agak tidak menjawab percakapan di dalam interview, kenapa HPP nya 15? bukan 5,10 atau 1,000,000?
Di dalam perpetual costing system, memang bisa diketahui berapa HPP per produk yang dijual pada setiap penjualan. Tetapi, apakah dengan menggunakan COGS spt yang dijelaskan di artikel ini akan menjelaskan mengapa HPP nya 15? Tentu tidak. Apakah dengan menggunakan COGS statement ini akan memastikan bahwa HPP di laporan laba rugi sudah akurat? belum tentu. Karena, apabila data2 yang dipakai untuk membuat COGS statement tsb juga diambil dari angka2 di laporan keuangan, sudah pasti, total HPP antara perpetual system dengan COGS statement akan SAMA, sehingga tidak menjawab apakah HPP untuk produk tsb adalah 15 atau tidak.
Banyak hal yang harus dipertimbangkan untuk menjawab pertanyaan, kenapa HPP nya 15 pada jurnal perpetual tsb? Misalnya, biaya apa saja yang termasuk dalam biaya raw material? metode costing apa yang dipakai untuk mencatat biaya raw material? apakah FIFO atau average costing? Bagaimana standard cost pemakaian raw material, labor cost dan overhead untuk setiap finished goods yang diproduksi? Variance antara standard cost dicatat kemana? apakah langsung dicatat ke HPP, atau ada alokasi variance ke HPP dan ending finished goods? dll.
Untuk menjawab pertanyaan2 saya di atas, tentu saja tidak se-simple melakukan COGS statement. Tetapi harus terjun langsung ke inventory dan costing module perusahaan untuk mengerti bagaimana system tersebut menghitung HPP nya,
anyway, nice share.
klo untuk perusahaan yang bergerak sebagai developer perumahan,,apakah harus menggunakan pencatatan perfectual pak??saya bingung membuat laba ruginya pak apakah hpp di akui pada perusaahaan develover,,saya mau buat laporan tahunan berhubung perusahaan tmpt sy kerja blum pkai program.contohny : jika pada tgl 29 des 2012 ada konsumen beli perumahan kita seharga 500 jt dia KPR di bank. pembelian tersebut kn sudah kita anggap sebagai pendapatan/omset perusahaan dalam thn 2012.sementara pembangunan rumah baru 10 %,yang jadi pertanyaan saya apakah biaya material dll yg belum masuk ke dalam pembangunan rumah tsb bisa diakui sebagai biaya walaupun biaya material dan tenaga kerjanya blum di beli??jika bisa apa nama akun yang cocok untuk biaya tersebut??karena biaya untuk pembangunan rumah tersebut baru dibeli tahun 2013.mohon pencerahanny y pk..,.,,,,,,,,,,tks
maaf sebelumnya mas karna basic saya bukan akuntansi.
saya mau tanya.
saya pernah di hadapi sebuah pertanyaan dari bos saya.
begini kira-kira kasusnya.
di beli barang A dengan harga 1.000 sebanyak 10 buah.
berarti HPP = 10.000
kemudian terjadi penjualan sebanyak 5 buah dengan harga jual 1.200
berarti hasil penjualan = 6.000
berarti ada 5 barang yang belum laku.
pertanyaanya adalah apakah laba perusahaan 6.000 – 10.000 = – 4.000
atau (5*1.200)-(5*1.000) = 1.000
mohon penjelasannya mas.
Malam Pak,,
saya mau tnya,,
saya sedang meneliti laporan keuangan di suatu perusahaan swasta.
perusahaan mengurangkan biaya angkut untuk menghitung HPP.
kira2 apakah alasan perusahaan mengurangkan biaya angkut untuk menghitung hpp?
sebelumnya saya ucapkan terimakasih.
pak saya mau bertanya. bagaiman komponen harga pokok penjualan perusahaan manufaktur apabila dalam menentukan harga pokok produksinya saya menggunakan metode full costing?
terima kasih
Selamat Pagi Pak,
Apakah dalam bentuk laporan rugi laba dengan metode pencatatan inventory FIFO perpetual harus menampilkan :
Harga Pokok Penjualan :
Persediaan Awal + Persediaan Akhir – Saldo Akhir Barang Dagang.
Sementara realisasi pada saat transaksi penjualan terjadi jurnal.
Example:
Dr. Kas / Piutang Rp. 2000
Cr. Penjualan Rp. 2000
Dr. HPP Rp. 1000
Cr. Persediaan Rp. 1000
—————————————————————————————————————-
Asumsi saya dari transaksi tersebut pada laporan L/R hanya dimunculkan HPP nya saja senilai Rp. 1000 dari penjualan Rp. 2000. apakah benar pak, mohon pencerahannya.
Maaf, Revisi.
Maksudnya apakah dalam Laporan L/R harus menampilkan
Harga Pokok Penjualan : Persediaan Awal + Pembelian Barang – Persediaan Akhir.
Sementara perusahaan menggunakan metode pencatatan persediaan FIFO Perpetual yang pengendaliannya menggunakan juga kartu persediaan.
saya mau tanya pencatatan untuk Finish Good tapi tanpa mengakui WIP ini bagaimana yha?
contohnya perusahaan batako.
yang selama ini dilakukan adalah
Dr. Finish good (dicatat sebesar bahan baku yang dipakai)
Cr. Bahan baku
sementara ketika penjualan batako dicatat
Dr. Kas
Cr. Finish Good ( sebesar HPP )
yang jadi masalah adalah pada saat mencatat finish good yang masuk hanya di akui sebesar bahan baku yang digunakan (padahal masih ada biaya2 lain seperti BOP dan Labor)
dan ketika dijual Finish good keluar seharga HPP sehinggah saat inventory Finish good selalu Minus (-)
Mohon masukannya
thanks
Ass.wrwb.Kalau misalnya ada pertanyaan seperti ini Pak:
Berapakah harga jual rok jika diketahui:
total harga bahan pembuatan rok 50.000, ongkos jahit 20.000, biaya penyusutan alat 5%, biaya finishing&lain-lain 10%, profit yang diinginkan 20%.
Sebelumnya terima kasih banyak Pak……