Jurnal Akuntansi Keuangan (JAK), tempat belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak!

Contoh Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Contoh Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca)

Untuk yang sudah lama tidak update, seperti saya, harap diketahui bahwa laporan keuangan yang dalam PSAK lama disebut “Neraca”, sekarang namanya berubah menjadi “Laporan Posisi Keuangan”. *Mikir: jangan-jangan cuma saya neh yang tidak update? Hahaha. Pertanyaannya: Apakah format Laporan Posisi Keuangan (baru) berbeda jika dibandingkan dengan format Neraca (lama)? Lewat tulisan ini saya ingin share contoh format laporan posisi keuangan alias Neraca. Seperti judul tulisan ini, saya akan tampilkan contoh formatnya—dari yang paling ringkas sampai yang sepanjang gerbong kereta api.

Saya yakin sebagian besar pembaca, termasuk anda, pasti sudah pernah melihat format Neraca (yang sekarang disebut ‘Laporan Posisi Keuangan’). Yang kerap meragukan adalah bentuknya yang bervariasi—ada yang sangat ringkas nan pendek, ada juga yang begitu detail mencantumkan akun-demi-akun sehingga mirip rangkaian gerbong kereta api Argo Bromo Surabaya – Jakarta. Ada yang beralur horizontal (ke samping), ada juga yang alurnya vertical (menurun), mengikuti panjang halaman kertas.

[quote]Dengan tulisan ini, saya berharap pembaca mendapat gambaran yang jelas (kalau bisa pasti) mengenai format Neraca (Laporan Posisi Keuangan). SEKALIGUS bisa melihat AKUN APA masuk ke kelompok APA.[/quote]

Standar Akuntansi manapun (termasuk PSAK yang baru) TIDAK pernah menyatakan suatu format Neraca tertentu sebagai standar yang harus digunakan oleh semua akuntan dalam menyusun laporan keuangan. Pun demikian, ada hal-hal penting yang ditekankan dalam PSAK, sehubungan dengan penyajian laporan keuangan, yang akan saya ikut sertakan juga (dalam tulisan ini).

Tetapi sebelum itu, ada hal penting yang tak kalah pentingnya untuk diketahui, sehubungan dengan neraca, yaitu: kelemahan informasi keuangan yang diperoleh dari sebuah Neraca (maaf, saya masih sering menggunakan kata Neraca.)

 

Kelemahan Neraca (Di Masa Lalu) Sebagai Penyaji Laporan Posisi Keuangan

Sebenarnya, sudah sejak lama, nama lainnya “Neraca” (Balance Sheet) adalah “Laporan Posisi Keuangan”, tetapi entah mengapa publik (termasuk pengatur standar) lebih suka menggunakan istilah “Neraca”. Bisa jadi karena lebih mudah disebutkan (singkat) dan tidak membingungkan ketika bersandingan dengan istilah “Laporan Keuangan”—yang terdiri dari: Neraca, Laporan Laba/Rugi, Laporan Perubahan Modal, dan Laporan Arus Kas.

Nah, apa kelemahan Neraca sebagai penyaji laporan posisi keuangan? Kelemahannya yang paling mencolok adalah: tidak mewakili nilai aset dan liabilitas yang sesungguhnya, pada saat dilaporkan.

Mengapa demikian? Karena nilai aset (aktiva) dan liabilitas (kewajiban) yang digunakan dalam Neraca (di masa lalu) menggunakan pendekatan cost histories (historical cost approach).

Dengan kata lain, di masa lalu, nilai yang dicantumkan dalam Neraca adalah nilai aset dan liabilitas pada saat transaksi terjadi, sedangkan pelaporan baru dilakukan di akhir tahun. Nah, selama kurun waktu antara transaksi dan pelaporan, jika terjadi kenaikan atau penurunan nilai pasar, TIDAK diperhitungkan. Terutama aset tidak lancar, termasuk Goodwil dan aset tak berwujud lainnya.

Misalnya:

Di tahun tahun 2010, PT. JAK membeli bangunan tempat usaha seharga Rp 2 milyar, lalu disusutkan selama 15 tahun dengan menggunakan metode garis lurus, tanpa nilai sisa (no residual value). Di Neraca PT. JAK per 2012, maka nilai buku bangunan tersebut menjadi (perhitungan saya sederhanakan):

= Nilai Perolehan – Akumulasi penyusutan
= Rp 2 milyar – [2 x (Rp 2 milyar/15)
= Rp 2 milyar – [2 x Rp 133,333,333)
= Rp 2 milyar – 266,666,667
= Rp 1,733.333,333

Nilai Rp 1,733.333,333 itulah yang terlihat di Neraca sebagai nilai aset bangunan, meskipun pada kenyataannya harga bangunan naik (Note: ada kecenderungan harga bangunan selalu naik). Itu artinya, nilai aset bangunan yg di Neraca lebih rendah dari kenyataannya.

Sebaliknya, aset mesin, peralatan dan kendaraan, pada kenyataannya cenderung menurun lebih cepat jika dibandingkan dengan penyusutan yang dibebankan tiap periodenya—sehingga nilai aset jenis ini, pada Neraca cenderung lebih besar dibandingkan kenyataannya (bila dijual misalnya).

Kenyataan-kenyataan itu membuat investor (baik yang sudah berstatus pemegang saham maupun calon pembeli saham) merasa bahwa:

[quote]Neraca (di masa lalu) belum menyajikan posisi keuangan (nilai aset, liabilitas dan ekuitas pemilik) yang sesuai dengan kondisi sebenarnya.[/quote]

Regulator (IASB untuk IFRS dan FASB untuk GAAP) merespon keluhan tersebut dengan membuat perombakan standar akuntansi yang nantinya bisa membuat Neraca mampu menyajikan laporan posisi keuangan yang lebih representative. Bersama dengan perlakuan-perlakuan akuntansi yg lain (selain aset dan liabilitas), IASB mengeluarkan IFRS (yang sekarang telah diimplementasikan sepenuhnya dalam PSAK yang baru).

Perubahan standar akuntansi yang paling mencolok, sehubungan dengan hal ini, adalah: penentuan nilai aset—terutama aset tak lancar (aktiva tetap) termasuk goodwill dan aset tak berwujud lainnya. Jika dahulu menggunakan “nilai perolehan” (historical cost) (seperti kasus aset bangunan di atas), kini IFRS telah menggunakan “nilai wajar” (Fair value) (nilai wajar) sebagai acuan.

Penerapan nilai wajar (fair value), oleh IFRS, diwujudkan dengan cara: mewajibkan perusahaan (terutama yang berstatus publik) untuk melakukan revaluasi berkala terhadap aset tak lancar mereka. Hasil revaluasi bisa jadi lebih kecil atau lebih besar jika dibandingkan dengan nilai buku di Neraca:

  • Jika hasil revaluasi (nilai terpulihkan/recoverable amount) lebih kecil dari nilai buku (carrying amount), maka dibuatkan jurnal koreksi “rugi revaluasi.”
  • Jika sebaliknya, dibuatkan jurnal koteksi “Laba revaluasi’.

Note: Khusus Goodwill, menggunakan impairment (penurunan nilai) sebagai pendekatan untuk menentukan nilai wajar.

Dengan penggunaan nilai wajar (fair value), diharapkan nilai aset tak lancar perusahaan yang tersaji di Neraca menjadi lebih representative. HANYA SAJA, masih banyak wilayah lain (selain aset tak lancar) yang belum mewakili nilai yang sebenarnya. Misalnya: Nilai persediaan.

Oke ada banyak metode penentuan nilai persediaan yang diijinkan (kecuali LIFO), yang sedikit-banyaknya bisa membuat nilai inflasi tercover. Tetapi sampai saat ini belum boleh mengakui nilai persediaan sesuai dengan harga pasar—tetap menggunakan historical cost (cost yang timbul saat barang dibuat). Kecuali untuk barang kembali—entah itu karena cacat (ringan, sedang, berat) atau karena tak laku dijual, melalui IAS 17 telah ditentukan agar barang yang kembali direvaluasi.

Pada dasarnya, IFRS mencoba untuk membuat semua elemen aset dan liabilitas menggunakan nilai wajar (fair value). Tetapi pada prakteknya, khususnya untuk instrument-instrumen investasi dan derivative bank, masih menjadi pro-dan-kontra. Sehingga meskipun sudah ditetapkan, kalangan bank masih enggan mengikuti standar yang baru (IFRS).

Pertanyaan selanjutnya: Sampai kapan kelemahan Neraca (Laporan Posisi Keuangan) ini bisa diperbaiki?

Entahlah, sampai saat ini belum bisa diperbaiki sepenuhnya. Semoga saja suatu saat nanti ditemukan pendekatan yang lebih pas (dan bisa diterima oleh semua pihak).

Kita lanjut ke Penyajian “Laporan Posisi Keuangan”…

 

Penyajian Laporan Posisi Keuangan Sesuai PSAK Baru (Konvergen IFRS)

Seperti sudah saya singgung di awal tulisan, tidak ada ketentuan pasti mengenai “Format Laporan Posisi Keuangan (Neraca)” di dalam standar Akuntansi manapun. Bukan hanya di PSAK atau IFRS yang berlaku di Indonesia, di US-GAAP yang direformasipun tidak ada.

Yang ada adalah beberapa ketentuan dasar—yang (mungkin) diharapkan bisa menjamin isi Neraca menjadi tidak bias atau menyesatkan pembacanya, logis dan mudah dipahami. Sedangkan format pastinya, diserahkan ke perusahaan, sepanjang ketentuan-ketentuan dasar tersebut dipatuhi.

Apa saja ketentuan-ketentuan dasar penyajian Laporan Posisi Keuangan sesuai PSAK baru?

Berikut adalah kutipan beberapa bagian PSAK 1 yang penting-penting saja (untuk detailnya silahkan baca PSAK).

Dalam sebuah Laporan Keuangan (dan Penjelelasan Rinci-nya), perusahaan diminta untuk menyajikan informasi ini secara jelas (paragraph 49):

  • Nama entitas pembuat laporan keuangan atau identitas lain, dan setiap perubahan informasi dari akhir periode laporan sebelumnya;
  • Apakah merupakan laporan keuangan satu entitas atau suatu kelompok entitas;
  • Tanggal akhir periode pelaporan atau periode yang dicakup oleh laporan keuangan atau catatan atas laporan keuangan;
  • Mata uang pelaporan sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 52; dan
  • Pembulatan yang digunakan dalam penyajian jumlah dalam laporan keuangan

Mengenai pos-pos (akun-akun) yang disajikan dalam Laporan Posisi Keuangan (Neraca), paragraph 52 menyebutkan agar “minimal mencakup penyajian jumlah pos-pos berikut” (jika ada):

  • Aset tetap;
  • Properti investasi;
  • Aset tidak berwujud;
  • Aset keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan pada (e), (h) dan (i));
  • Investasi dengan menggunakan metode ekuitas;
  • Aset biolojik;
  • Persediaan;
  • Piutang dagang dan piutang lainnya;
  • Kas dan setara kas;
  • Total aset yang diklasifikasikan sebagai aset yang dimiliki untuk dijual dan aset yang termasuk dalam kelompok lepasan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58;
  • Utang dagang dan terutang lainnya;
  • Kewajiban diestimasi;
  • Liabilitas keuangan (tidak termasuk jumlah yang disajikan dalam (k) dan (l));
  • Liabilitas dan aset untuk pajak kini sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46;
  • Liabilitas dan aset pajak tangguhan, sebagaimana didefinisikan dalam PSAK 46;
  • Liabilitas yang termasuk dalam kelompok yang dilepaskan yang diklasifikasikan sebagai yang dimiliki untuk dijual sesuai dengan PSAK 58;
  • Kepentingan non-pengendali, disajikan sebagai bagian dari ekuitas; dan
  • Modal saham dan cadangan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk.

Pos-pos tambahan, judul dan subtotal dalam laporan posisi keuangan BOLEH DISAJIKAN, jika penyajian tersebut relevan untuk pemahaman posisi keuangan perusahaan.

Pengklasifikasian “aset lancar dan tidak lancar” dan “liabilitas jangka pendek dan jangka panjang” juga DIBOLEHKAN, akan tetapi “Pajak Tangguhan” TIDAK BOLEH diklasifikasikan sebagai “aset lancar” atau “liabilitas jangka pendek”.

Lebih jauh mengenai “Aset Lancar dan Tak lancar” dan “Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang”, PSAK 1 paragraph 64 dan 67 memberikan panduan khusus sebagai berikut:

1. Aset Lancar dan Tak Lancar – Perusahaan mengklasifikasikan aset sebagai aset lancar, jika:

  • Entitas mengharapkan akan merealisasikan aset, atau bermaksud untuk menjual atau menggunakannya, dalam siklus operasi normal;
  • Entitas memiliki aset untuk tujuan diperdagangkan;
  • Entitas mengharapkan akan merealisasi aset dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan; atau
  • Kas atau setara kas (seperti yang dinyatakan dalam PSAK 2: Laporan Arus Kas) kecuali aset tersebut dibatasi pertukarannya atau penggunaannya untuk menyelesaikan laibilitas sekurang-kurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Note: Aset yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai “Aset Tidak Lancar

2. Liabilitas Jangka Pendek dan Jangka Panjang – Suatu liabilitas diklasifikasikan sebagai laibilitas jangka pendek jika:

  • Entitas mengharapkan akan menyelesaikan liabilitas tersebut dalam siklus operasi normalnya;
  • Entitas memiliki liabilitas  tersebut untuk tujuan diperdagangkan;
  • Liabilitas tersebut jatuh tempo untuk diselesaikan dalam jangka waktu 12 bulan setelah periode pelaporan; atau
  • Entitas tidak memiliki hak tanpa syarat untuk menunda penyelesaian liabilitas selama sekurangkurangnya 12 bulan setelah periode pelaporan.

Note: Liabilitas yang TIDAK masuk kategori di atas diklasifikasikan sebagai “Liabilitas Jangka Panjang”.

Itu saja point-point yang yang penting. Sekalilagi, untul lebih jelasnya silahkan baca PSAK 1.

 

Contoh Format “Laporan Posisi Keuangan” alias “Neraca”

Bisa dikatakan bahwa, tidak ada format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) standar yang dikeluarkan oleh badan pengatur standar akuntansi manapaun. Adapun format yang selama ini lumrah dipakai, baik oleh perusahaan yang sudah berstatus publik maupun yang belum, adalah tradisi, kebiasaan yang lama-lama menjadi semacam kesepakatan tak tertulis antara para pembuat dan pengguna laporan keuangan.

Penyajian yang paling lumrah digunakan adalah format bersaldo seimbang (seperti yang saya gunakan dalam contoh dibawah). Dalam format ini, masing-masing elemen (aset, liabilitas dan ekuitas pemegang saham) disertai jumlah saldo saat pelaporan, di tempatkan di satu halaman, sehingga pembaca laporan posisi keungan bisa melihat bahwa: aset = liabilitas + ekuitas pemegang saham.

Wujud atau bentuk Laporan Posisi Keuangan (Neraca) itu sendiri, ada 2 macam yang lumrah digunakan, yaitu:

  • Bentuk yang menyerupai T-Account: Kelompok “Aset” diletakkan di sisi kiri, sementara kelompok “Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham” di sisi kanan laporan.
  • Bentuk yang menyerupai Ledger (Buku Besar): Kelompok “Aset” diletakan di bagian atas laporan, diikuti oleh kelompok “Liabilitas dan Ekuitas Pemegang Saham” di bawahnya.

Dalam contoh berikut ini, saya hanya menggunakan bentuk yang kedua, dalam dua versi: ringkas dan detail.

Ini adalah contoh format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) yang ringkas:

Contoh Format Neraca Yang Ringkas

Dan, ini adalah contoh format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) yang agak detail:

Format Neraca Lengkap

Karena keterbatasan ruang, penjelasan dari masing-masing akun dalam format Laporan Posisi Keuangan (Neraca) ini akan saya bahas di tulisan berikutnya. Untuk sementara saya ucapkan selamat berlibur bagi yang libur, dan selamat beraktivitas untuk yang tidak libur.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Cara Membuat Rekonsiliasi Bank: Selangkah Demi Selangkah

Di tulisan ini saya akan tunjukan cara membuat rekonsiliasi bank selangkah demi selangkah, disertai dengan contoh kasus dan contoh format

Bagaimana Mencatat Pengeluaran Sebelum Perusahaan Beroperasi?

Ini sudah menjadi persoalan jamak bagi teman-teman di accounting yang kebetulan menangani perusahaan-perusahaan yang menjelang atau baru akan beroperasi: bingung

Observasi Dalam Perencanaan Audit (Audit Planning)

Observasi, dalam perencanaan audit (audit planning), penting dan strategis sifatnya. Bagus atau tidaknya perencanaan audit yang dihasilkan oleh seorang auditor,

14 komentar

Silahkan Berkomentar
  1. Donny Iskaandarsyah
    Donny Iskaandarsyah 17 May, 2012, 10:23

    Selamat sore, admin JAK, sip dah, ada pencerahan dan pemahaman terhadap elemen2 Lap Posisi Keuangan (Neraca). Ada beberapa pertanyaan, nh min:

    -Untuk aset tetap yg direvaluasi agar menunjukkan nilai wajar aset tetap saat itu, berarti pake impairment of assets bisa donk, ya, walopun esensinya sama, karena di buku yg saya baca, pengaruh impairment tidak hanya utk aset tak berwujud, tapi juga aset tetap, yg nntnya carrying amount di-compare dg recoverable amount, lalu dilihat, mana yg lbh tinggi, apakah yg value-in use atau fair value less cost to sell, dimana jika nilai value-in use lebih tinggi daripada carrying amount-nya maka tidak ada impairment. kalau sebaliknya jd:
    (D) Loss on impairment
    (K) accum depr-fixed asset
    menurut pendapat admin gmn?

    -untuk pengklasifikasian aset ke dalam klasifikasi aset lain2, berarti apakah bangunan yg sdg dikonstruksi (bangunan yg belum jadi, lagi dibangun) dg menggunakan metode percentage-of-completion bisa dimasukkan ke dlm klasifikasi aset lain2? misal alasannya krn bangunan belum bisa dioperasionalkan krn,misal thn 2012 masih 35%, menurut pendapat admin?

    -untuk masalah persediaan barang yang tidak laku dijual, maka dg IAS 17 brg tsb direvaluasi, barang yg tidak laku dijual ini apakah maksudnya barang yg dititipkan ke reseller atw agen (brg konsinyasi) trs dibalikin krn ga laku atau barang yg ga laku tp yg ada di gdang perush?

    -untuk barang yg cacat, lalu dikembalikan, trs direvaluasi, jika perusahaan misal memperbaiki brg cacat tsb yg pastinya akan mengeluarkan cost lagi, trs dijual lg, apakah nilai brg yg cacat td dicatat sebesar nilai wajar brg yg telah direvaluasi+cost untuk perbaikan? kalau iya, berarti nambah cost pd lap laba/rugi, terus kl seandainya dijual sebagai scrap, apaah masuk kedalam penjualan operasional atau other comprehensif income pd lap laba/rugi?

    Oh, ya, ada tambahan ni min, kl di IFRS, untuk Non-Controlling Interest (dulunya bernama hak minoritas) sudah bukan lagi elemen bagian ekuitas, tp tetep ditulis sebagai bagian ekuitas, krn NCI sendiri sejatinya bukan ‘urusan’/milik perush induk, tp kl di GAAP masih.

    thx min, mohon pencerahannya, sukses selalu buat admin JAK. :D

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 17 May, 2012, 14:40

      Mas Donny:

      [-]. Aset Tak Lancar di impaired vs di revaluasi: Pada pelaksananaanya sebenarnya nggak jauh2 beda. Namun menilik kata ‘impairment’ arti harfiahnya koq cenderung ke ‘penurunan nilai’ ya, dalam pengertian: aset yg diimpaired, recoverable valuenya belum apa-apa sudah dianggap lbh rendah dibandingkan carrying amount. Jujur saja saya belum pernah mendengar istilah impairment gain/profit, yang lebih sering saya temukan adalah impairment loss. Jika ada imparment gain, rasanya jadi lucu ya, impaired koq gain. Yg namanya impaired mestinya kan turun nilai. Kalaupun ada nilai naik kemudian disebut “recovery”? Iya tho? Sementara itu, jika menggunakan revaluasi, khusus untuk aset tak-lancar non-goodwill, saya pikir akan jauh lebih masuk akal. Karena hasil revaluasi bisa jadi gain atau loss. Ini lebih mewakili karakter aset tak lancar yg nilainya bs jadi turun atau naik. Ini pendapat saya pribadi lho ya.

      [-]. Gedung yang sedang dibangun: Karena masih dalam proses, untuk sementara masuknya ke “Investasi Jangka Panjang” tepatnya diakun “Property investasi”.

      [-]. Inventory: yang boleh direvaluasi adalah persediaan yang sudah sempat keluar dari gudang perusahaan. Yg masih dlm gudang perusahaan tdk boleh menggunakan harga pasar. Jika sampai boleh, berarti tidak perlu ada akuntansi biaya (toh direvaluasi menggunakan harga pasar bukan?)

      [-]. Barang kembali krn cacat: yup ditambah cost tambahan untuk revisi, otomatis nilai persediaan naik lagi pasca revisi.

      [-]. Barang scrap: selama ini saya masukan ke laba/rugi operasi (bukan laba/rugi komprehensif), ga tahu persis itu benar atau salah :D hehe

      NCI-nya yap. Padahal sudah saya sesuaikan ke IFRS, tp masih ada saja yang lolos (mungkin karena terlalu lama didikte oleh GAAP) haha.

      Reply this comment
      • Donny Iskaandarsyah
        Donny Iskaandarsyah 17 May, 2012, 15:00

        sip,min, sekalian td bc di twitter mengenai impair dg revaluasi. kl impairment gain, dh pst ga da,yg ada recovery of impairment loss. namun jika saya pikir2 lagi, apa mungkin penggunaan kata impairment dan revaluasi itu mengarah kpd tujuannya. Maksudnya seperti ini,

        Impairment dilakukan tidak melulu setiap sau periode akuntansi, namun jka tiba2 ada penurunan atau recovery, hrs segera diakui.

        Sedangkan jika revaluasi lebih ke arah penyajian lap keuangan, khususnya lap posisi keuangan (neraca), soalnya kn setiap satu periode akuntansi, aset tetap hrs direvaluasi utk menunjukkan nilai pasar yg sesungguhya,jika naik berarti gain. ini yg bisa saya tangkap dr materi JAK ni di atas:

        “Penerapan nilai wajar (fair value), oleh IFRS, diwujudkan dengan cara: mewajibkan perusahaan (terutama yang berstatus publik) untuk melakukan revaluasi berkala terhadap aset tak lancar mereka”

        kalau dari kata “revaluasi berkala”, berarti bisa dinalarkan dilaukan secara teratur menilainya, utk mewujudkan prinsip akuntansi utk lapkeu yg neutrality, bebas bias, dan faithfull representation atw jujur sesuai dg ap adanya.

        Nah,kalau impairment itu kn (mungkin menurut saya), bisa terjadi kapan saja, tergantung keaktifan nilai pasar atw penilaian independen appraisal. Jadi, mnrt saya perush hrs peka terhadap isu dan keaktifan pasar :D Ini baru pendapat saya.

        -Jika misal, (dalam waktu yg pas, secara kebetulan), kondisi saat direvaluasi berbarengan dg kondisi impairment, kalau dr admin sendiri, admin menganggapnya sbg revaluasi atw impairment? :D cuma tanya aja. sukses buat admin JAK

        Reply this comment
  2. natha
    natha 22 August, 2012, 17:49

    terima kasih .
    saya dapt belajar banyak di sini .
    semoga kedepannya lebih bermanfaat yaa

    Reply this comment
  3. aini
    aini 11 December, 2012, 02:21

    Dear JAK,

    Saat ini saya sedang belajar akuntansi, dan bisa dibilang saya sangat awam karena merupakan hal baru buat saya. Selama ini lingkup kerja saya hanya di bagian sales administrasi. Modal saya untuk belajar akuntansi karena secara real saya mengetahui arus uang dan barang. Saya lebih mudah belajar akuntansi apabila ada contoh soal dan jawabannya yang berupa uraian. Bisakah saya di email contoh lengkap dari laporan laba rugi, perubahan modal sampai dengan neraca, tapi masih dalam contoh soal ( satu perusahaan yang sama ) Atas support dan perhatiannya, terima kasih.

    Brgds
    Aini

    Reply this comment
  4. ayudiah
    ayudiah 8 March, 2013, 03:04

    maaf sebelumnya, saya mau nanya lagi, apakah laporan posisi keuangan yang saat ini sudah menggunakan ifrs masih ada kekurangannya?
    terima kasih

    Reply this comment
  5. salam
    salam 10 March, 2013, 12:08

    Maaf saya pengen nanya,
    Apa sih perbedaan laporan keungan sebelum dan sesudah IFRS??

    Reply this comment
  6. anginutara
    anginutara 21 March, 2013, 15:23

    mas,, izin copy paste print ya untuk tugas saya.. terima kasih blog anda sangan membantu saya.. semoga semakin ramai pengunjungnya.. :) :)

    Reply this comment
  7. lina
    lina 2 May, 2013, 02:29

    Dear JAK,
    Saya ingin bertanya apakah organisasi perhimpunan non profit juga perlu mencantumkan neraca SPAK untuk laporan SPT tahunan?
    Apa saja ya yang termasuk ke dalam aktiva dan pasiva. Apabila perhimpunan kami tidak memiliki pemasukan dan pengeluaran yg pasti?
    Mohon bantuannya
    Terima kasih

    Reply this comment
  8. Acep Efendi
    Acep Efendi 29 August, 2013, 02:14

    Kirimin Blangko,ny Donk..

    Reply this comment
  9. Intan
    Intan 22 November, 2013, 16:08

    Dear JAK,

    Ini kan terakhir di post tahun 2012, bagaimana review anda ttg update terbaru utk Laporan Posisi Keuangan. (Ini sudah November 2013).
    Apakah namanya sekarang? apakah ada perubahan lagi didalam strukturnya?

    Terima kasih sebelumnya..

    Reply this comment
  10. Junior AK
    Junior AK 25 November, 2013, 13:33

    Pak, bagaimana cara mudah menyusun laporan keuangan konsolidasi?? mohon bimbingannya,
    terimakasih

    Reply this comment
  11. dhella
    dhella 18 December, 2013, 07:51

    Terimakasih dengan adanya ini saya bisa belajar lebih dalam lagi tetntang akuntansi.. semoga bermanfaat kedepannya sukses selalu

    Reply this comment
  12. rifka
    rifka 11 March, 2014, 10:14

    Mr jak.
    Giman ya biar bisa akuntansi pajak dengan mudah…
    Kini dah smester 6 tp msh gak paham pajak itu apa..
    Apa gara2 dosenya yang ngajar apa gara2 saya yang dulunya dari IPA.

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*