Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.


ttd. Jurnal Akuntansi Keuangan


Akuntansi Pendapatan: Beberapa Macam Metode Pengakuan Pendapatan

Akuntansi Pendapatan: Beberapa Macam Metode Pengakuan Pendapatan

Perbedaan metode pengakuan pendapatan bisa membuat perusahaan menjadi nampak lebih profitable atau tidak, nampak sehat atau sakit-sakitan. Lucu dan ajaibnya, bisa membuat team manajemen dapat bonus besar atau kecil. Hahaha… Maksud saya, metode pengakuan pendapatan yang diterapkan oleh suatu perusahaan sangat penting untuk dicermati dan dipelajari tentunya. Sebagai orang akuntansi, ya kudu tahu seluk-beluknya, minimal hal-hal yang sifatnya mendasar seperti macam-macam metode pangakuan pendapatan. Oke. Tulisan ini bagian dari seri pengenalan akuntansi pendapatan. Di tulisan sebelumnya sudah dibahas mengenai ketentuan dasar pengakuan pendapatan. Ditulisan ini saya akan perkenalkan beberapa macam metode pengakuan pendapatan yang lumrah diterapkan dalam berbagai jenis usaha dan kasus-kasus tertentu.

Karena ini berupa pengenalan, maka tidak akan disertai contoh kasus. Saya hanya akan menyampaikan hal-hal mendasar yang perlu diketahui, sekedar untuk kenal saja. Sedangkan contoh penerapan dalam kasus akan di bahas metode-per-metode, secara bertahap, agar lebih lengkap dan bisa diterapkan dalam pekerjaan yang sesungguhnya.

 

Pengkuan Pendapatan Dengan Metode Akrual (Accrual Method)

Pengakuan pendapatan dengan pendekatan akrual termasuk yang paling mendasar, sehingga paling banyak diterapkan (di berbagai jenis usaha dalam berbagai skala).

Pada dasanya metode akrual menggunakan pendekatan yang sama persis seperti yang sudah disampaikan di tulisan sebelumnya, yaitu “Ketentuan Dasar Pengakuan Pendapatan”, KECUALI ketentuan IAS 18 yang ke-2 (recognition at time of payment)—yang cenderung mengarah ke cash-basis. Sehingga, sepanjang ketentuan-ketentuan dasar tersebut telah terpenuhi, maka suatu pendapatan sudah boleh diakui.

Hal yang tak kalah penting untuk diketahui, sehubungan dengan penerapan metode ini adalah, adanya beban dan biaya yang harus diakui untuk disandingkan dengan pendapatan yang dihasilkan dalam periode yang sama—meskipun invoice tagihannya belum datang dari supplier/vendor.

Catatan: Jangan dibingungkan oleh pengakrualan biaya—yang menyerupai fungsi pencadangan. Dalam pendapatan tidak ada istilah pencadangan.

 

Pengakuan Pendapatan Dengan Metode Kas (Cash Method)

Sederhananya, dengan menggunakan metode kas artinya perusahaan hanya mengakui pendapatan bila kas (atas penyerahan barang/jasa) sudah diterima. Ini metode paling tua yang sudah ada sejak sebelum Prinsip Akuntansi Berterima Umum (GAAP) ada. Dan oleh GAAP (di Indonesia PSAK), pengakuan pendapatan dengan metode kas tidak diijinkan. Itu di masa lalu.

Saat ini, standar akuntansi kita telah mengikuti IFRS. IAS 18, “Revenue” pada ketentuan kedua menyebutkan bahwa: pendapatan belum boleh diakui sampai dengan memperoleh kepastian mengenai kas yang akan diterima—meskipun barang telah diserahkan. Sepertinya, ketentuan ini mengarahkan agar pengakuan pendapatan kembali ke metode kas. Namun sampai saat ini JAK belum memperoleh informasi yang cukup apakah memang demikian maksudnya. Jika iya, tentu ini akan menjadi kontra terhadap ketentuan pengakuan pedapatan versi GAAP di waktu-waktu yang lalu—yang menekankan pentingnya metode akrual. (Note: lebih lengkap mengenai ketentuan dasar pengakuan pendapatan di tulisan sebelumnya).

Catatan: Pada perusahaan-perusahaan retail, dimana kas diterima selalu pada saat penyerahan barang, apakah menggunakan metode kas atau metode akrual menjadi tidak begitu berpengaruh. Perbedaan akan sangat berpengauh ketika kedua metode tersebut diterapkan di perusahaan-perusahaan yang menjual barang dengan sistim kredit.

 

Pengakuan Pendapatan Metode Pencicilan Penjualan (Installment Sales Method)

Metode pencicilan diterapkan untuk pengakuan pendapatan yang diperoleh dari penjualan yang sistim pembayarannya dicicil—yang dalam ketentuan IFRS dikatakan mengandung tingkat ketidakpastian (uncertainties) yang tinggi.

Misalnya: Tanggal 20 Mei 2012, PT. JAK mengirimkan stock pakaian sisa ekspor senilai Rp 2 milyar kepada Toko Gaul, sebuah factory outlet di daerah Kemang. Atas penyerahan tersebut, Toko Gaul (pembeli) akan melakukan pencicilan pembayaran secara bertahap selama 4 tahun.

Lamanya tenggang waktu pembayaran yang akan diterima dari Toko Gaul membuat tingkat ketidakpastian pembayaran menjadi tinggi.

Jika PT. JAK mengikuti ketentuan IFRS, maka PT. JAK TIDAK BOLEH mengakui pendapatan Rp 2 milyar saat barang dikirimkan dengan pengakuan piutang di sisi lainnya. Dalam kondisi seperti ini, IFRS menyarankan agar perusahaan menerapkan pengakuan pendapatan dengan “metode pencicilan penjualan” (installment sales method.)

Dengan metode pencicilan penjualan, perusahaan mengakui pendapatan HANYA sebesar kas diterima PADA SAAT pencicilan terjadi.

Misalnya: pada contoh kasus di atas, Toko Gaul melakukan pembayaran pertama tanggal 20 Juni 2012 sebesar Rp 200 juta. Maka atas penyerahan yang senilai Rp 2 milyar, PT. JAK baru boleh mengakui pendapatan HANYA sebesar Rp 200 juta PADA TANGGAL 20 Juni 2012 (tidak lebih besar dari itu dan tidak sebelum itu).

Di sisi lainnya, beban dan biaya sehubungan dengan barang yang diserahkan, diakui secara proporsional sesuai dengan pembayaran yang diterima, disertai dengan pengakuan LABA/RUGI KOTOR TANGGUHAN—sebagai selisih yang timbul akibat pengakuan pendapatan di satu sisinya dan pengakuan beban dan biaya di sisi lainnya—yang nantinya diakui sebagai laba/rugi sebenarnya di akhir periode.

Pembayaran yang dicicil biasanya disertai bunga, jika memang demikian maka bunganya diakui sebagai “pendapatan bunga’ saat diterima .

Sebagai alternative, IFRS juga menawarkan metode pengakuan pendapatan yang disebut dengan “Metode Pemulihan Cost” (Cost Recovery Method)—untuk kasus yang sama (penjualan denga pembayaran bertahap). Metode alternative ini menggunakan kriteria pendapatan yang sama dengan metode pencicilan penjualan, pengakuan pendapatan berdasarkan jumlah kas diterimapun sama, HANYA SAJA laba/rugi kotor tangguhan tidak diakui sebagai laba/rugi kotor sesungguhnya di akhir periode (tahun), melainkan setelah semua cost dipulihkan (diketahui) di periode pencicilan terakhir.

Catatan: untuk contoh kasus konkretnya saya akan bahas di lain kesempatan.

 

Metode Persentase Penyelesaian (Percentage Of Completion Method)

Metode persentasi penyelesaian diterapkan untuk perusahaan-perusahaan kontraktor yang menangani proyek-proyek konstruksi. Hingga bisa diserahkan kepada pemberi kontrak (pemesan), proyek-proyek konstruksi biasanya membutuhkan waktu yang panjang (lebih dari satu tahun buku). Oleh sebab itu, pemesan biasanya melakukan pembayaran dengan 2 cara:

1. Ada yang melakukan pembayaran sekaligus—biasanya untuk proyek yang membutuhkan waktu penyelesaian yang relatif singkat (satu hingga dua tahun)

2. Ada juga yang melakukan pembayaran secara bertahap—sesuai dengan tingkat perkembangan penyelesaian proyek.

(Catatan: Dalam prakteknya, yang lebih banyak terjadi adalah yang kedua)

IFRS tidak memperkenaankan perusahaan kontraktor untuk mengakui pendapatan sebesar nilai kontrak penuh, saat kontrak ditandatangani, karena sebagian nilai kontrak dianggap mengandung tingkat kepastian ketertagihan yang rendah. Dalam pengertian, kontraktor belum tentu menerima pembayaran dalam jumlah penuh seperti yang tertera dalam kontrak. Sebagai gantinya, IFRS menyarankan agar perusahaan kontraktor menggunakan pengakuan pendapatan dengan metode persentase penyelesaian kontrak.

Dengan metode persentase penyelesaian kontrak, perusahaan kontraktor mengakui pendapatan sebesar persentase tingkat perkembangan penyelesaian kontrak, dengan pengakuan beban dan biaya (di sisi lainnya) yang dilakukan secara proporsional, juga.

Hal yang perlu diketahui oleh perusahaan kontraktor dalam menerapkan metode ini, yaitu:

  • Kontrak yang dimaksudkan haruslah kontrak yang memiliki kekuatan mengikat secara hukum, sehingga tingkat kepastian pendapatan menjadi tinggi—sepanjang kewajiban pengerjaan proyek dilakukan sesuai ketentuan di dalam kontrak.
  • Perusahaan perlu melakukan administrasi pencatatan yang rapi sehingga setiap beban dan biaya yang timbul bisa ditelusuri dan dihubungkan dengan pendapatan secara akurat.

Catatan: Untuk contoh kasusnya yang konkret, silahkan baca “Penerapan Metode Persentase Penyelesaian Kontrak konstruksi“ dan “Dasar Pengakuan Pendapatan dan Biaya Kontrak Konstruksi” yang sudah dipublikasikan sebelumnya. Tulisan tersebut dibuat berdasarkan praktek yang lumrah terjadi di perusahaan kontraktor, sehingga diyakini oleh penulisnya bisa memberi gambaran penerapan metode ini dalam praktek kerja yang sesungguhnya.

 

Metode Penyelesaian Kontrak (Completed Contract Method)

Masih di bidang usaha konstruksi, menelusuri beban dan biaya lalu menghubungkannya dengan pendapatan kontrak yang diperoleh (dengan menerapkan metode persentase penyelesaian), bukanlah sesuatu yang mudah untuk dilakukan—terutama kemungkinan adanya penambahan beban dan biaya, serta pendapatan yang diperoleh dalam suatu kontrak.

Sebagai alternative yang secara teknis dianggap lebih masuk akal—jika dibandingkan dengan metode persentase penyelesaian kontrak—adalah metode penyelesaian kontrak (completed contract method).

Dengan metode ini, perusahaan kontraktor melakukan pengakuan pendapatan secara sekaligus saat kontrak sudah rampung, sehingga pendapatan dan beban/biaya sudah diketahui secara pasti.

HANYA SAJA, dengan metode ini, laporan keuangan perusahaan kontraktor menjadi terlihat sangat buruk ketika dibandingkan antara satu periode dengan periode lainnya (di satu periode mungkin nyaris tanpa aktivitas—meskipun kenyataannya ada, sedangkan di periode lainnya mungkin aktivitasnya nampak sangat tinggi—meskipun sebagian aktivitas yang sesungguhnya telah terjadi di periode sebelumnya.

Oleh sebab itu, metode ini menjadi tidak disukai oleh para pengguna laporan keuangan (stake holders), karena tidak dapat memberi gambaran yang bisa mewakili kondisi perusahaan yang sesungguhnya. Pada akhirnya, para pengguna laporan keuangan lebih memilih menggunakan metode persentase penyelesaian (metode yang sebelumnya) bila pendapatan bisa diestimasi.

 

Metode Kinerja Proporsional (Proportional Performance Method)

Bukan hanya di perusahaan yang bergerak dalam bidang konstruksi, kondisi serupa juga terjadi di perusahaan-perusahaan jasa yang mengerjakan suatu pesananan pekerjaan jasa dalam jangka waktu yang panjang (lebih dari satu tahun buku).

Misalnya: jasa penyusunan Sistim Pengendalian Intern dan Standard Operating Procedure, jasa pembangunan dan penyusunan jaringan komputer (networking), jasa pembuatan software untuk industri tertentu (hotel, retail, dll).

Untuk kondisi seperti ini, perusahaan jasa dianjurkan untuk melakukan pengakuan pendapatan dengan “metode kinerja proporsional” (proportional performance method). Dengan satu catatan, tingkat perkembangan pekerjaan jasa yang dilakukan bisa diidentifkasi dan diestimasi.

Dengan menerapkan metode ini, perusahaan jasa mengakui pendapatan secara bertahap sesuai dengan porsi kinerja yang telah dilakukan di periode tersebut. Nilai pendapatan yang diakui adalah sebesar PORSI perbandingan antara “beban langsung” (direct cost) yang timbul di periode tersebut dengan total beban langsung bila pekerjaan jasa telah rampung, nantinya.

 

Pengakuan Pendapatan Dengan Metode Produksi (Production Method)

Metode produksi menentukan besarnya pendapatan dengan menggunakan nilai persediaan yang dihitung dengan harga pasar, dikurangi biaya angkut ke tempat dimana komoditi dijual dan beban-beban yang menyertainya.

Metode pengakuan pendapatan yang satu ini termasuk langka penarapannya, karena sampai saat ini belum diijinkan oleh standar. Kecuali untuk jenis komoditi spesifik—yang memiliki market sudah pasti dan mudah dijual dengan harga pasar, misalnya: emas, perak, tepung.

Pun kebanyakan pedagang komoditi semacam itu, masih lebih suka menghitung persediaan sebesar cost—bukan harga pasar, kemudian pendapatan diakui sebesar harga jual pada saat laku. Itu sebabnya saya katakan metode ini termasuk langka dalam penerapannya, saya pikir hanya diterapkan bila perusahaan mengalami kesulitan untuk menghitung harga pokok penjualan.

Sebagai bahan pengenalan, saya rasa, tak ada ruginya untuk tahu.

 

Pengakuan Pendapatan Dengan Metode Perskot (Deposit Method)

Di perusahaan-perusahaan pengembang real estate, ada kalanya terjadi transaksi penjualan property dengan kondisi tertentu. Misalnya:

Pembeli membayar uang muka sebesar 30%, akan tetapi berhak untuk menerima kembali uang muka tersebut jika pembeli memutuskan untuk membatalkan pembelian sampai pada batas waktu tertentu.”

Untuk penjualan seperti ini, pengembang tidak dibenarkan untuk mengakui pendapatan (atas penjualan tersebut), sampai dengan batas waktu masa berlakunya pembatalan terlewati. Untuk sementara, uang muka yang diterima tersebut diakui sebagai “Perskot” (Deposit) dalam kelompok kewajiban di Neraca.

Itulah, kurang-lebih, pengakuan pendapatan dengan metode perskot (deposit method).

 

Invoice Diterbitkan Tetapi Barang Ditahan (Bill and Hold Transactions)

Ada kalanya dimana suatu pabrik sudah menyelesaikan barang yang diproduksi, lalu menerbitkan invoice, akan tetapi barangnya tidak dikirimkan, melainkan disimpan di gudangnya sendiri. Apakah ini dibolehkan?

Ini jelas bersebrangan dengan ketentuan dasar pangakuan pendapatan—yang mensyaraktkan: pendapatan hanya boleh diakui apabila barang sudah diserahkan dan risiko yang melekat pada barang sudah berpindah ke tangan pembeli.

Akan tetapi, ini dibolehkan untuk satu alasan khusus, yaitu: pembeli memang meminta barang tersebut untuk tidak dikirimkan untuk sementara karena gudang pembeli sudah penuh—tidak ada lagi untuk tempat menyimpan barang. Dengan kata lain, barang tersebut adalah BARANG TITIPAN si pembeli, yang artinya: meskipun barang tersebut masih di gudang si penjual, risiko yang melekat pada barang sudah menjadi tanggungjawab si pembeli.

Tentu ini akan sangat mudah ‘dimainkan’ oleh manajemen nakal yang bermaksud mengangkat nilai pendapatan. Sehingga agar metode ini bisa diterima, maka ada syarat-syarat khusus yang harus terpenuhi, yaitu:

  • Term penjualan (atas barang yang ditahan) tidak mengandung persyaratan yang menyebutkan kemungkinan terjadinya pembatalan dari pihak pembeli setelah barang selesai dikerjakan dan invoice diterbitkan.
  • Barang yang ditahan harus dalam keadaan yang siap untuk dikirimkan sewaktu-waktu.
  • Barang yang ditahan harus tersimpan sedemikian rupa sehingga tidak tercampur dengan barang persediaan yang belum terjual (biasanya di tempatkan di rak yang terpisah dengan skat yang jelas).
  • Kelompok barang ditahan (yang raknya sudah dipisahkan) harus diberi sticker atau alat lain yang menyebukan nama pembeli yang memiliki barang tersebut.
  • Di dalam system (buku catatan) persediaan, barang yang ditahan tidak boleh masih berstatus tersedia untuk dijual. Untuk itu harus sudah berstatus terkirim. Dalam prakteknya, biasanya dibuatkan nama warehouse (gudang) baru, yang disebut dengan “Gudang Pelanggan” secara virtual—meskipun fisiknya ada di dalam gudang penjual itu sendiri.
  • Penjual (yang mengakui sebagai pendapatan) harus bisa menunjukan surat pernyataan resmi dari pembeli (bisa dalam bentuk kontrak) yang menyebutkan dengan jelas dan tegas bahwa: pembeli memang telah membeli barang tersebut dan menanggung semua risiko yang mungkin timbul atas barang tersebut.
  • Pembeli harus memiliki alasan yang benar dan masuk-akal mengapa meminta agar barang tersebut tidak dikirimkan terlebih dahulu (misal: tidak memiliki gudang penyimpanan yang cukup).

 

Tata Cara Pengakuan Pendapatan Untuk Transaksi Spesifik (Khusus)

Disamping berbagai metode pengakuan pendapatan di atas, masih ada lagi beberapa tata cara pengakuan pendapatan untuk transkasi-transkasi tertentu yang bersifat sangat khusus, di wilayah yang sangat khusus atau dalam kasus yang sangat khusus. Diantaranya:

1. Transaksi Perusahaan Broker – Pendapatan perusahaan broker atau agen atau ‘calo’ berupa “komisi” yang tentu saja nilainya sangat kecil (hanya sekian persen) jika dibandingkan dengan transaksi penjualan darimana komisi diperoleh.

Misalnya: perusahaan agen real estate memperoleh komisi Rp 20 juta dari Rp 2 milyar transaksi penjualan rumah. Entah disengaja atau tidak, ada kejadian dimana perusahaan broker mengakui pendapatan sebesar 2 milyar. Ini tidak dibolehkan. Tetapi bisa jadi perusahaan brokernya memang memiliki property sendiri yang dijual, bukan?

Nah untuk mengakui seluruh penjualan (2 milyar dalam contoh) sebagai pendapatan, minimal dua syara ini harus terpenuhi:

  • Perusahaan broker adalah penanggung risiko penuh atas semua kemungkinan risiko rugi (entah itu berupa klaim atas kualitas yang tidak sesuai, piutang tak tertagih, pembatalan transaksi, dll) yang timbul dari pembeli.
  • Broker bertindak selaku prinsipal atau pihak yang mengelola proses transaksi dengan wewenang penuh—sejak awal transaksi hingga pembayaran terjadi—tanpa dicampuri oleh otoritas pihak lain.

2. Fee Inisiasi – Yang disebut inisiasi fee adalah fee yang dibayar oleh pelanggan untuk memperoleh layanan tertentu—sebagai bagian dari kontrak langganan yang lain. Misalnya: Hotel membuka keanggotaan klub untuk pelanggan-pelanggannya agar bisa menginap di hotel tersebut dengan harga tertentu. Pada hari-hari tertentu (tahun baru misalnya), hotel membuka paket tertentu dengan fee inisiasi sebesar Rp 50 ribu per anggota klub. Atas inisiasi fee (sebesar Rp 50 ribu per anggota) yang diterima, hanya boleh diakui sebagai pendapatan apabila: dengan fee inisiasi tersebut anggota klub bisa memperoleh jasa tertentu (misalnya: pesta malam tahun baru) yang tidak bisa diperoleh oleh anggota yang tidak membayar fee.

3. Akresi dan Apresiasi – Jumlah aset peralatan kerja yang digunakan oleh perusahaan mungkin terus bertambah (mengalami akresi), atau nilai peralatan tersebut mungkin juga mengalami kenaikan (mengalami apresiasi). Ada kalanya, terutama perusahaan-perusahaan besar menganggap akresi dan apresiasi sebagai bentuk pendapatan yang diakui melalui akun “pendapatan belum teralisasi” (unrealized gain)—untuk dilawankan dengan beban dan biaya yang timbul atas aset tersebut. Apakah praktek ini dibolehkan? Tidak boleh, sampai aset tersebut terjual dan risiko atas aset tersebut berpindah tangan ke pihak lain (pembeli).

Seperti sudah sering saya sebutkan, topik akuntansi sangat luas dan terus berkembang dari waktu-ke-waktu mengikuti dinamika lingkungan bisnis tentunya. Sebagai orang accounting, terlebih-lebih yang sudah akuntan, menguasai berbagai teknis akuntansi sekaligus update terhadap perkembangan standar adalah penting. Bisa dibilang, pembelajaran bagi orang accounting adalah pembelajaran sepanjang waktu dan seumur hidup, setidaknya sampai memutuskan untuk berhenti belajar.

Untuk sementara, pengenalan berbagai macam metode pengakuan pendapatan di seri akuntansi pendapatan ini, saya rasa sudah lebih dari cukup. Untuk detail dari masing-masing metode ini, JAK akan bahas satu-per-satu secara bertahap. Jika sudah tidak sabar, silahkan baca PSAK atau IAS terkait dengan pengakuan pendapatan (revenue recognition). I’ll see you again on the next post.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Perlakuan Akuntansi Aset Zombie: Nilai Buku Nol Masih Dipakai

Dalam akte kematian aset perusahaan ini dicatat sudah “almarhum” alias tutup usia alias meninggal, karena secara hitung-hitungan umur ekonomisnya sudah

Standar Akuntansi: Ada Apa dengan IFRS? Mengapa Dewan Pengawas IASB Resah?

Emily Chasan—di blognya Wall Street Journal—menyebutkan bahwa, yayasan IFRS yang mengawasi kinerja IASB berencana untuk menjelaskan berbagai hal sehubungan dengan

Jurnal Penghapusan dan Koreksi Cadangan Piutang Tak Tertagih

Di tulisan sebelumnya saya sudah bahas mengenai pencadangan piutang tak tertagih (Bad Debt), dengan menggunakan metode persentase dan analisa umur

  1. ahmdheru
    ahmdheru 10 May, 2012, 10:31

    Bagus sekali artikelnya mas, sangat bermanfaat…

    Reply this comment
  2. Donny Iskandarsyah
    Donny Iskandarsyah 10 May, 2012, 11:47

    Benar2 informan banget, makasih banyak atas infonya, sekaligus menjawab komentar saya pada materi “Akuntansi Pendapatan: Ketentuan Dasar Pengakuan Pendapatan”, saya ada sedikit pertanyaan, Untuk perusahaan tambang (mining) dan agrikutural yg benar2 melihat harga pasar aktif, apakah pengakuan pendapatannya menggunakan metode produksi/end of production? terima kasih, sukses selalu.

    Reply this comment
  3. ardika
    ardika 31 May, 2012, 05:19

    like this yoooo…
    mannfaat banget… berhubungan sekarang saya ada persentasi tentang pendapatan untuk MK Teori Akuntansi….
    numpang download…hehe

    Reply this comment
  4. Ephy
    Ephy 13 October, 2012, 03:53

    Mantap. Keep up the good work. God bless.

    Reply this comment
  5. iwan
    iwan 4 November, 2012, 03:09

    untuk saat ini kita msh berpacu pada PSAK atau IFRS?

    Reply this comment
  6. roni
    roni 8 March, 2013, 03:19

    buat JAK thanks a lot, bikin saya maikin pede perdalam ilmu accounting

    Reply this comment
  7. abdur
    abdur 17 September, 2013, 12:45

    sangat membantu , thanks

    Reply this comment
  8. Desy
    Desy 13 December, 2013, 06:39

    JAK, perusahaan saya bergerak dibidang industri, yang produksi nya di tentukan berdasarkan pesanan, jika pada akhir tahun saya mendapatkan project dari suatu klien dan langsung saya buatkan invoice yang bunyinya adalah DP 50%, namun progress pengerjaannya adalah tahun depan (2014), apakah Invoice DP tersebut dapat saya akui sebagai pendapatan walaupun belum ada biaya produksi yang dikeluarkan?? namun project tersebut memang sudah pasti akan dilakukan, dan DP tersebut sudah dibayar dan tidak ada perjanjian dikembalikan lagi jika terjadi suati kegagalan. mohon bantuannya ya,, terimakasih

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*