Bimbingan Karir Judul Skripsi Akuntansi Keuangan Yang Bagus

Published on March 23rd, 2012 | by Jurnal Akuntansi Keuangan

14

Topik (Judul) Skripsi Akuntansi Keuangan Yang Bagus

Sudah beberapa kali JAK dimintai pendapat mengenai judul skripsi akuntansi keuangan yang bagus oleh kawan-kawan mahasiswa. Ada yang sudah punya judul tetapi tidak yakin dengan topik yang diambil, ada juga yang sebalinya; topik sudah ada tetapi judulnya yang masih ragu-ragu. Tak sedikit juga yang menanyakan data-data yang diperlukan untuk menyusun skripsi akuntansi keuangan.

Saya (penulis), mewakili JAK, mohon maaf jika selama ini JAK lebih banyak berkonsentrasi untuk menyajikan artikel-artikel terkait dengan karir, sedangkan skripsi samasekali belum pernah.

Bukannya tidak mau membantu, melainkan semata-mata karena JAK menyadari sepenuhnya bahwa JAK tidak memiliki kompetensi dan kapasitas yang cukup untuk mendiskusikan topik-topik diseputaran skripsi, thesis, disertasi dan bentuk penelitian ilmiah lainnya.

Menurut JAK, orang yang paling tepat untuk dimintai bimbingan atau konsultasi mengenai skripsi adalah dosen pembimbing akademik atau pembimbing skripsi—jika skripsinya sudah mulai dikerjakan. Beliau-beliaulah seharusnya orang yang paling tahu mengenai topik atau judul skripsi mana (atau seperti apa) yang paling bagus untuk digunakan sebagai tugas akhir.

Tetapi, bagaimanapun juga, usaha untuk mencari sendiri (konsep, data, teori, alat analisa, dll) selalu bagus. Melihat begitu antusiasnya kawan-kawan mahasiswa mencari informasi terkait dengan skripsi akuntansi keuangan, saya pribadi sungguh bangga dan salute. Ini sinyal yang positive, bahwa mereka menganggap skripsi bukan sekedar syarat untuk lulus sarjana akuntansi.

Melalui tulisan sederhana ini, JAK bermaksud ikut memberi masukan. Mohon jangan dilihat kualitas apalagi nilainya, sudah pasti jauh dari yang diharapkan. Setidaknya JAK ada keinginan untuk ikut memberi dorongan moral dan doa dari jauh.

 

Skripsi Akuntansi Keuangan Seperti Apa Sih Yang Bagus?

Bagus-atau-tidak bagus, menurut saya, relative sifatnya. Banyak faktor yang bisa mempengaruhi parameter penilaian, termasuk subyektifitas si penilai. Sehingga, bagus bagi saya belum tentu bagus bagi anda. Bagus bagi anda belum tentu bagus bagi dosen pembimbing dan penguji. And, vice-versa.

Untuk sekedar lulus sarjana akuntansi, ukuran bagus yang paling tepat untuk dikejar sudah pasti ukuran bagus bagi dosen pembimbing dan penguji. Jaman saya sekolah, justru beliau-beliau lah yang menentukan kapan saya lulus.

[quote]Pertanyaannya: apakah anda menyusun skripsi hanya untuk sekedar lulus?[/quote]

Mungkin tak sedikit yang berpikir “ah yang penting cepat lulus”—dan tak ada yang salah dengan pendirian seperti itu (mengingat begitu mahalnya biaya pendidikan sekarang ini), saya yakin kebanyakan mahasiswa/i menyusun skripsi tidak sekedar memenuhi syarat lulus sarjana akuntansi.

Jika tujuan menyusun skripsi tidak sekedar untuk memenuhi syarat lulus, maka ukuran bagus yang dikejar mestinya ukuran bagus bagi dosen pembimbing, dosen penguji, dan diri anda sendiri. Bagaimanapun juga, waktu yang anda habiskan di kampus tinggal beberapa bulan lagi. Selebihnya—setelah lulus, andalah yang menentukan: akan pergi kemana dan mau melakukan apa untuk masa depan yang sukses dan gemilang.

Pola pikir yang terakhir di ataslah yang saya pakai ketika dahulu, siap-siap untuk menyusun skripsi.

Sedikit tentang pengalaman saya dahulu—yang bisa jadi sudah sangat tidak relevan dengan kondisi saat ini. Saya termasuk mahasiswa yang pas-pas an. Sangu kuliah ya pas-pas an, otak juga pas-pas an. Hehe..

Ada pengalaman yang bisa dibilang lucu, konyol, sekaligus berkesan sehubungan dengan proses penyusunan skripsi ketika menjelang lulus. Tahun 90-an, mendekati 3 tahun saya kuliah di universitas yang jauh dari kesan elite apalagi mewah.

Paradima kampus—dan segenap cipitasnya, menurut saya pribadi, masih sangat konvensional (jika tidak mau menyebut “ortodox”.) Posisi dosen, saat itu, ibarat malaikat atau manusia setengah Tuhan, dalam pengertian: cepat atau lambatnya seorang mahasiswa lulus, tergantung kemauan dosen. Kasarannya, jika mau cepat lulus ya harus ‘buat dosen senang.’ Jika tidak, maka akan jadi mahasiswa abadi.

Sudah tahu akan hal itu, saya tetap nekad menentang dosen. Saat seminar akuntansi—menjelang persiapan skripsi, saya mempresentasikan topik akuntansi manajemen, dengan judul (jika saya tak keliru) “Meningkatkan Profitabilitas Perusahaan Manufaktur Dengan Just-In-Time (JIT).” Hasil seminar tersebut?

Saya menyebutnya “musibah dibalik berkah”—bukan berkah dibalik musibah. Saya katakan demikian karena nilai seminar saya A, dosennya sangat menyukai presentasi saya—karena disamping dianggap bagus juga termasuk topik baru pada angkatan saya saat itu. Tetapi saya tidak tahu kalau ternyata ada peraturan tak tertulis yang mengatakan bahwa: presentasi dalam seminar akuntansi adalah persiapan menuju skripsi. Dengan kata lain: apa yang dipresentasikan, itulah yang akan dijadi skripsi.

Sementara, saya sudah menyiapkan skripsi—sejak semester 6—dengan topik dan judul yang samasekali berbeda. Topik yang saya ambil saat itu justru mengenai perlakuan akuntansi. Tepatnya “Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap.” Topik yang menurut beberapa dosen akuntansi sudah super-basi, kedaluarsa, kuno dan seterusnya (mohon jangan ditertawakan.)

Selesai presentasi, ibu dosen memanggil saya keruangannya. Beliau menyarankan agar saya segera mencari bahan untuk persiapan menyusun skripsi. Sungguh mengagetkan bagi beliau ketika saya mengatakan bahwa skripsi saya tinggal Bab VI (Saran dan Simpulan) dan judulnya adalah “Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Seketika itu juga wajah Ibu dosen pengasuh seminar akuntansi itu bersemu merah pertanda kecewa. Saya masih ingat persis dengan kejadian itu—termasuk ucapan beliau yang mengatakan:

Judul yang kamu ambil itu sudah kuno dan basi. Sudah ada ribuan mahasiwa angkatan sebelum kamu mengambil judul yang sama.”

(“Mungkin ada jutaan skripsi jika semua universitas di Indonesia digabungkan”, bisik saya dalam hati.)

Kalau kamu tetap menggunakan judul itu, lalu apa yang akan kamu cantumkan di bagian perbedaan penelitian kamu dengan penelitian sebelumnya? Cuma beda waktu dan tempat penelitian?” beliau bertanya dengan nada sinis.

Lagipula, dengan judul perlakuan akuntansi seperti itu, alat analisis seperti apa yang akan kamu gunakan? Descriptive-comparative?” beliau bertanya lagi dengan nada dan mimik wajah sinis yang sampai saat ini masih hangat dalam benak saya.

Bung, alat analisis descriptive comparative itu bukan untuk riset, tetapi untuk paper! Jika anda ingin menyebut skripsi anda sebagai hasil penelitian, minimal harus menggunakan alat uji statistik (red: correlation and regression,)” beliau meneruskan omelannya.

Mendengar ucapan beliau tentang alat uji statistik, ingatan saya melayang ke skripsi kakak-kakak kelas yang minimal menggunakan judul yang diawali dengan kata “Pengaruh” atau “Hubungan”. Misalnya:

  • Hubungan blablabla dengan Tingkat Kepatuhan Wajib Pajak di KPP X” (alat uji: korelasi); atau
  • Pengaruh Pengendalian Piutang Terhadap Efektivitas Modal Kerja” (alat uji: korelasi dan regresi.)
  • Dan lain sebagainya.

Dengan maksud meredakan murka Ibu dosen, daripada membantah saya memilih untuk meminta petunjuk:

Sebaiknya saya mengambil judul apa, supaya bagus?,” saya bertanya dengan hati-hati.

Paling bagus kalau kamu menggunakan bahan seminar yang kamu presentasikan tadi sebagai judul skripsi karena memang bagus makanya saya kasih nilai A. Atau minimal pasar modal deh, kalau kamu kesulitan nanti saya yang bimbing,” beliau memberi petunjuk yang tentu saja sangat saya hargai, sekaligus merasa terhormat atas kesediaan beliau—yang seorang dosen kepala jurusan—menawarkan kebaikan untuk membimbing saya yang hanya seorang diantara ribuan mahasiswa lainnya.

Tetapi skripsi saya sudah hampir jadi,” saya memberanikan diri untuk bertahan.

Itu risiko anda sendiri. Siapa suruh kamu bikin skripsi sebelum mengajukan judul. Seharusnya kamu konsultasi dengan pembimbing akademik sebelum buat skripsi, lalu ajukan judul, jika sudah disetujui baru mulai nyusun,” jawab beliau.

Kebayang dalam benak saya, capeknya jika harus menyusun dari awal lagi. Sekedar informasi, saya sudah memikirkan judul itu matang-matang. Dan untuk keperluan penyusunan skripsi tersebut, disamping menggunakan kumpulan thesis akuntansi dari Queensland University (Brisabne, Australia) yang tebalnya 3x buku yellowpages, saya juga mencari bahan pembanding di beberapa kampus di Jakarta (termasuk UI dan Atma Jaya.) Sudah begitu banyak energi, waktu dan terutama biaya yang saya keluarkan.

Mengingat hal itu, saya memberanikan diri untuk mengajukan argumentasi di tengah-tengah tekanan ibu dosen yang terkenal sadis dan killer tersebut. Dengan mantap saya membuka argumentasi:

Maaf bu, saya sudah mencari pembanding hingga ke UI, bahkan hingga ke Queensland University, untuk persiapan penyusunan skripsi saya. Dan saya memutuskan mengambil judul Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap karena penguasaan saya di aktiva tetap sangat lemah.”

Mendengar alasan “karena penguasaan aktiva tetap saya lemah” itu, ibu dosen malah tertawa ngakak:

Ha ha ha ha….. anda ini bodoh atau sakit jiwa. Penentuan judul skripsi itu harusnya disesuaikan dengan kemampuan. Dimana-mana orang nyusun skripsi memilih topik yang paling dikuasainya. Saya tidak paham dengan jalan pikiran anda. Bagaimana anda menyusun skripsi dengan topik yang tidak anda kuasasi. Jikapun bisa anda selesaikan, bagaimana anda menghadapi penguji nanti?

Bisa jadi saya memang bodoh atau bahkan sakit jiwa, tetapi apa yang saya sampaikan kepada beliau adalah yang sebenar-benarnya, apa adanya. Memang itulah dasar pertimbangan utama mengapa saya memilih judul perlakuan akuntansi yang konon sudah basi dan ketinggalan jaman itu.

Ketika memutuskan mengambil judul tersebut, saya sadar betul bahwa penguasaan saya di Aktiva Tetap masih sangat lemah, sementara aktiva tetap porsinya cukup besar diantara item-item lainnya dalam laporan keuangan. Jika sampai lulus saya masih seperti itu, saya khawatir akan mengalami kesulitan ketika nanti terjun ke dunia kerja—karena ada bagian Neraca yang sangat tidak saya kuasai.

Dan setelah proses penyusunan skripsi melewati bab IV (data dan pengujian), apa yang saya pertimbangkan memang tidak keliru. Penguasaan saya dalam hal perlakuan aktiva tetap sungguh meningkat drastis. Tuntutan penyusunan skripsi memaksa saya untuk mencari berbagai literature (selain PSAK) sekaligus mempelajaro contoh-contoh kasusnya dengan semangat dan kemauan yang berlipat-lipat ganda jika dibandingkan dengan proses belajar yang sifatnya cenderung casual.

Jika untuk gagah-gagahan dan keren-keren, judul dan bahan skripsi dari kumpulan thesis akuntansi Queensland University—yang saya terima sebagai hadiah ulang tahun dari sahabat yang kuliah di sana—tak kurang banyak. Bicara bobot alat uji, yang namanya alat uji thesis sudah pasti lebih berbobot jika dibandingkan dengan skripsi. Tetapi saya punya prinsip dan orientasi tersendiri. Bukan hanya judul dan alat uji, industri dan bidang usahanyapun macam-macam, jauh lebih beragam dibandingkan dengan yang di Indonesia.

Itulah yang saya jelaskan panjang lebar kepada beliau yang saat itu berkenan secara khusus berdiskusi mengenai skripsi dengan saya yang hanya seorang mahasiswa.

Saya menyusun skripsi bukan untuk sekedar lulus atau gagah-gagahan, bu,” saya mengakhiri penjelasan sambil memasukan semua kertas ke dalam tas, lalu berpamitan.

 

Judul Skripsi Dan Dunia Kerja

Sejak awal kuliah saya memang tidak pernah berpikir untuk menjadi seorang peneliti. Yang ada dibenak saya saat itu selalu: “Bagaimana caranya agar begitu lulus saya bisa bekerja.

Harapan paling jauh (sebut saja “mimpi”) yang pernah terlintas dalam pikiran saya saat itu, adalah menjadi seorang akuntan atau auditor. Ya, nasib saya tidak sebagus itu. Ternyata saya jadi auditor (kerja di KAP) hanya 5 tahun, keburu bosan dan merasa sudah tidak ada tantangan lagi.

[quote]Meskipun demikian, saya tak pernah mengalami masalah yang berarti dalam pekerjaan HANYA GARA-GARA SALAH MENGAMBIL JUDUL SKRIPSI.[/quote]

Saya masih ingat ketika pertamakali melamar pekerjaan, bahkan saya tak ditanya lulusan universitas mana, apalagi tentang judul skripsi. Saya hanya perlu menjalani beberapa kali test, termasuk hardskill.

Pada saat test, saya hanya disuruh menjurnal, membuat flowchart siklus pendapatan dan menghitung pajak gaji pegawai—yang kebetulan hasilnya tidak jelek-jelek amat, sehingga saya diterima bekerja hanya satu minggu setelah wisuda.

Tahun pertama, tahun kedua, ketiga, keempat dan kelima, tak terasa sudah saya lewati masa kerja di perushaan pertama. Tak sekalipun saya mengalami kesulitan karena harus menggunakan alat uji statistik (regresi dan korelasi). Maksimal melakukan review terhadap laporan keuangan yang disusun oleh klien. Uji akurasi dan kepatuhan terhadap PSAK. Sesekali menyusun laporan keuangan jika kebetulan kantor mengambil pekerjaan kompilasi.

Bosan di KAP, pindak ke perusahaan. Memasuki jenjang manajemen, saya mulai memiliki wewenang untuk mengangkat staf di wilayah akuntansi dan keuangan. Saat mewawancari kandidat pegawai, judul skripsi, alat uji statistik dan sejenisnya tak pernah masuk dalam check list saya. Bukan karena saya tidak suka, tetapi karena memang tidak diperlukan.

Dari sekiankali melakukan wawancara dan test calon pegawai di bagian akuntansi dan keuangan, masalah terbesar kandidat selalu ada pada kemampuan teknis akuntansi. Yang paling parah adalah lulusan Sarjana akuntansi yang tidak bisa menjurnal atau tidak bisa membuat neraca percobaan (trial balance sheet.)

Dan setiap kali menemukan kandidat seperti itu, saya selalu terkenang oleh perdebatan saya dengan kepala jurusan yang mengatakan saya bodoh dan sakit jiwa karena saya mengambil judul skripsi yang kuno, kedaluwarsa, tidak keren. Dan setiap kali saya ingat akan hal itu, saya tak henti-hentinya bersukur. Ternyata keputusan saya mengambil judul perlakuan akutansi memang tidak keliru.

Saya tidak bermaksud menganjurkan agar anda mengambil perlakuan akuntansi sebagai judul skripsi. Saya juga tidak bermaksud mengatakan bahwa skripsi itu tidak perlu keren-keren. Tetapi saya ingin mengatakan bahwa:

[quote]Jika memang bisa buat skripsi dengan menggunakan topik dan judul yang mutakhir, dengan menggunakan alat uji statistik, kenapa tidak? Tetapi, seseorang yang mengambil judul skripsi di luar basis dasar akuntansi keuangan (teknis dan non teknis), asumsinya dia sudah sangat menguasai kemampuan teknis akuntasi luar dalam, dari yang paling umum hingga yang detail dan khusus, termasuk auditing dan perpajakan.[/quote]

Ini murni pengalaman saya (penulis) pribadi yang tentu saja belum tentu cocok bagi anda atau orang lain. Sekiranya cocok silahkan dipakai, jika tidak ya jangan. Semoga sukses dengan skripsinya dan cepat lulus. Selamat berakhir pekan.

Tags: , , , , , , ,


About the Author

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



14 Responses to Topik (Judul) Skripsi Akuntansi Keuangan Yang Bagus

  1. eka says:

    wahh… pak admin justru pengalaman saya sebaliknya, pertama kali diwawancara justru pewawancara alias bos saya saat ini. bertanya mengenai judul skripsi saya, beliau memang bukan dari lulusan akuntansi bliau menyebut dirinya sndiri tukang obat (baca : Sarjana Apoteker) saya sdikit mnjelaskn ttg skripsi saya, terakhir dia tanya mengapa ambil judul tsb. saya dgn jujur bilang : kesulitan pada saat skripsi akuntansi adalah ketersediaan data, perusahaan sangat berhati2 utk memberikan data keuangannya. jadi buat apa judul muluk2 tp klo ga ada bahannya, percuma saja, jadi saya rasa judul tsb yg saya anggap paling memungkinkan utk diperoleh datanya. komentar beliau cukup baik, saya lupa kata2nya..
    jadi buat adik2 yang sedang skripsi tetep semangat ya.. ayo tetapkan target utk lulus tahun ini…. Skripsi nya dibuat jgn dibeli, hihihi.. itu jadi track record kita lho..!!!

    • Mbak @Eka:
      Wah.. pengalaman kita beda ya..:) Saya rasa setiap orang memiliki pengalaman dan pandangan berbeda ya. Yang paling penting, seperti yang Mbak Eka sebutkan, “kerjakan skripsi dengan serius”. Jika bisa, gunakan momentum penyusunan skripsi sebagai kesempatan untuk memperdalam sekaligus mempertajam keahlian, sebelum benar-benar terjun ke lapangan kerja.

  2. asri says:

    Pak admin, saya skrg sdg nyusun skripsi nyambi kerja di KAP walau bukan KAP big4. Kalo kata manajer audit saya sih, skripsi S1 mestinya jgn muluk2, bagusnya ya mengangkat PASK aja, hampir sama pikiran na kaya judul skripsi bapak. nah kalo skrisi tentang perlakuan2 gitu, ambil data dan cara nguji nya gmn pak? bisa minta dikirim contoh skripsi bapak dulu ga, buat ilham?

    • @Asri:

      Data seharusnya bisa pinjam data dari KAP dimana @Asri bekerja, tinggal minta ijin sama client-nya aja kan? KAP kan sudah gudangnya data keuangan perusahaan. Tinggal dibuatkan landasan teori :D

      • Tambahan untuk @Asri:

        Jika mengambil topik perlakuan akuntansi, alat ujinya: descriptive-comparative, dan quantitive. Tergantung item apa yang diteliti. Biasanya, dicari perbedaan antara perlakuan akuntansi yg diterapkan oleh perusahaan dengan ketentuan PSAK, dengan menggunakan laporan comparative (baik L/R maupun Neraca). Sehingga, di bab VI (saran dan simpulan) ujungnya adalah usulan jurnal penyesuaian atau koreksi.

  3. Leha says:

    mba admin ..
    saya mahasiswa tingkat akhir di sebuah akademi dan sedang menyusun Tugas Akhir .. judul yang akan saya ambil itu mengenai modal kerja tapi saya masih kekurangan data .. ada referensi tentang modal kerja ? Please Share .. Thanks you .

    • JAK ada beberapa kali angkat topik modal kerja, namun sepertinya tidak cocok untuk keperluan riset karena rata2 artikel di sini menggunakan bahasa yang sangat sederhana :D

  4. feri says:

    Pak admin.. situs yang sangat menarik krn bisa “terjangkau” oleh otak saya.

    Soal skripsi, saya tahun depan skripsi dan akan mengambil tema yang sama dengan anda yaitu Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap pada sektor pemerintah (Barang Milik Negara).
    Tapi masih bingung mulainya dari mana, mau kemana, bagaimana dan pake apa. Bisa share pengalaman bapak ketika memulai skripsi bapak? Apalagi kondisi saya saat ini hampir sama dg anda dulu, yakni masih lemah di Aktiva tetap sektor publik.
    Terima kasih.

    • @Feri:

      Saya pribadi bisa memahami situasi anda.

      Yang paling pertama, lihat skripsi sejenis (dalam kasus penulis pribadi “perlakuan akuntansi” di cari di perpustakaan kampus), meskipun judulnya tidak persis sama. Tujuannya bukan untuk di contek pastinya, melainkan supaya ada gambaran “seperti apa sih skripsi yang menggunakan topik perlakuan akuntansi?” (lihat komentar tambahan untuk sdri @Asri di atas). Dalam kasus anda petanyaan awalnya mungkin: “seperti apa sih skripsi yang menggunakan topik perlakuan akuntansi aktiva tetap sektor publik?”. Perhatikan isinya Bab-per-Bab-nya mulai dari latar belakang, kerangka penelitian, landasan teori, data, pengujian, hingga simpulan dan saran. Saya pribadi saat itu sengaja nebeng teman ke perpustakaannya UI dan Atmajaya, karena saya ingin pembanding yang beragam.

      Setelah melihat skripsi pembanding, lalu saya bertanya pada diri sendiri: “Skripsi spt apa yang aku inginkan?”. Dan jawaban saya saat itu: “SKRIPSI AKU HARUS LEBIH BERBOBOT DIBANDINGKAN SKRIPSI-SKRIPSI SEBELUMNYA”, baik dari aspek landasan teori, data, maupun pengujian. Dari jawaban itu lalu saya tahu bahwa utk mewujudkan keinginan tersebut saya harus: mencari literature yang lebih lengkap, mencari datang yang lebih banyak dan detail. Sekaligus sudah bisa bayangkan bahwa ketebalan skripsi saya minimal 400 halaman (karena pembanding dari UI saat itu memiliki ketebalan hingga 200 halaman.)

      Setelah langkah pertama, kawan yang seangkatan dengan saya memilih mencari literature. Saya menempuh rute yang agak BERBEDA. Setelah melihat contoh perbandingan skripsi sejenis, saya malah berpikir ke data, dengan bertanya: “Apakah saya bisa mendapatkan data untuk bahan penilitia utk topik ini?.” Saya memilih berpikir ttg data sebelum literature karena saya tidak mau sia2 mencari literature jika nanti ternyata tidak dapat data. Saat itu saya ada 3 perusahaan yang memungkinkan utk bisa dapat data. Sehingga saya yakin, salah satunya pasti bisa.

      Setelah yakin akan dapat data baru saya cari literature terkait, prioritaskan buku yang khusus membahas topik yang anda angkat. Kalau bisa minimal 5 buku dari penulis berbeda. Literature yg tak kalah pentingnya adalah PSAK yang mengatur tentang topik yang anda ambil, ini wajib. Bagaimanapun juga, PSAK adalah referensi wajib utk topik perlakuan akuntansi. Selanjutnya literature yg didapat dibandingkan dengan landasan teori di skripsi pembanding. Pelajari tingkat kedalaman dan kerincian pemaparan landasan teorinya. Pertanyaan terakhir di sini: “Apakah literature saya sudah cukup untuk bisa menyajikan pemaparan dengan tingkat kedalaman dan kerincian YANG LEBIH BAGUS jiak dibandingkan dengan skripsi pembanding?”

      Dari tiga langkah awal ini saja, saya rasa anda sudah bisa melanjutkan langkah selanjutnya dengan lebih mantap dan pasti. Semoga sukses skripsinya dan bisa wisuda tahun ini.

  5. fauzi says:

    kebetulan saya juga sedang melakukan penulisan ilmiah di gunadarma…..
    jdi di kampus saya ada 2 penulisan, penulisan ilmiah dan skripsi….
    yg menjadi pertimbangan saya melakuakan reseach adalah kemudahan mendapatkan data… karena itulah saya memilih topik pasar modal dalam penulisan ilmiah saya..

    • Faktor kemudahan memperoleh data juga cukup penting untuk menunjang kelancaran penelitian, apalagi jika kebetulan pas dengan topik yang memang ingin dikuasai akan semakin bagus.

  6. Jingga Matahari says:

    keren bnget pengalamannya

  7. MahasiswaAbadi says:

    saya adalah mahasiswa jurusan akuntansi.
    kira-kira judul skripsi apa yaa yang menarik (memakai data sekunder) ?

    Soalnya saya mau ambil tentang audit delay, tetapi variabel peneliti terdahulu sudah banyak,. dan saya sudah tidak bisa menambahkan variabel baru di dalamnya?

    Ada yang bisa membantu?

  8. indah says:

    Sore Pak…
    Saya mohon bantuan u/ menentukan judul skripsi u/ konsentrasi akuntansi keuangan..
    karna sya sudah ajukan judul ditolak krna alasan judul yg saya ajukan tidak sesuai dg konsentrasi yg saya ambil.
    sya diminta mencari judul lain…
    smpai saat ini saya belum menemukan judul yg tepat yg sesuai dengan kemmapuan saya,,
    dan saya ingin data yg diambil itu mudah..
    sya ingin data itu dari tempat sya bbekerja saja,yaitu bank..tapi tanpa harus minta kebagian terkait

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑