Belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak, tak harus tegang.


Lebih penting lagi, tak harus bayar. Jika bermanfaat, dishare saja


Bagimana Caranya Menjurnal Modal Usaha Berasal Dari Utang?

Bagimana Caranya Menjurnal Modal Usaha Berasal Dari Utang?

Bagaimana caranya menjurnal modal usaha berasal dari utang? Persisnya, uang pinjaman untuk mendirikan usaha itu dicatat sebagai utang atau modal? Sebelum pusing-pusing berpikir tentang bagaimana caranya menjurnal modal usaha berasal dari utang, menurut anda apakah pertanyaan ini wajar? Silahkan ambil waktu beberapa detik atau menit untuk berpikir… Fokuskan pikiran anda di sini: “modal usaha berasal dari utang….” atau dibalik “utang untuk modal usaha”… Apakah itu mungkin?

Bayangkan bentuk NERACA. Dari sana anda bisa melihat bahwa “utang” dan “modal” adalah dua hal yang samasekali berbeda. Utang adalah kewajiban (liability), sementara modal adalah ekuitas (equity). Lalu darimana istilah “modal usaha berasal dari utang” atau “modal yang bersumber dari utang”? Utang ya utang, modal ya modal—meskipun sama-sama berada di sisi passiva.

‘Modal-usaha-berasal-dari-utang’ ini adalah istilah rancu yang bagi masyarakat awam mungkin terdengar wajar, sehingga bisa dimaklumi. Tetapi akan menjadi aneh, jika mindset (pola pikir) seperti itu digunakan oleh orang yang menyebut diri sebagai “orang keuangan”—apalagi orang akuntansi, terutama ketika berbicara tentang perusahaan yang berbetuk perseroan terbatas (PT).

Saya ingin menegaskan: TIDAK ada modal yang berasal dari utang, terutama di perusahaan-persuhaan yang berbentuk perseroan terbatas (PT.)

Jika yang dimaksudkan adalah ASET (kas, persediaan, aktiva tetap) IYA—memang bisa dibiayai dari 2 macam sumber, yaitu:

  • Utang atau pinjaman—yang dikenal dengan istilah “debt financing”; dan
  • Modal (penerbitan saham)—yang dikenal dengan istilah “equity financing

 

Tetapi modal (equity) yang berasal dari utang, sekalilagi, TIDAK mungkin. Untuk kas yang digunakan untuk membeli aktiva tetap atau membiayai operasional perusahaan, jika berasal dari kreditur sudah pasti diakui sebagai “utang.” Mengapa perlu berpikir tentang pengakuan “modal”?

Saya bisa mengerti, kerancuan ini timbul akibat kelaziman pandangan umum yang menggunakan sebutan “modal” untuk menggantikan kata kas dan aktiva-aktiva lainnya yang digunakan untuk membiaya operasional perusahaan atau memulai usaha.

Misalnya: Ketika saya menyarankan agar warung mie rebus sebelah sekalian jual pulsa—supaya saya bisa ngebon, biasanya Mbok Jum jawab: “Ndak ada modal Mas Bro.”

Lalu saya bertanya: “Lho, memangnya Mbok Jum perlu modal, bukankah Mbok Jum bisa pakai uang hasil jualan mie rebusnya untuk beli pulsa ke pengepul pulsa?”.

Mbok Jum menjawab: “Lha ya itu yang Mbok makusdkan, uang hasil jualannya ndak cukup.”

Itu cerita yang lumrah dalam skup usaha mikro, macam warungnya Mbok Jum. Di skala yang lebih besar, ceritanya sedikit berbeda tetapi nuansanya tetap sama; bahwa kas yang digunakan dalam membiayai operasional perusahaan disebut “modal,” apalagi kas yang dipakai untuk memulai suatu usaha, sudah pasti disebut modal.

Sudah bukan rahasia lagi bahwa ada banyak orang cerdas yang bisa sukses menjalankan usaha dengan modal yang minimal, bahkan tak sedikit yang memulai usahanya dengan tanpa modal. Salah satu cara untuk dapat menjalankan usaha tanpa modal adalah dengan utang—pinjam dari bank atau institusi keuangan tertentu atau perseorangan.

Sehingga, istilah cari “utang untuk modal usaha” adalah sesuatu yang lumrah dalam praktek bisnis. Tetapi, dalam adminsitrasi pembukuannya (akuntansi), tetap saja utang dicatat sebagai utang, sementara modal ya tetap dicatat sebagai modal. Mencatat pinjaman sebagai modal adalah kesalahan yang luar biasa fatal, meskipun pinjaman itu dipakai untuk memulai usaha.

Tapi perusahaan tempat saya kerja, kenyataannya memang memakai pinjaman sebagai modal untuk memulai usaha” mungkin ada yang ngeyel seperti itu.

Supaya tidak perlu ngeyel, saya ada satu contoh kasus:

Bosan menjadi pegawai yang terikat jam kerja dari pukul 9 pagi hingga 5 sore, Adrian berkeinginan untuk memulai usaha.

Untuk memulai usaha Adrian butuh modal Rp 2 Milyar. Adrian memeriksa uang tabungannya hasil bekerja selama beberapa tahun. Setelah ditambahkan dengan harta tak bergerak yang dimiliki, total nilai harta Adrian ternyata hanya sekitar Rp 600 juta.

Dengan proposal (business plan) yang meyakinkan, tanggal 7 Maret Adrian berhasil mengajak Aileen dan Hendro—mantan teman kuliahnya—untuk bergabung dengan menyetorkan modal masing-masing sebesar sebesar Rp 500 juta. Mereka bertiga sepakat untuk mendirikan sebuah perusahaan yang berbadan hukum Perseroan Terbatas (PT.)

Dibandingkan dengan business plan yang membutuhkan Rp 2 milyar, kas yang terkumpul sampai sejauh ini baru mencapai Rp 1,600,000,000 (=600 juta + 500 juta + 500 juta). Itu artinya masih kurang Rp 400,000,000. Bagaimanapun juga mereka tetap akan menjalankan rencana untuk mendirikan perusahaan yang akan diberi nama PT. JAK. Kekurangan uang Rp 400 juta rencananya akan ditutup dengan pinjaman alias “utang” dari Bank.

Tanggal 9 Maret, mereka menemui seorang notaris untuk membuat akte pendirian usaha PT. JAK yang menerbitkan 16,000 lembar saham @100,000 untuk mewakili “MODAL” awal yang disetorkan sebesar Rp 1,600,000,000 oleh Adrian, Aileen dan Hendro.

Dengan membawa Akte pendirian yang dibuat oleh notaris, di hari yang sama (9-Maret) Adrian yang baru saja ditunjuk menjadi Direktur Utama membuat rekening bank atas nama PT. JAK, kemana ketiga pemegang saham (Adrian, Aileen dan Hendro) akan mentransfer uang sebesar Rp 1,600,000,000, seperti yang tercantum di dalam akte pendirian perusahaan.

Tanggal 20 Maret, PT. JAK berhasil memperoleh pinjaman dari Bank ABC sebesar Rp 400,000,000. Sehingga total kas yang terkumpul di rekening bank PT JAK sudah mencapai Rp 2,000,000,000 seperti yang tercantum di business plan (proposal.)

Jika beberapa hari kemudian anda menjadi pegawai accounting PT. JAK, bagaimana anda menjurnal transaksi-transaksi tersebut?

Pertama, anda mencatat transfer uang masuk dari Adrian, Aileen dan Hendro dengan jurnal:

Tanggal 9-Maret-2012:

[Debit]. Kas Bank = Rp 1,600,000,000
[Kredit]. Modal, 6000 lembar saham @100,000 = Rp 600,000,000
[Kredit]. Modal, 5000 lembar saham @100,000 = Rp 500,000,000
[Kredit]. Modal, 5000 lembar saham @100,000 = Rp 500,000,000

(Note: Untuk penerimaan setoran modal Rp 600 juta dari Adrian, 500 juta dari Aileen dan 500 juta dari Hendro, sekaligus penerbitan 16,000 lembar saham @100,000.)

Berikutnya anda menjurnal kredit yang dicairkan dari Bank ABC sebesar Rp 400 juta dengan jurnal:

[Debit]. Kas Bank = Rp 400,000,000
[Kredit]. Utang – Bank ABC = Rp 400,000,000

Dari sini bisa dilihat bahwa: Pada perusahaan perseoran terbatas (PT), adalah tidak mungkin mengakui pinjaman dari bank sebagai “modal”—meskipun itu diperoleh sebelum perusahaan mulai beroperasi. Seperti saya sebutkan di awal: utang adalah utang, modal adalah modal—dua hal yang samasekali berbeda. Sehingga tidak mungkin ada modal yang bersumber dari pinjaman atau utang. Tidak mungkin ada utang untuk modal.

Bahwa nanti kas yang berasal dari pinjaman bank tersebut digunakan untuk membeli aktiva tetap atau membiayai operasional perusahaan, IYA, tentu saja bisa. Itu artinya sebagian dari aktiva perusahaan memang bersumber dari utang. Tetapi tidak ada modal yang bersumber dari utang.

Bagimana jika utang bank yang Rp 400,000,000 dalam contoh kasus di atas diperoleh sebelum pendirian PT. JAK (tanggal 5 Maret misalnya,) lalu Adrian menyetorkan Rp 1,000,000,000 (=600 juta + 400 juta) sebagai modal? Apakah berarti modal perusahaan yang sebesar Rp 400 juta berasal dari pinjaman atau utang?” Mungkin ada yang berpikir demikian.

Jika demikian, maka itu artinya modal perusahaan memang sebesar Rp 2,000,000,000 (bukan 1,600,000,000 dan TANPA embel-embel utang), sehingga jurnalnya menjadi:

9 Maret 2012:

[Debit]. Kas Bank = Rp 2,000,000,000
[Kredit]. Modal, 10000 lembar saham @100,000 = Rp 1,000,000,000
[Kredit]. Modal, 5000 lembar saham @100,000 = Rp 500,000,000
[Kredit]. Modal, 5000 lembar saham @100,000 = Rp 500,000,000

PT. JAK tidak mengakui adanya utang. Sehingga, tetap saja, pada perusahaan perseroan terbatas (PT), tidak ada modal yang bersumber dari utang, tidak ada utang untuk modal.

Lho, bagaimana dengan Rp 400 juta yang dipinjam oleh Adrian, bukankah itu digunakan sebagai setoran modal usaha?

Betul. Tetapi yang punya utang kan Adrian pribadi, ngapain PT. JAK yang repot mencatatnya. Iya kan?

Jika Aileen yang pinjam misalnya, berarti itu utang pribadinya Aileen. Jika Hendro yang pinjam ya utang pribadinya Hendro.

Bagaimana jika mereka bertiga yang pinjam? Apakah masih bisa disebut utang pribadi mereka?

Pertama, bank tak mungki memberi satu pinjaman atas nama 3 orang debitur sekaligus. Kedua, kita ‘ndablek-ndablekan’ deh, anggaplah bank-nya ijinkan, tetap saja pinjaman itu pinjaman pribadi mereka bertiga. Tidak ada hubungannya dengan PT. JAK. Kecuali pinjaman tersebut atas nama PT. JAK yang diperoleh setelah PT. JAK berdiri, nah itu bisa dianggap utang perusahaan. Berarti modalnya PT. JAK hanya Rp 1, 600,000,000—seperti di jurnal pertama.

Dibikin berputar-putar seperti apapun, di perusahaan yang berbadan hukum PT, tidak ada modal yang bersumber dari utang. Tidak ada utang untuk modal.

Yang tak kalah perlunya untuk dipahami adalah perbedaan karakter utang dengan modal:

  • Utang – Harus dikembalikan pokok plus bunga (baik secara dicicil atau sekaligus) kepada kreditur, terlepas apakah perusahaan untung atau merugi.
  • Modal – Dikembalikan dalam bentuk dividen kepada pemagang saham (investor), bila perusahaan dalam kondisi untung. Jika perusahaan merugi, pemegang saham ikut menanggung kerugian tersebut—dalam artian, uang yang diterima tidak perlu dikembalikan.

 

Ini sangat fundamental untuk diketahui. Ketidakpahaman akan hal ini bisa menjadi sumber kebingungan dan keragu-raguan yang bisa menghantui anda selamanya. Dari perbedaan karakter utang dan modal di atas, jelas terlihat bahwa yang namanya pinjaman (utang) tidak mungkin bisa diakui sebagai modal. Bayangkan jika pinjaman diakui sebagai modal, apa yang akan anda lakukan setiap kali perusahaan membayar cicilan utang? Mudah-mudahan tidak ada lagi berpikir tentang modal usaha yang berasal dari pinjaman. Utang ya utang, modal ya modal.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Mengambil Keputusan Strategis Dengan Pola Perilaku Biaya

Sebagai penutup seri pola perilaku biaya, JAK akan membahas tentang mengambil keputusan strategis dengan menggunakan pola perilaku biaya sebagai bahan

Mau Belajar Akuntansi: Mulai Dari Mana (Bag-1)

Kalau mau belajar akuntansi untuk pertama kalinya, sebaiknya dari mana mulainya? Ini pertanyaan yang lumrah dan sering diajukan, tetapi sungguh

Konsinyasi Dilihat Dari Aspek Bisnis, Akuntansi dan Pajak

Walaupun sering disebut “Penjualan Konsinyasi”, dilihat dari aspek akuntansi dan pajak persoalan konsinyasi sesungguhnya bukan hanya penjualan, melainkan merembet sampai

16 komentar

Silahkan Berkomentar
  1. sudarsono
    sudarsono 8 March, 2012, 06:19

    saya ada pertanyaan suatu ketika terjadi utang kepada pemilik atas nama perusahaan apakah mungkin hal tersebut di jadikan modal perusahaan sewaktu-waktu. dan jika hla tersebut darii utang di pindahkan ke modal bagaimana? apakah rekening utang kepada pemilik rekeningnya di tutup dan modal bertambah atau bagaimana?? lalu jika perusahaan utang kepada pihak lain dan ternyata terjadi kesepakatan antara pemilik dan kreditor bahwa hal tersebut di ambil alih oleh pemilik bagaimana? karena ada kemungkinan hal tersebut bisa terjadi.

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 9 March, 2012, 07:24

      Mas Sudarsono:

      ===saya ada pertanyaan suatu ketika terjadi utang kepada pemilik atas nama perusahaan apakah mungkin hal tersebut di jadikan modal perusahaan sewaktu-waktu.====

      [JAK: Mungkin saja, sepanjang prosedur dijalankan dengan benar. Tetapi sebelum berpikir jauh-jauh, ada baiknya dipastikan terlebih dahulu apakah atas utang tersebut ada bukti "Perjanjian Utang-Piutang"-nya? Apakah arus kas sinkron dengan bukti tersebut (artinya memang ada arus kas masuk yg berasal dari rekening pemilik usaha)? Jika bukti dokumen dan arus kas memang mendukung, berarti utang tersebut sah adanya, dan bisa berpikir tentang follow up-nya. Jika tidak, berarti tidak sah dan tidak bisa difollow up].

      ====dan jika hla tersebut darii utang di pindahkan ke modal bagaimana? apakah rekening utang kepada pemilik rekeningnya di tutup dan modal bertambah atau bagaimana??====

      [JAK: Jika utang tersebut memang sah adanya dan pemilik bermaksud menjadikan piutangnya sebagai setoran modal, prosedurnya:

      Langkah-1. Perusahaan lunasi utang tersebut kepada pemilik (keluarkan kas)
      Langkah-2. Minta notaris membuat revisi akte pendirian perusahaan, dengan mencantumkan tambahan setoran modal yg dimaksud.
      Langkah-3. Pemilik menyetorkan uang pembayaran yang baru saja diterima dari perusahaan ke rekening perusahaan sebagai tambahan setoran modal, seperti yang tertuang di dalam akte perubahan.

      Jika alur dan prosedur ini tidak dilalui dengan benar, maka proses yg anda sebutkan tidak sah].

      ====lalu jika perusahaan utang kepada pihak lain dan ternyata terjadi kesepakatan antara pemilik dan kreditor bahwa hal tersebut di ambil alih oleh pemilik bagaimana? karena ada kemungkinan hal tersebut bisa terjadi.====

      [JAK: Tidak bisa di bypass seperti itu. Yang lebih memungkinkan adalah: pemilik menyetorkan tambahan modal, lalu utang tersebut dibayar. Jika ada kasus seperti itu coba konsultasikan dengan notaris].

      Reply this comment
  2. kim
    kim 10 March, 2012, 01:56

    Terimakasih pak atas penjelasannya… menjadi jelas antara modal usaha yang berasal dari hutang pribadi, pada saat bapak bilang
    “Jika Aileen yang pinjam misalnya, berarti itu utang pribadinya Aileen. Jika Hendro yang pinjam ya utang pribadinya Hendr

    Reply this comment
  3. Fatim
    Fatim 26 March, 2012, 05:06

    Pak/Ibu administrator tolong saya dibantu dong…untuk penjelasan diatas setoran modal dengan uang cash. kalau suatu Perusahaan bikin akte dinotaris Rp.600.000.000 dengan 3 pemegang saham masing – masing sebesar Rp.200.000.000. tapi ternyata itu hanya formalitas saja dan kenyataannya tidak ada setoran dikas maupun di bank! kalau begini gimana jurnalannya? terimakasih,,,,saya tunggu balasannya

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 26 March, 2012, 13:38

      @Mas Fatim:

      Praktek seperti ini memang banyak terjadi. Yang jelas, notaris tidak akan mengeluarkan akte final dan pengesahan pendirian perusahaan dari Menkumham, hingga pemegang saham atau perusahaan menunjukan “bukti setor modal” (biasanya slip bank). Jika ternyata kas tidak ada, itu biasanay terjadi karena pendiri perusahaan (pemegang saham) mengakalinya dengan cara “setor-tarik”.

      Misalnya: Pemegang saham/pendiri perusahaan punya uang hanya 200 juta. Untuk memenuhi target angka modal 600 juta, maka si pendiri perusahaan menyetorkan uangnya yang 200 juta tersebut ke rekening perusahaan yg baru didirikan, lalu dapat slip setoran. Habis itu ditarik lagi, lalu masukan lagi, nah dapat slip setoran yang ke-2 sebesar 200 juta lagi, Begitu terus sampai total slip setoran menjadi 600 juta. Nah, parahnya notaris hanya perlu melihat slip bukti setoran (tidak memeriksa rekening perusahaan).

      Itu artinya, jika ditelusuri dari pertamakali rekening bank dibuka, pasti anda menemukan mutasi “setor-tarik” yang saya sebutkan di atas. Jika sudah ketemu, tetap akui setoran modalnya sebesar yang tertera di akte notaris (terlepas itu jujur atau hasil akal-akalan). Jikapun kenyataan kas tidak ada, maka total setoran dikurangi pengeluaran-pengeluaran dan dikurangi saldo akhir kas di bank, itu diakui sebagai “Piutang kepada diri pribadi pemegang saham”. Dengan kata lain, para pemegang saham utang kepada perusahaan yang suatu saat nanti harus dikembalikan ke kas perusahaan.

      Reply this comment
  4. Fatim
    Fatim 27 March, 2012, 04:02

    baik saya mengerti, tapi kenyataannya 1 diantara ke 3 pemegang saham tersebut tidak mau dimasukkan dalam piutang ( karena beberapa bulan kemudian pemegang saham itu keluar dari akte notaris), apa bisa pengeluaran yg selama ini dari pemegang saham itu dialihkan ke hutang? trus gimana dong njurnalnya.trimakasih atas balasannya .

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 28 March, 2012, 06:15

      @Fatim:

      Jika orangnya mau, bisa. Jurnalnya penyesuaian/koreksinya:

      [Debit]. Piutang – Mr. X (Nama pemegang saham yang keluar tsb)
      [Credit]. Beban/Biaya atau Laba ditahan (tergantung apakah transaksi terjadi sebelum atau setelah tutup buku.

      Reply this comment
  5. Fatim
    Fatim 30 March, 2012, 10:30

    1. gimana dengan perusahaan lain yg baca neraca kita , jika tidak ada
    modalnya, apa meraka akan percaya jika kita ikut tender?
    2. apa nanti ada sisi negatifnya dengan laporan pajak
    3 kalau ada kasih tau dong solusinya

    Terima kasih sebelumnya atas jawabannya

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 4 April, 2012, 06:31

      Mas @Fatim:

      Tidak mungkin ada perusahaan (apalagi CV atau PT) yang tidak ada modalnya. Jika tidak, noatris tidak akan mau mengesahkan akte pendiriannya. Yang ada biasanya: besaran modal lebih kecil dibandingkan utang-nya, sehingga jelas terlihat bahwa operasional perusahaan sebagian besar didanai dari utang.

      Pembiayaan operasional yang bersumber dari utang, tak ada masalah dari aspek pajaknya. Hanya saja, jika transaksi utangnya mengandung obyek pajak, tentu akan ada pajaknya.

      Untuk solusi, kelihatannya @Fatim mesti pastikan dahulu (lacak, telusuri, tanyakan ke pemilik/pemegang saham, dst) mengenai keberadaan modal yang dcantumkan di dalam akte pendirian perusahaan. Yang paling gampang dilakukan: hubungi notaris yang menerbitkan akte, tanyakan: apakah saat perusahaan pendirinya sudah setor modal? Dari sana anda akan dapat informasi yang bisa ditindaklanjuti lagi.

      Mudah-mudahan masalahnya cepat clear ya.

      Reply this comment
  6. Dani
    Dani 2 April, 2012, 16:09

    Saya punya bbrp pertanyaan, (sesuai artikel diatas) jika seluruh jumlah kas/aktiva (yang tadinya saya sebut modal) berasal dari hutang :
    1. Bagaimana saya bisa mendirikan perusahaan (PT)? sementara notaris membutuhkan bukti setor bank. dan kalau saya medapatkan hutang tersebut sebelum PT terbentuk, maka itu dianggap sbg hutang pribadi saya. sementara saya mau hutang tsb tercatat pada pembukuan PT tsb.
    2. kalau seluruh kas dapat dari hutang, artinya sampai kapanpun pos modal pada ledger akan selalu “nol” ?
    mohon pencerahannya.. tks

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 4 April, 2012, 07:56

      @Dani:

      Pertanyaan pertama: Logika anda masuk. Tapi perlu tahu praktek bagaimana proses pendirian perusahaan dilakukan di notaris. Okelah, di JAK bisa belajar apa saja, termasuk hal-hal yang hanya diketahui oleh orang yang sungguh-sungguh mengalaminya (bukan teorist) :D

      Mekanismenya bervariasi menjadi 2 (masing-masing notaris punya policy yang berbeda):

      [-]. Ada notaris yang hanya mau menandatangani akte resmi (bukan draft) setelah pendiri perusahaan menunjukan bukti setoran modal).

      [-]. Ada notaris yang mau menandatangani akte resmi, tetapi pengesahan perusahaan dari kemenkumham tidak akan keluar jika tidak disertai bukti setoran modal.

      Pada dasarnya betul: tidak bisa mendirikan perusahaan jika tidak menyetorkan modal. Baca undang-undang PT.

      Pertanyaan kedua: tidak ada perusahaan yang modalnya nol. Setoran modal itu bisa berupa aset, uang tunai, persediaan, bahkan hak sewa.

      Reply this comment
  7. shenna
    shenna 26 June, 2012, 02:05

    waahh.. trimakasih pencerahannya, kebetulan saya sedang menghadapi permasalahan seperti diatas. Sukses terus yahh ^_^

    Reply this comment
  8. Igit
    Igit 18 February, 2013, 04:35

    Mas, mau tanya donk….

    Ada contoh kasus seperti ini…

    Pd tgl 5 Jan 2013 Tn. Andri meminjam uang ke bank BJB sebesar Rp20.000.000,- untuk digunakan sebagai modal usaha Pabrik Roti “Sari”.
    Bagaimana jurnal yang harus di buat pada pembukuan Pabrik Roti “Sari”

    Terima kasih.

    nb:jawabannya kirim ke email saya aja ya mas

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*