Belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak, tak harus tegang.


Lebih penting lagi, tak harus bayar. Jika bermanfaat, dishare saja


Apa sih itu Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain, Mengapa Diperlukan?

Apa sih itu Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain, Mengapa Diperlukan?

Istilah “Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain” maupun “Pendapatan Komperhensif” tergolong baru di dunia akuntansi. Di Amerika Serikat—dimana istilah ini di pakai pertamakali—baru nongol di tahun 1980-an. Dan baru bersifat mandatory (wajib disampaikan) di tahun 1998. Nah apa sih itu “Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif” dan “Pendapatan Komperhensif”? Mengapa diperlukan? Melalui tulisan ini saya ingin melakukan tinjauan sederhana, sekedar memperkenalkan—sebelum nantinya saya bahas secara mendalam.

Seperti kata pepatah “Tak kenal maka tak sayang”. Untuk pendapatan komprehensif lain (other comprehensive income), “tak kenal konsep dasarnya, maka tak akan pernah paham apa itu comprehensive income”, apalagi perlakuannya. Baca PSAK-pun akan percuma.

 

Apa sih itu Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain?

Saya yakin kawan-kawan di IAI—terutama team yang menyusun “PSAK 1 (revisi 2009): Penyajian Laporan Keuangan,” paham betul konsep “akumulasi laba-rugi komperhensif lain” maupun laporan pendapatan komperhensif lain.” Jika tidak, mana mungkin bisa melakukan adopsi. Melalui PSAK tersebut, jika saya tidak keliru, perusahaan-perusahaan diwajibkan untuk menerapkan sejak tahun buku 2011 kemarin. Oleh sebab itu, bagi kawan-kawan yang memerlukan silahkan menghubungi IAI atau berdiskusi dengan mereka (jika memungkinkan.)

Saya pribadi yang lebih sering menggunakan literature luar—terutama U.S. GAAP Codification (standar akuntansi hasil rombakan FASB terkini, sebagai ancang-ancang jika komunitas pengusaha di AS menolak konvergensi IFRS)—bisa dibilang sudah lumayan lama lah kenal istilah “Accumulated Other Comprehensive Income.” Meskipun belum bisa disebut mahir, sedikit-banyakanya saya pahamlah konsep dibalik kemunculan istilah ini. Dengan memahami latarbelakang, tentunya saya berharap bisa memahami dan melaksanakannya dalam tataran aplikasi di lapangan, jika diperlukan.

Di tulisan ini, saya akan membahas “Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain” atau “Accumulated Other Comprehensive Income” menurut versi pemahaman saya pribadi.

Bagi kawan-kawan yang sudah lama menangani perusahaan cabang yang berinduk di AS sana atau sebaliknya, baik itu sebagai pegawai accounting atau bertindak selaku auditor independent, pastinya sudah cukup sering menemukan Neraca yang mengandung bagian khusus di ujung bawahnya. Tepatnya di bagian “Ekuitas Pemilik”.

Di bawah akun “Tambahan Modal Disetor” (Additional Capital Paid-in) dan “Laba Ditahan” (Retained Earning), ada semacam sisipan kelompok akun yang diberi nama “Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain” yang di neraca-neraca perusahaan di Amrik sana disebut dengan “Accumulated Other Comprehensive Income.”

Contoh formatnya seperti di bawah ini:

Contoh Format Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain

Jangan salah paham. Meskipun namanya “comprehensive income” atau pendapatan komperhensif, pada kenyataanya akumulasi laba-rugi komperhensif lain ini samasekali BUKAN PENDAPATAN.

Sisipan kelompok akun ini tiada lain adalah sekelompok akun bagian dari kelompok “akuitas pemilik” di Neraca yang menunjukan ikhtisar atau laporan ringkas mengenai efek dari laba-rugi terkait dengan aktivitas pasar modal yang di BY-PASS langsung ke Neraca tanpa melalui Laporan Laba-Rugi yang biasanya. Dengan kata lain, kelompok akun sisipan ini adalah KOREKSI LANGSUNG (direct adjustment) terhadap nilai ekuitas di Neraca.

Jika kita perhatikan contoh penggalan Neraca di atas—yang saya beri warna hijau adalah sisipan yang saya maksudkan. Sebelum akhirnya dipergunakan secara resmi, akun-akun di kelompok ini sempat melalui perdebatan panjang sejak tahun 1980-an. Menjadi pro-dan-kontra, karena konsepnya yang masih dianggap kontroversial oleh publik—terutama komunitas pelaku usaha.

Diantara semua akun di kelompok ini yang paling banyak mengalami pro-dan-kontra adalah yang dua berikut ini:

  • Fluktuasi nilai pasar atas beberapa instrument sekuritas investasi—yang di tampung dalam kelompok akun yang disebut “Laba-rugi Tak Terealisasi dari Sekuritas-tersedia-Untuk-Dijual”; dan
  • Perubahan nilai aktiva (asset) dan kewajiban yang berada di perusahaan cabang (subsidiaries) asing yang disebabkan oleh perubahan nilai tukar mata uang asing—yang ditampung dalam akun yang diberi nama “Penyesuaian Translasi Mata Uang Asing.”

Para pelaku usaha keberatan untuk menyertakan kelompok akun ini ke dalam Laporan Laba-Rugi biasanya, karena menurut mereka, Laporan Laba-Rugi menjadi berjejal-jejal, sulit dipahami karena bercampur-aduk dengan laporan-laporan terkait dengan aktivitas pasar modal—bukan aktivitas utama perusahaan. Hal itu dianggap menganggu tujuan utama Laporan itu sendiri yang SEHARUSNYA fokus untuk melaporkan laba-rugi atas aktivitas perusahaan terkait dengan produk/jasa yang mereka jual di PASAR BARANG/JASA (bukan pasar modal).

Alasan ini cukup masuk akal. Pada perusahaan-perusahaan yang tidak melakukan aktivitas pasar modal dan tidak memiliki transaksi yang melibatkan mata uang asing, jelas kelompok akun-akun ini TIDAK RELEVAN. Bahkan tidak ada gunanya sama-sekali. Hanya bikin bingung.

TETAPI, bagi perusahaan-perusahaan yang aktif di pasar modal dan banyak melakukan transaksi dalam mata uang asing, pengaruh aktivitas terkait dengan kedua akun tersebut sangat nyata bagi nilai ekuitas pemilik.

Nah, TITIK KOMPROMI untuk menampung kedua aspirasi yang bertentangan tersebut adalah dengan menyajikan penambahan (sisipan) kelompok “Akumulasi Laba-rugi Komperhensif Lain” atau “Accumulated Other Comprehensive Income” di bagian ekuitas pemilik pada Neraca.

Ada dua point penting yang perlu diingat terkait dengan sisipan ini, yaitu:

  • Kelompok “Akumulasi Laba-rugi Komperhensif Lain” berada di luar perhitungan “Laba/Rugi Bersih” pada laporan laba-rugi biasanya.
  • Kelompok “Akumulasi Laba-rugi Komperhensif Lain” samasekali bukan kelompok pendapatan atau kerugian operasional, melainkan kelompok ekuitas yang menampung segala efek yang timbul pada ekuitas dan kewaijab akibat naik-turunnya nilai aktiva dan kewajiban yang dilaporkan pada periode yang sama.

Selanjutnya kita bahas sedikit mengenai akun “Penyesuaian Translasi Mata Uang Asing” dan akun “Laba-tugi Tak Terealiasi dari ‘Sekuritas-tersedia-untuk-dijual’”.

 

Penyesuaian Translasi Mata Uang Asing

Penyesuaian translasi mata uang asing timbul dari perubahan nilai ekuitas perusahaan cabang di luar negeri sana (yang menggunakan mata uang asing lalu diterjemahkan ke mata uang Rupiah). Misalnya: PT. JAK punya perusahaan cabang di Malaysia—yang pembukuannya sudah pasti menggunakan mata uang Ringgit Malaysia (RM). Nah jika suatu saat nilai tukar RM terhadap IDR relatif melemah, maka nilai akuitas perusahaan cabang di Malaysia pada laporan keuangan perusahaan induk di Indonesia akan menurun (saat dilaporkan dalam IDR di Indonesia).

Sebelum “Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain” ini diadopsi secara luas, termasuk di Indonesia, laba-rugi karena selisih nilai tukar mata uang asing biasanya ditampung di akun “Pendapatan lain-lain” dalam saldo positif jika laba atau negative jika rugi.

Sesuai dengan PSAK 1 (revisi 2009) yang telah mengadopsi IFRS, jika perusahaan anda memiliki aktivitas yang menimbulkan laba/rugi translasi mata uang asing, sejak tahun buku 2011 yang lalu anda bisa melakukan koreksi langsung di neraca—tanpa melalui Laporan Laba Rugi.

Apakah jurnalnya jadi berubah?

Misalnya, nilai aktiva tetap menurun karena pengaruh nilai tukar. Sebelum 2011 jurnalnya jurnalnya:

[Debit]. Laba/Rugi selisih kurs = Rp 1,500,000
[Kredit]. Aktiva Tetap = Rp 1,500,000

Dimana akun “Laba/Rugi Selisih Kurs” dimasukan ke kelompok Laba-Rugi. Sejak 2011 kemarin, JURNALNYA TETAP seperti itu, TETAPI akun Laba/Rugi Selisih Kurs dimasukan ke kelompok neraca tepatnya di ekuitas pemilik.

 

Laba-tugi Tak Terealiasi dari ‘Sekuritas-tersedia-untuk-dijual’

Secara sederhana, ‘Sekuritas-tersedia-untuk-dijual’ adalah sekuritas atau surat berharga yang dibeli oleh perusahaan dengan maksud untuk TIDAK SEGERA DIJUAL, tetapi tidak berarti juga akan dipegang selamanya.

Fluktuasi nilai atas sekuritas tersebut, sudah pasti akan menimbulkan laba-rugi yang pastinya mempengaruhi nilai ekuitas pemilik (meskipun tidak ada hubungannya dengan operasional perusahaan). Nasibnya tak jauh berbeda dengan translasi mata uang asing—dianggap membingungkan jika disertakan dalam perhitungan laba-rugi normal. Untuk itu maka oleh pengatur standar, perushaan dibolehkan untuk melakukan koreksi langsung pada kelompok ekuitas—TANPA MELALUI LAPORAN LABA-RUGI.

 

Sedikit Mengenai Laporan Laba-Rugi Komperhensif

Karena aktivitas-aktivitas di luar operasional normal kian-waktu-kian berkembang, ragamnya makin banyak, maka per 31 Desember 1998 perusahaan-perusahaan go-public di AS sana diwajibkan untuk menyajikan rincian lebih detail mengenai aktivitas-aktivitas tersebut agar para pemegang saham (dan pihak lain yang berkepentingan) paham betul darimana datang-nya angka-angka tersebut.

Rincian lebih detailnya kemudian dituangkan di dalam satu lembar laporan khusus yang disebut dengan “Laporan Laba-Rugi Komperhensif” atau “Laporan Pendapatan Komperhensif” saja. Di AS sana disebut dengan “Statement of Comprehensive Income”.

Contoh formatnya seperti di bawah ini:

Contoh Laporan Laba-Rugi Komperhensif

 

Seperti terlihat dalam contoh, “Laporan Laba-Rugi Komperhensif” mengikutsertakan akun “Pendapatan Bersih” (Net Income)—yang berasal dari “Laporan Laba-Rugi’ tahun berjalan—di ujung atas.

Penggunaan “Laporan Laba-Rugi Komperhensif” ini bisa dibilang cukup ampuh untuk mengatasi polemik selama ini—yang di satu sisinya bisa tetap melaporkan laba/rugi terkait dengan PASAR MODAL (atau aktivitas diluar operasional utama perusahaan) tanpa menganggu “Laporan Laba-Rugi” yang biasanya.

Bayangkan jika pada suatu periode perusahaan sesungguhnya membukukan laba bersih operasional sebebesar Rp 150 milyar, tetapi karena ada selisih kurs atau menurunnya nilai-nilai surat berharga yang dibeli hingga 200 milyar, maka laporan laba-rugi jadi menunjukan rugi 50 milyar. Hal itu akan membuat perusahaan terkesan beroperasi secara tidak efisien, manajemen terkesan tidak mampu menjalankan perusahaan dengan baik, padahal kerugian sesungguhnya lebih banyak terjadi akibat keadaan eksternal (pasar saham dan pasar uang) yang samasekali diluar kendali manajemen.

Tentunya, dalam situasi seperti ini manajemen tidak bisa cuci tangan begitu saja—hanya karena adanya “Laporan Laba-rugi Komperhensif”. Bagaimanapun juga manajemen yang prudent MESTINYA mampu mengantipiasi kondisi buruk nilai tukar mata uang, termasuk kemungkinan menurunnya nilai surat berharga yang mereka beli.

 

Bagaimana Pengaruh “Laba-Rugi Komprehensif” Bagi Perpajakan?

Di PSAK jelas disebutkan beberapa item yang diikutsertakan dalam “Laporan Laba-Rugi Komperhensif Lain” antara lain:

  • Perubahan surplus revaluasi aset tetap dan aset takberwujud (PSAK 16 & 19) – Jika menggunakan model revaluasi. Jika surplus, masuk ke Pendapatan Komprehensif Lain, jika setelah surplus ada kerugian maka kerugian masuk ke P&L setelah digunakan untuk membuat surplus menjadi nol.
  • Laba/Rugi aktuarial program manfaat pasti (PSAK 24), diberlakukan per tahun buku 2012.
  • Laba/Rugi penjabaran Laba-Rugi Komperhensif entitas asing (PSAK 10) – Hal ini berlaku jika memiliki cabang di luar negeri dan harus dikonsolidasi.
  • Laba/Rugi pengukuran kembali aset keuangan kategori tersedia untuk dijual (PSAK 55)
  • Bagian efektif laba/rugi instrumen lindung nilai dalam rangka lindung nilai arus kas (PSAK 55 )
  • Bagian pendapatan komprehensif lain dari entitas asosiasi – Dicatat menggunakan metode ekuitas, misalnya jika entitas anak punya “other komperhensif income,” induk investasi 40%, maka induk mendapat bagian “other comprehensive income” sebesar 40% juga.

Sampai saat ini saya belum tahu bagaimana response Ditjen Pajak terkait dengan PSAK 1 revisi 2009 ini. Yang jelas penerapan PSAK ini akan mem-BY-PASS-kan beberapa item yang dahulunya bisa mempengaruhi Laba/Rugi kena pajak perusahaan (badan). Mestinya sih tidak ada keberatan ya. Bagimanapun juga toh laba/rugi kelompok ini bisa dibilang tidak bersifat INCREMENTAL.

Seperti saya sampaikan diawal, tinjuan ini saya buat dengan pemahaman saya yang sangat terbatas. Untuk itu, sekiranya ada masukan atau koreksi dari kawan-kawan, JAK sangat berterimakasih karena hal itu akan membantu kawan-kawan yang lain.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Akuntan Publik dan KAP: 10 Hal Yang Perlu Diketahui

Ingin jadi Akuntan Publik? Atau ingin bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP)? Atau malah ingin mendirikan KAP sendiri? Jika IYA,

Cara Membuat Laporan Arus Kas (Cash Flow Statement) Part 1

Apakah membuat laporan arus kas (cash flow statement) tergolong pekerjaan sulit atau mudah? Tergantung. Bagi yang sudah terbiasa tentu mudah.

Empat Pola Perilaku Biaya Beserta Contoh Terapannya

Di “Perilaku Biaya Bagian Pertama” JAK sudah perkenalkan definisi perilaku biaya, pentingnya memahami perilaku biaya untuk mengelola biaya, aktivitas usaha,

  1. Slamet Suryadi
    Slamet Suryadi 16 February, 2012, 05:11

    Thanks Pak atas penjelasannya, cukup jelas.
    Saya adalah praktisi akuntansi di perusahaan Jepang yang sedang mau menerapkan IFRS. Penjelasannya dari artikel Bapak sangat membantu pemahaman apa itu ‘other comprehensive income’

    Kalau laba rugi kurs atas revaluasi ‘post employment benefit’ apakah harus dimasukkan dalam ‘other comprehensive income’ atau tidak?.

    Terima kasih.

    Reply this comment
  2. Young
    Young 21 February, 2012, 15:22

    Artikel bagus ! :)

    Keep posting pak :D

    Reply this comment
  3. wperdana
    wperdana 30 January, 2013, 19:06

    Penyesuaian Translasi Mata Uang Asing

    -Sebelum “Akumulasi Laba-Rugi Komperhensif Lain” ini diadopsi secara luas, termasuk di Indonesia, laba-rugi karena selisih nilai tukar mata uang asing biasanya ditampung di akun “Pendapatan lain-lain” dalam saldo positif jika laba atau negative jika rugi.-

    Bukan “penyesuaian translasi mata uang asing” yang merupakan Other Comprehensive Income, tetapi “Selisih Kurs karena penjabaran laporan keuangan dalam mata uang asing”
    Contohnya adalah, Cabang PT JAK yang ada di Malaysia, menggunakan pembukuan RM. Pada saat buku Cabang dan PT Jak di combine, maka ada perbedaan mata uang pelaporan, karna PT JAK memakai IDR, Cabang memakai RM. Technical process nya adalah, Aset dan Liabilitas cabang akan di translasi ke IDR dengan menggunakan Rate ending, sedangkan laba rugi di translasi ke IDR dengan menggunakan Rate rata-rata. Sehingga Neraca tidak akan balance. Selisih supaya balance tsb dicatat di equity.

    Sebelum PSAK 10 revisi terbaru keluar, perlakuan atas transaksi tersebut juga langsung ke equity, bukan laba rugi. Perbedaan nya adalah, dengan PSAK 1 revisi terbaru, pos tersebut muncul ke other comprehensive income, sedangkan PSAK 1 sebelumnya tidak mengenal adanya other comprehensive income.

    CMIIW

    Reply this comment
  4. Muh. Ulin Nuha
    Muh. Ulin Nuha 1 February, 2013, 09:23

    terima kasih pak, cukup mencerahkan artikel Bapak…semoga dapat bermanfaat bagi yang lain juga..

    Reply this comment
  5. Bernas
    Bernas 12 March, 2014, 08:06

    Terima kasih Pak, sangat membantu Pak..:D

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*