Jurnal Akuntansi Keuangan

Jurnal Penghapusan dan Koreksi Cadangan Piutang Tak Tertagih

Jurnal Penghapusan dan Koreksi Cadangan Piutang Tak Tertagih

Di tulisan sebelumnya saya sudah bahas mengenai pencadangan piutang tak tertagih (Bad Debt), dengan menggunakan metode persentase dan analisa umur piutang. Keduanya masih berupa estimasi alias perkiraan yang belum sungguh-sungguh terjadi. Namun karena mandat prinsip kesesuaian (matching principle)—dimana pengakuan biaya harus dilakukan di periode yang sama dengan proses pembentukan piutangnya (melalui penjualan), maka metode pendangan digunakan.

Pertanyaan: apa yang harus dilakukan bila ternyata dikemudian hari ‘piutang tak tertagih’ sungguh-sungguh terjadi namun angkanya jauh lebih kecil dibandingkan saldo cadangan, atau malah tidak terjadi samasekali? Itulah yang akan saya bahas melalui tulisan ini.

 

 

Jurnal Pembentukan Cadangan Piutang Tak Tertagih

Akun ‘Cadangan piutang Tak Tertagih’ bisa dilihat di Neraca perusahaan. Persisnya di bawah akun ‘Piutang Dagang’, berupa saldo bernilai negatif (bisa juga disebut kontra akun piutang dagang).

Misalnya:

Untuk tahun 2012 PT. JAK mencadangkan Piutang Tak Tertagih sebesar 6.2% atas saldo Piutang Dagang yang sebesar Rp 251,700,000 di penutupan buku 2011. Sehingga tanggal 5 Januari 2011, pegawai accounting PT. JAK memasukan jurnal sebagai berikut:

[Debit]. Biaya Piutang Tak Tertagih = Rp 15,700,000

[Kredit]. Cadangan Piutang Tak Tertagih 2012 = Rp 15,700,000

(6.2% x 251,700,000 = Rp 15,700,000)

Setelah jurnal dimasukan, maka neraca PT. JAK per tanggal 6 Januari 2011 kurang lebih akan nampak seperti di bawah ini:

Penghapusan Cadangan Piutang Tak Tertagih

Jurnal Penghapusan Piutang Yang Tak Tertagih

Katakanlah tanggal 25 Maret 2012, PT, ABC (salah satu pelanggan PT. JAK) dinyatakan pailit oleh pemerintah, sehingga tagihan PT. JAK sebesar Rp 4,000,000 tidak bisa ditagih. Kejadian ini akan membuat Atas persetujuan pimpinan, pegawai accounting PT. JAK mengakui penghapusan piutang dagang yang tak tak tertagih dengan jurnal:

[Debit]. Cadangan Piutang Tak Tertagih = Rp 4,000,000

[Kredit]. Putang Dagang – PT. ABC = Rp 4,000,000

 

Setelah dimasukannya jurnal ini, maka saldo cadangan piutang tak tertagih akan berkurang Rp 5,000,000, sehingga saldo cadangan piutang tak tertagih tinggal Rp 11,700,000 (=15,700,000 – 4,000,000).

Kemudian tanggal 15 Juni 2012, manajemen PT. JAK memutuskan untuk menghapuskan piutang dagang terhadap Mr. X sebesar Rp 2,500,0000 yang sudah beberapa bulan ditagih tetapi tidak berhasil. Terakhir Mr. X pindah alamat dan tidak bisa dihubungi lagi. Dengan persetujuan pimpinan, pegawai accounting PT. JAK memasukan jurnal sebagai berikut:

[Debit]. Cadangan Piutang Tak Tertagih = Rp 2,500,000

[Kredit]. Piutang Dagang – Mr. X = Rp 2,500,000

 

Setelah dimasukannya jurnal ini, maka saldo cadangan piutang tak tertagih tinggal Rp 9,200,000 (=11,700,000 – 2,500,000).

 

Jurnal Koreksi Cadangan Piutang Tak Tertagih

Selanjutnya, katakanlah hingga akhir tahun buku 2012, total piutang yang sungguh-sungguh tak tertagih hanya Rp 6,500,000 saja (dari Rp 15,700,000 yang dicadangkan)—sehingga di penutupan buku tahun 2012 masih ada saldo cadangan piutang tak tertagih sebesar Rp 9,200,000. Lalu, apa yang harus dilakukan terhadap saldo ini?

Selisihnya dibuatkan jurnal koreksi sebagai berikut:

[Debit]. Cadangan Piutang Tak Tertagih = Rp 9,200,000

[Kredit]. Biaya Piutang Tak Tertagih = 9,200,000

 

Dengan dimasukannya jurnal koreksi ini, maka:

  • Saldo akun Cadangan Piutang Tak Tertagih menjadi 0 (nol); dan
  • Saldo akun Biaya Piutang Tak Tertagih berkurang, dari yang semula diperkirakan sebesar Rp 11,700,000 menjadi Rp 6,500,000 saja (sesuai kenyataan).

 

 

Pembentukan Cadangan Piutang Tak Tertagih Di Tahun Berikutnya

Lalu apa yang harus dilakukan untuk tahun 2013? Melihat pengalaman di tahun 2012, manajemen perusahaan dapat mempertimbangkan untuk menurunkan cadangan piutang tak tertagihnya menjadi 2.6% saja (= (6,500,000/251,700,000) x 100%). Katakanlah saldo Piutang Dagang PT. JAK di awal 2013 adalah Rp 200,000,000, sehingga di awall 2013 pegawai accounting PT. JAK membuat jurnal pencadangan piutang sbb:

[Debit]. Biaya Piutang Tak Tertagih = Rp 5,164,879

[Kredit]. Cadangan Piutang Tak Tertagih = Rp 5,164,879

(2.6% x Rp 200,000,000 = Rp 5,164,879)

 

Pertanyaan selanjutnya: Apa yang harus dilakukan jika piutang dagang yang sudah terlanjur dihapus, ternyata berhasil ditagih setelah pengahapusan? Misalnya: Mr. X yang sempat tidak bisa dihubungi (dikabarkan sudah kabur ke luar negeri), ternyata kembali lagi ke Indonesia, dan dia membayar utangnya Rp 2,500,000 yang sudah terlanjur dihapuskan. Apa yang harus dilakukan? Akan saya bahas di tulisan berikutnya.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Perlakuan Akuntansi Piutang Tak Tertagih

Usaha tidak selalu berjalan mulus. Ada saatnya dimana perusahaan memiliki piutang tak tertagih (biasa disebut bad debt). Misalnya: Pelanggan pailit

Siklus Pendapatan (Penjualan) dan Utang (Pembelian)

Akuntansi, pada dasarnya adalah rangkaian proses berbagai aktivitas keuangan dan bisnis yang disebut dengan “Siklus Akuntansi (Accounting Cycle)”—yang terdiri dari:

Jurnal Pembetulan Untuk Kesalahan Di Periode Yang Berbeda

Jurnal pembetulan (koreksi) untuk kesalahan yang diketahui di periode yang sama sudah saya bahas sebelumnya. Di tulisan ini saya akan

  1. Wawa
    Wawa 8 January, 2012, 10:09

    Lumayan informasi ya :)
    Membantu untuk belajar

    Reply this comment
  2. jessy
    jessy 16 February, 2012, 06:13

    saya masih bingung dengan penghapusan piutang tak tertagih

    pada buku lain dijelaskan bahwa jurnal penghapusan piutang tak tertagih:
    (Dr.) Beban piutang tak tertagih…………… xxx
    (Cr.) Piutang Usaha ………………………….xxx

    mohon dijelaskan
    trima kasih
    :)

    Reply this comment
    • jan sen
      jan sen 29 October, 2013, 04:44

      Jurnal tersebut digunakan untuk menghapus piutang tak tertagih kalau sebelumnya tidak dibuatkan cadangan kerugian piutang tak tertagih. jadi biaya piutang tak tertagih langsung mengurangi piutang usaha.

      Kalau sebelumnya telah dibuat akun cadangan piutang tak tertagih, maka biaya piutang tak tertagih yang timbul kemudian hari akan mengurangi cadangan yang telah dibuat sebelumnya.

      Reply this comment
  3. Susanti
    Susanti 20 February, 2012, 14:51

    Dear Pak Admin,
    Bagaimana caranya agar cepat menguasai akuntansi? saya belum pernah belajar akuntansi sebelumnya. Terima kasih

    Reply this comment
  4. lidya
    lidya 21 February, 2012, 03:04

    berarti kalo udah dicadangkan tapi kemudian bisa dibayar akunnya

    debit : piutang mr-X 2.500.000
    kredit: cadangan piutang 2.500.000

    debit : kas 2.500.000
    kredit: piutang Mr.X 2.500.000

    bener ndak pak?

    Reply this comment
  5. latif
    latif 24 August, 2012, 08:46

    Mohon penjelasan @Lidya.. untuk jurnal yang pertama:

    [D] Piutang Mr X 2.500
    [K] Cadangan Piutang 2.500

    ini kan berarti memunculkan Piutang Mr X kembali dan
    memunculkan Cadangan Piutang, trus jurnal kedua:

    [D] Kas 2.500
    [K] Piutang Mr X 2.500

    ini pelunasan piutang Mr X,, lalu yg jadi pertanyaan akun Cadangan Piutang masih timbul dong? bukankah seharusnya yg berkurang akun Biaya Piutang Tak Tertagih? Kalo jurnal yg pertama gini gmn:

    [D] Piutang Mr X 2.500
    [K] Biaya Piutang TT 2.500

    Mohon penjelasannya… Mksih…

    Reply this comment
    • jan sen
      jan sen 29 October, 2013, 05:12

      Mohon penjelasan @Lidya.. untuk jurnal yang pertama:

      [D] Piutang Mr X 2.500
      [K] Cadangan Piutang 2.500

      ini kan berarti memunculkan Piutang Mr X kembali
      (betul: karena sebelumnya telah dihapus, maka perlu dimunculkan kembali)
      dan
      memunculkan Cadangan Piutang
      (betul: karena Perusahaan menggunakan kebijakan pembentukan cadangan piutang tak tertagih)
      , trus jurnal kedua:
      [D] Kas 2.500
      [K] Piutang Mr X 2.500

      ini pelunasan piutang Mr X,, lalu yg jadi pertanyaan akun Cadangan Piutang masih timbul dong? bukankah seharusnya yg berkurang akun Biaya Piutang Tak Tertagih? Kalo jurnal yg pertama gini gmn:

      [D] Piutang Mr X 2.500
      [K] Biaya Piutang TT 2.500

      Mohon penjelasannya… Mksih…
      (Jurnal tersebut digunakan untuk menghapus piutang tak tertagih kalau sebelumnya tidak dibuatkan cadangan kerugian piutang tak tertagih. jadi biaya piutang tak tertagih langsung mengurangi piutang usaha.
      Karena kebijakan perusahaan menerapkan cadangan atas piutang tak tertagih, maka harus konsisten dalam penerapannya.

      Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*