Belajar Akuntansi, Keuangan atau Pajak? Tak harus tegang! Santai saja...


Dan, tak perlu bayar. Jika bermanfaat cukup dishare


Bagaimana Mencatat Pengeluaran Sebelum Perusahaan Beroperasi?

Bagaimana Mencatat Pengeluaran Sebelum Perusahaan Beroperasi?

Ini sudah menjadi persoalan jamak bagi teman-teman di accounting yang kebetulan menangani perusahaan-perusahaan yang menjelang atau baru akan beroperasi: bingung mengenai bagaimana caranya mencatat pengeluaran-pengeluaran sebelum perusahaan beroperasi.

Pengeluaran-pengeluaran sebelum perusahaan beroperasi kerap terjadi. Mulai dari pengeluaran-pengeluaran untuk urusan riset pasar, bayar konsultan, mencari lokasi usaha, perjanjian-perjanjian, akte notaris, pembukaan rekening, hingga mengurus perijinanan.

Memang tidak banyak orang yang sungguh-sungguh paham mengenai hal ini. Bahkan konsultan sering memberi advise yang terkesan menggampangkan—hanya karena tidak mau pusing. Saya selalu suka ide penyederhanaan—mempermudah dan mempersingkat, dan sejnisnya. Siapa yang tidak suka dengan sesuatu yang mudah, cepat, dan efektif?

Hanya saja, tidak semua hal bisa disederhanakan, apalagi penyederhanaan yang hanya bersifat solusi sesaat—namun berbuntut pusing di kemudian hari. Bayangkan jika prosedur operasi (bedah) otak dari yang seharusnya 25 disederhanakan menjadi 15 langkah. Atau, prosedur merakit bomb dari yang seharusnya 30 disederhanakan menjadi 5 langkah saja. Apakah itu bagus?

Prosedur akuntansi tentu tidak serumit bedah otak, juga tidak seseram merakit bomb. Tetapi ada hal-hal yang jika disederhanakan bisa berbuntut ledakan masalah dikemudian hari yang efeknya mungkin tidak kalah dahsyat dengan bomb—terutama hal-hal yang ada kaitannya dengan ‘hak-dan-kewajiban’, terlebih-lebih masalah uang, masalah bisnis. Buntutnya bisa masuk bui atau bayar ganti rugi—sama seperti dokter yang melakukan maal praktek atau orang yang meledakan bomb sembarangan, bisa masuk penjara kan?

Untuk itu, kepada rekan-rekan di accounting saya selalu menyarankan agar jangan membiasakan diri mengambil ‘jalan pintas’ (instant), pergunakan logika, pahami persoalannya, lalu cari solusi terbaik. Tidak ada salahnya pusing-pusing sedikit, hitung-hitung untuk memetangkan pengetahuan. Otak yang jarang dipakai lama-lama akan tumpul, iya kan?

Kembali ke persoalan utama, yaitu: pengeluaran-pengeluaran sebelum perusahaan beroperasi. Untuk sungguh-sungguh memahami persoalan ini, ada beberapa aspek mendasar yang musti diketahui terlebih dahulu, antara lain:

  • Aspek akuntansi—sudah pasti
  • Aspek perpajakan—juga sudah pasti
  • Aspek legal (hukum), terutama sekali terkait dengan badan usaha—prosedur akuntansi dan perpajakan patokan dasarnya memang masalah legalitas.

Dalam artian, mau dicatat (diperlakukan) seperti apapun tak masalah, sepanjang ketiga aspek itu tidak dilanggar—accountable sekaligus bisa dipertanggungjawabkan secara hukum.

Mengapa sangat terkait dengan persoalan legalitas (hukum)? Karena pendirian usaha pada dasarnya bukan hanya sekedar event (kejadian) ekonomis. Melainkan sekaligus merupakan kejadian hukum. Tentu harus sangat memperhatikan aspek hukum, dalam hal ini.

Lalu bagimana cara mencatatnya? Dari tadi koq ceramah melulu?” mungkin ada yang berpikir seperti itu. Oke. Pindah ke paragraf selanjutnya…

 

 

Cara Menentukan Apakah Pengeluaran Masuk Buku Perusahaan Atau Tidak

Sebelum berpikir tentang bagaimana mencatat pengeluaran pra-operasi (pre-operation), ada satu pertanyaan yang harus dijawab terlebih dahulu: Bentuk badan usahanya apa? Usaha dagang (UD milik perseorangan)? CV (persekutuan)? atau Perseroan Terbatas (PT)?

Jika itu usaha perseorangan, berarti tidak jadi masalah mau dicatat seperti apa saja silahkan, yang penting jelas dan bisa dipahami. Saya katakan boleh-boleh saja karena perusahaan perseorangan sesungguhnya tidak ada kewajiban untuk membuat pembukuan (kecuali untuk urusan cari kredit bank).

Tetapi jika bentuk badan usahanya adalah persekutuan/kongsi (CV misalnya) atau Perseroan Terbatas, nah ini tidak boleh main catat saja. Segala sesuatunya musti jelas, karena memang ada peraturan yang harus ditaati. Ada hak-dan-kewajiban antar anggota persekuan (atau pemegang saham) yang berpotensi menjadi sengketa di kemudian hari jika tidak tercatat dengan baik—sesuai aturan yang ada.

Catatan: Adanya potensi sengketa itulah mengapa perusahaan persekutuan dan perseroan terbatas TIDAK BOLEH mencampur-adukan antara keuangan pribadi dengan keungan perusahaan.

 

Hubungannya dengan mencatat transaksi apa?” pasti ada yang ingin bertanya seperti itu.

Nah ini dia yang sering saya sebut “orang accounting yang cuma mau jadi tukang jurnal”. Kalau tidak mau diberi julukan seperti itu ya tunjukan bahwa sebutan itu tidak benar. Untuk menunjukan itu, pahami dahulu persoalannnya—jangan mau main catat saja. Kalau main catat saja, nanti ditanya “apa yang dicatat?”-pun tidak tahu, bukan cuma susah naik gaji, tapi juga memalukan. Benar tidak?

Inilah inti masalah pencatatan pengeluaran-pengeluaran sebelum operasi, yaitu: apakah pengeluaran tersebut masuk beban perusahaan yang akan dioperasikan atau tidak? Dengan kata lain, apakah boleh dimasukan ke dalam buku perusahaan atau tidak?

Jawabannya: TERGANTUNG (bukan tergantung pada cantolan lho). Maksud saya, tergantung:

  • Tanggal Transksi
  • Tanggal Pendirian perusahaan
  • Pengluaran Untuk Keperluan Apa—terkait urusan apa

 

Ada beberapa langkah yang harus dilalui untuk tahu persis cara mencatat pengeluaran-pengeluaran sebelum operasi:

  • Langkah-1. Kumpulkan nota-notanya dan buat daftar – Catat di Excel saja dahulu (tanggal berapa, transaksi apa, untuk urusan apa, nilai transaksinya berapa), dibuatkan daftar juga boleh. Ingat: pengeluaran tanpa bukti transakasi jangan diterima. Katakan sama bossnya, jika mau dicatat harus ada bukti transaksi.
  • Langkah-2. Minta photo copy akte pendirian perusahannya – Cari TANGGAL PENDIRIAN perusahaan.
  • Langkah-3. Bandingkan tanggal transaksi dengan tanggal pendirian perusahaan – Buat 2 kelompok: mana pengeluaran yang tanggal notanya SEBELUM tanggal pendirian perusahaan, dan mana yang SESUDAH-nya.
  • Langkah-4. Tentukan mana yang masuk buku mana yang tidak – Nota yang tanggalnya SESUDAH tanggal pendirian perusahaan masuk ke buku perusahaan, sedangkan yang SEBELUM? Masih tanda tanya. Tahan dahulu.

 

Dari keempat langkah di atas, pasti sudah bisa diketahui yang mana masuk ke buku perusahaan. Bukan hanya itu, tetapi di mata atasan (boss) anda terlihat sebagai orang yang sungguh berhati-hati, sekaligus bertanggung-jawab. Pantas dipercaya untuk urus uang perusahaan. Selanjutnya tinggal membuat jurnalnya. Lanjut….

 

 

Membuat Jurnal Pengeluaran Sebelum Perusahaan Beroperasi

Sudah tahu prosedur menjurnal? Jika masih ragu-ragu (atau sekedar penasaran) silahkan baca tulisan saya sebelumnya mengenai “Cara Mudah Membuat Jurnal”. Ada baiknya jika saya ulang sedikit:

Mau membuat jurnal:

Langkah-1. Kumpulkan nota – yang ini sudah dilakukan tadi

Langkah-2. Analisa isi bukti transaksi – Transksi apa, untuk keperluan apa, sehingga tahu akan masuk akun apa. Dalam kasus ini, yang namanya pengeluaran kemungkinnnya hanya 2:

  • Dibiayakan secara bertahap melalui pengalokasian—masuk kelompok aktiva (aset) dahulu.; atau
  • Dibiayakan sekaligus—alias masuk kelompok biaya

 

Langkah-3. Buat Jurnal – Sekalilagi, khusus dalam kasus ini, ada dua kelompok pengeluaran saja, yaitu:

(1). Untuk pengeluaran yang ADA kaitannya dengan peroleh (pembelian) aktiva tetap, sudah pasti masuk ke kelompok aktiva tetap. Jika itu biaya perolehan (pembelian) aktiva ya catat sebagai aktiva—termasuk pengeluaran yang terkait dengan perolehan aktiva. Misalnya:

Bayar notaris untuk pembuatan akte sewa tempat usaha selama 5 tahun, ada kaitannya dengan aktiva tak berwujud (Hak Sewa) sehingga dicatat sebagai aktiva dengan jurnal:

[Debit]. Hak Sewa = xxxx
[Kredit]. Kas = xxxx

Atau bayar tukang instalasi listrik, ada kaitannya dengan aktiva bangunan, maka dicatat sebagai penambah aktiva bangunan, dengan jurnal:

[Debit]. Aktiva – Bangunan = xxxx
[Kredit]. Kas = xxxx

Atau memperluas tempat parkr, ada kaitannya dengan perolehan bangunan juga dicatat ke aktiva bangunan. Dan yang sejenisnya.

(2) Sedangkan untuk pengeluaran-pengeluran yang TIDAK ada kaitannya dengan perolehan aktiva tetap, maka masuk kelompok BIAYA? Jawabannya: “Iya”. TETAPI, karena perusahaan belum beroperasi—masih dalam persiapan, maka TIDAK BISA dibiayakan pada saat itu juga. Kenapa? Jangan lupa: matching principle—setiap biaya harus bisa dihubungkan dengan pendapatan yang akan timbul. Dalam hal ini, karena perusahaan belum beroperasi berarti pendapatannya belum ada, sehingga biayanya belum bisa dihibungkan dengan pendapatan. Artinya: Biaya belum boleh diakui sebagai biaya.

Lalu diakui sebagai apa?” Buat akun ‘Biaya Dibayar Di Muka’ sering disebut ‘Prepaid’. Walaupun sebutannya ‘Biaya Dibayar Dimuka’ ini bukan kelompok akun di Lapora Laba Rugi, melainkan masuk kelompok Neraca (biasanya ditempatkan satu baris di bawah kelompok Piutang). Jurnalnya:

[Debit]. Biaya Dibayar Di Muka – Listrik = xxxx (masuk ke Neraca)
[Kredit]. Kas = xxxx

Nah, nanti jika perusahaan sudah mulai beroperasi baru dipindahkan ke kelompok biaya—alias dibiayakan, dengan jurnal:

[Debit]. Biaya Listrik = xxxx (masuk Laporan Laba Rugi)
[Kredit]. Biaya Dibayar Di Muka – Listrik = xxxx

Dengan begitu, maka saldo akun ‘Biaya Dibayar Dimuka’ akan menjadi nol (terhapus).

Tips: Jika saldo akun ‘Biaya Dibayar Dimuka’-nya cukup besar—karena proses persiapan operasinya cukup lama, maka biayakan secara bertahap, tidak apa-apa. Yang penting terus dibiayakan setiap bulan hingga saldonya bernilai nol.

Bagaimana sampai di sana?

Oke. MASIH ada satu hal yang mengganjal, ingat tadi ada pengeluaran-pengeluaran SEBELUM tanggal pendirian perusahaan, bukan? Bagaimana nasibnya?


 

Cara Menangani Pengeluaran Sebelum Tanggal Pendirian Perusahaan

Bicarakan dengan pimpinan perusahaan. Sampaikan sama beliau, karena itu pengeluaran terjadi sebelum tanggal pendirian maka tidak bisa diakui sebagai pengeluaran perusahaan. Jika beliau memaksa harus dimasukan, saya ada trick-nya:

Biasanya ada hubungannya dengan perolehan Aktiva. Jika iya, masukan ke Aktiva tetapi lawannya JANGAN kas, melainkan ‘Modal’. Artinya: pengeluaran tersebut dianggap sebagai modal (modal bentuknya tidak selalu dalam kas, aktiva tetap juga boleh).

Masalahnya: apakah pemegang saham lainnya setuju? Apakah jumlah setoran modal di akte pendirian perusahaan bisa diubah? Nah, sampaikan hal itu pada pimpinan: Apakah beliau bersedia membuatkan akte perubahan?

Itu sebanya tadi saya menekankan aspek legalitas (hukum) karena ada kaitannya dengan ‘hak-dan-kewajiban’ anggota persekutuan.

Jika nilainya cukup besar, mungkin beliau bersedia, ya tidak apa-apa, malah bagus. Justru inilah yang paling benar. Tetapi kalau nilainya kecil, sudah pasti beliau tidak bersedia. Kalau tidak bersedia ya mau bagaimana lagi—pasti beliau bisa mengerti bahwa pengeluaran sebelum tanggal pendirian memang tidak bisa dimasukan ke dalam buku perusahaan. Bagaimana? Mudah bukan? Selamat bekerja. Sukses selalu.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Cara Menghitung Saldo Akhir Persediaan Tanpa Stock Opname

Nilai saldo akhir persediaan disajikan di dalam Neraca. Jika perusahaan menggunakan sistim perpetual, dalam kondisi darurat nilai saldo akhir persediaan

Kemelut Barang Persediaan Dalam Perjalanan (Inventory in Transit)

JAK sudah cukup sering membahas topik akuntansi persediaan. Tetapi rasanya belum lengkap jika belum membahas barang persediaan dalam perjalanan alias “inventory

Cara Mencegah Pencurian (Penggelapan) Cek

Meskipun bukan uang tunai, cek paling rawan terhadap pencurian atau penggelapan. Dengan ukuran fisik yang ringkas, pencairan yang relatif mudah

43 komentar

Silahkan Berkomentar
  1. Yogi
    Yogi 19 May, 2012, 06:23

    Mohon penjelasannya, krn saya masih awam tentang pengkatagorian dan pencatatan pembukuan perusahan sebelum operasional apakah bisa dikapitalisasi atau dibiayakan lsg di thn berjalan ( saya khususkan perusahan yg bergerak di bidang perhotelan ):

    1.Biasanya sebelum beroperasi hotel akan membutuhkan biaya-biaya pelatihan utk karyawannya ( training expenses ). Nah apakah biaya ini bisa di kapitalisasi untuk kemudian diamortisasi setelah perusahan beroperasi ?

    2.Bagaimana untuk biaya gaji dan expenses lainnya spt uang makan,transport,dsb dari “trainer/support staff ” ( yg dlm hal ini bukan karyawan htl bersangkutan ) yg diperbantukan utk men-training karyawan htl tsb. Apakah biaya2 spt ini jg bisa dikapitalisasi atau dibebankan lsng ditahun berjalan ?

    3.Biaya2 yg tergolong sewa spt sewa mobil,kantor , mesin photo copy dsb. Status biaya spt ini gmn pak ?

    4.Satu lagi pak biaya-biaya yg ditimbulkan dari rekruitment karyawan,ini bagaimana bisa di kapitalisasi atau dibiayakan lsg ?

    Terimakasih sebelumnya.

    Reply this comment
  2. chyta
    chyta 28 May, 2012, 04:31

    Selamat siang ..salam kenal..

    mohon penjelasannya,
    1. perusahaan kami baru berdiri di 2012 dengan akte notaris bulan april. sedangkan biaya2 sudah terjadi mulai dr oktober 2011. sesuai dengan penjelasan JAK diatas, bahwa pengeluaran yang terjadi sebelum perusahaan beropeasi dicatat dengan kredit nya adalah Modal (bukan kas). nah.., apakah saya mulai menjurnal dari 2011?sesuai dengan tanggal atas biaya2 terjadi?atau kapan saya harusnya mulai menjurnal?dan mulai bulan apa laporan keuangan harus dibuat?berdasarkan transaksi/biaya2 dimulai atau dimulai saat bulan dimana aktenya diterbitkan?

    2.untuk contoh kasus dbawah ini, membayar gaji atas perusahaan yang belum berdiri:
    [Debit]. Biaya Dibayar Di Muka – Gaji = xxxx
    [Kredit]. Modal = xxxx

    Nanti jika perusahaan sudah mulai beroperasi/perusahaan telah berdiri baru dipindahkan ke kelompok biaya—alias dibiayakan, dengan jurnal:

    [Debit]. Biaya Gaji = xxxx (masuk Laporan Laba Rugi)
    [Kredit]. Biaya Dibayar Di Muka – Gaji= xxxx

    Pertanyaan saya: kapan dan brpa jumlah yang dibiayakan pada saat perusahaan telah berdiri/beroperasi?

    misalnya: biaya gaji dari nov 11-april 12=300jt, sedangkan perusahaan baru berdiri di bulan april dan baru mulai beroperasi di bulan mei/juli 2012. kapan dibuat jurnal pembiayaannya?berapa total yg bs dibiayakan?sekaligus atau searuhnya dulu?

    3. bagaimana mencatat modal yg tidak sesuai dengan akta?

    4. untuk kasus ini saya membuat laporan keuangan dimulai dr 2011 atau 2012?

    terimakasih banyak sebelumnya.

    Dengan begitu, maka saldo akun ‘Biaya Dibayar Dimuka’ akan menjadi nol (terhapus).

    Reply this comment
    • ANANTYO
      ANANTYO 8 January, 2014, 10:23

      PERTANYAAN YANG SAMA DENGAN PERMASALAHAN SAYA.. APA SUDAH DAPAT PENCERAHANNYA? BOLEHKAH BERBAGI DENGAN SAYA, THX

      Reply this comment
  3. Yunita
    Yunita 20 July, 2012, 05:40

    BAGUS BANGET…Great :)
    Makasih infonya..

    Reply this comment
  4. Ridwan
    Ridwan 22 September, 2012, 05:36

    Cuman satu kata buat admin TOPBANGET artikelnya
    Thanks ..

    Reply this comment
  5. li phing
    li phing 23 September, 2012, 11:42

    Salam Pak JAK,

    Saya ingin bertanya 4 hal :
    1. Jika perusahaan (PT A) mengeluarkan uang 500 jt untuk invest di Perusahaan barunya (PT B),bagaimana pencatatan jurnal untuk PT A & PT B ?
    2. Jika perusahaan (PT A)ingin divisi baru (jual produk baru), salesnya juga baru khusus jual produk baru, biaya pengiriman barang memakai kendaraan perusahaan lama (PT A), pembukuannya sebaiknya bagaimana?
    3. Jika perusahaan (PT A) mengeluarkan uang 400 jt untuk invest di perusahaan lain (joint), bagimana pencatatan jurnal untuk PT A ?
    4. Mesin Genset harga perolehan 20 jt, dgn metode garis lurus, biasanya masuk Asset kelompok I atau Kelompok II ? Masa manfaat untuk penyusutan biasanya berapa tahun?

    Terima kasih atas bantuannya.
    Lie phing

    Reply this comment
  6. li phing
    li phing 25 September, 2012, 14:28

    Selamat malam…
    Saya mau nanya nih…
    Hutang ongkos kuli karyawan sebesar 19 jt sudah dicatat per 31 Juli 2012. Ternyata Agustus 2012 baru diketahui hutang ongkos kuli karyawan cuman dibayar perusahaan sebesar 9 jt, hutang ongkos kuli karyawan 10 juta tdk dibayar lagi oleh perusahaan ke karyawan & 10 jt ini akan dipakai sebagai cadangan wisata karyawan 2013.(kurangnya baru dibiayai oleh perusahaan)
    Biaya Wisata karyawan 2013 sebesar 13 jt. Pertanyaannya :
    1. Bagaimana jurnal koreksinya utk hutang ongkos kuli yg sudah tercatat 19 jt?
    2. Jurnal koreksi harus di bln Agustus atau 2013 ?
    Terima kasih atas bantuannya
    Li phing

    Reply this comment
  7. Anto
    Anto 25 December, 2012, 10:45

    Di atas tadi dijelaskan kalau fee notaris atas akte pendirian perusahaan dimasukkan sebagai Aktiva Lain lalu diamortisasi setiap bulannya.
    Pertanyaan saya : “diamortisasi selama berapa bulan?”. Karena setahu saya akte pendirian tidak ada masa expirednya. artinya selama perusahaan berdiri ya akte tersebut masih berlaku, kecuali jika ada perubahan akte, itu pun belum tentu ada.
    Tolong dijawab, terima kasih.

    Reply this comment
  8. Rini
    Rini 15 January, 2013, 16:10

    setuju sama yang di atas saya.
    bingung mau bikin amortisasinya gmn, sementara notaris pendirian perusahaan berlaku seumur hidupnya si perusahaan.
    jadinya gmn ya min? :)

    Reply this comment
  9. nur
    nur 8 April, 2013, 07:05

    maaf ganggu nih..

    saya mau tanya, dalam artikel ini menyebutkan:

    “Biasanya ada hubungannya dengan perolehan Aktiva. Jika iya, masukan ke Aktiva tetapi lawannya JANGAN kas, melainkan ‘Modal’. Artinya: pengeluaran tersebut dianggap sebagai modal (modal bentuknya tidak selalu dalam kas, aktiva tetap juga boleh).”

    berarti, aktiva (Debit) & lawannya modal (kredit)
    betul bgitu?

    yang saya tanyakan:
    1. kenapa tidak boleh masuk akun kas?
    2. kalau tidak boleh masuk ke akun kas, kenapa contoh yang bapak berikan masuk ke akun kas?

    Bayar notaris untuk pembuatan akte sewa tempat usaha selama 5 tahun, ada kaitannya dengan aktiva tak berwujud (Hak Sewa) sehingga dicatat sebagai aktiva dengan jurnal:

    [Debit]. Hak Sewa = xxxx
    [Kredit]. Kas = xxxx

    Atau bayar tukang instalasi listrik, ada kaitannya dengan aktiva bangunan, maka dicatat sebagai penambah aktiva bangunan, dengan jurnal:

    [Debit]. Aktiva – Bangunan = xxxx
    [Kredit]. Kas = xxxx

    Mohon Penjelasannya pak

    Reply this comment
  10. PapinyaSuin
    PapinyaSuin 16 May, 2013, 09:09

    Penjelasan benar2 mengena..sistematis dan selalu membuat penasaran untuk lanjut ke kalimat selanjutnya.

    Reply this comment
  11. meipie
    meipie 27 August, 2013, 02:07

    looha.. untuk masalah biaya dibayar dimuka, apakah boleh biaya pd saat proses pendirian PT yg misalkan bulan ini dibiayakan nanti pada saat perusahaan sudah beroperasi (katakanlah tahun depan)? itu kan sudah lewat jauh beberapa bulan.. thanks jawabannya.

    Reply this comment
  12. reinhard hasian tampubolon
    reinhard hasian tampubolon 10 October, 2013, 09:25

    mau tanya pak? kalo tes kerja dan melamar di finance atau bagian accounting untuk pemula dan fresh graduate, hal yang paling umum diberikan test dari pihak perusahaan misalnya saja interview user itu testnya berupa hal apa ya? kalo boleh kirimkan hal-hal apa saja yang harus dipersiapkan untuk menjadi accounting di sebuah perusahaan,, hmm kirim ke email saya di reinhardhasian4[at]gmail.com

    ditunggu ya pak.. saya sangat membutuhkan nih

    Reply this comment
  13. Nono
    Nono 18 December, 2013, 06:59

    Salam Pak Jak
    Mo tanya Pak apakah Uang Muka Pajak bisa diamortisasikan biayanya nggak.. ? (bebannya di cicil tiap bulan) karena Perusahaan tempat saya kerja Kalah dalam sidang Pajak khusus pajak badan pph psl 25 tahun 2007 dan putusannya Inkrah. kalau bisa atau tidak diamortisasi ada ketentuannya ya pak
    Tanks Pak JAK Salam Super..

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*