Akuntan Yang Tidak Bekerja di KAP adalah Pecundang?
Ini tentang karir akuntan. Ada semacam persepsi umum bahwa: seorang akuntan yang tidak peranh bekerja di Kantor Akuntan Publik (KAP) adalah pecundang. Anggapan ini seolah-olah mengatakan bahwa berkarir di dunia akuntansi tetapi belum pernah bekerja di KAP sesungguhnya tidak berkarir. Benarkah demikian?
Entah sejak kapan persepsi ‘Akuntan-Yang-Tidak-Bekerja-di-KAP-adalah-Pecundang’ ini mulai beredar. Siapa yang menghembuskannya pertamakali juga tidak jelas. Yang jelas anggapan ini sudah menjalar hingga ke mahasiswa-mahasiswi akuntansi, terutama di universitas-universitas besar di Indonesia.
Saya pernah bekerja di KAP tetapi tak pernah berpikir seperti itu. Pada kenyataannya, justru saya bertahan hanya sebentar di sana (sekitar 5 tahunan), bosan, lalu pindah jalur. 10 tahun lainnya saya berada di luar KAP—hingga saat ini. Aneh ya ada akuntan yang bosan kerja di KAP? Sesungguhnya tidak, jika anda sudah baca tulisan saya ini hingga selesai.
Anggapan ‘Akuntan-Yang-Tidak-Bekerja-di-KAP-adalah-Pecundang’ ini tidak 100% buruk juga tidak 100% baik. Pengalaman saya menunjukan bahwa anggapan ini lebih banyak keliru dibandingkan benarnya. Lebih banyak sisi buruk dibandingkan sisi baiknya.
Saya tidak menafikan bahwa bekerja di KAP memang menantang (untuk beberapa tahun). Untuk bisa diterima bekerja di KAP yang memiliki reputasi tinggi (macam KPMG, PwC, Ernst & Young atau Deloitte Touche, bukanlah sesuatu yang mudah. Didukung oleh sistim perekrutan yang sudah sangat mapan—berpengalaman puluhan (jika tidak ratusan) tahun, ditambah oleh kemapanan financial, KAP bereputasi tinggi tidak semabarangan menerima akuntan—bahkan untuk level junior sekalipun.
Tentu, mencoba membidik karir yang dianggap sulit adalah bagus—terutama untuk pemuda/pemudi yang baru atau baru akan menapaki karir di akuntansi. Menjadi bagus, setidaknya untuk 2 alasan berikut ini:
1. Merasa tertantang adalah energi positif yang bisa membuat seseorang (rata-rata orang) menjadi selalu bersemangat dan antusias.
2. Kebiasaan ‘bekerja-dengan-standar-mutu-tinggi’ akan terus terbawa hingga di perjalanan karir berikutnya (jika tidak tertimbun selamanya di sana).
Hanya 2 hal itu yang bisa saya lihat sebagai sisi baik (positif). Sedangkan sisanya hanya sisi buruk (negatif)-nya.
Secara umum, menjadi auditor di KAP—dimanapun itu, hanya bekerja diseputaran “mengutak-atik” isi laporan keuangan. Mencari tahu apakah laporan keuangan klien yang di audit sudah sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku atau tidak, lalu memberikan pendapat: wajar, wajar dengan catatan, atau tidak wajar. Tak lebih dari itu. Ditindih oleh desakan deadline—dimana rata-rata KAP seperti itu, waktu untuk belajar sesuatu yang lain nyaris tidak ada.
Memang, pekerjaan di KAP tidak selalu auditing. Bisa jadi kompilasi, atestasi, dan seterusnya. Tetapi sekalilagi aktivitasnya hanya seputaran laporan keuangan—mulai dari jurnal, buku besar, neraca percobaan hingga laporan keuangan (komersial maupun fiscal). Sudah itu saja. Sekalilagi, ini bagus untuk pemula—agar skill menjurnal dan mengutak-atik laporan keuangan semakin mantap.
Padahal, dunia akuntansi dan keuangan dalam skup yang lebih luas tidak sesempit itu. Urusan akuntansi dan keuangan bukan sekedar ‘otak-atik laporan keuangan’. Bukan sekedar melakukan penilaian apakah perlakuan akuntansi suatu perusahaan sudah sesuai standar atau tidak.
Saya pribadi, setelah 5 tahun bekerja di KAP sudah tidak menemukan tantangan lagi. Saya merasa itu tidak cukup. Bertahan bekerja di KAP adalah belenggu bagi potensi kemampuan dan kapasitas saya. Dasar pertimbangan yang paling kuat mendesak saya untuk tidak bekerja di KAP lagi adalah karena satu alasan yang bagi saya sangat mendasar, yaitu: Di KAP hanya tahu data yang sudah jadi (entah itu berupa nota, bahkan sudah berupa jurnal)—tanpa tahu bagaimana transaksi keuangan dalam bisnis sesuangguhnya terjadi.
Sehingga, bisa saya katakana bahwa: menjadi seorang auditor di KAP sesungguhnya hanya cocok untuk mereka yang masih ingin belajar mematangkan pemahaman menganai jurnal, buku besar, dan laporan keuangan—yang sesuai dengan standar akuntansi yang berlaku. Tetapi tidak sesuai untuk mereka yang sudah melewati fase tersebut.
Membandingkan pengalaman saya di dalam dan di luar KAP menunjukan betapa pentingnya memahami “apa sesunggungnya di balik angka-angka di jurnal dan laporan keuangan itu?”. Jauh lebih penting dibandingkan sekedar mengetahui apakah suatu laporan keuangan sudah sesuai standar akuntansi atau belum. Mengapa?
1. Akuntansi tidak ada fungsinya jika tidak ada bisnis atau perusahaan (apa yang mau dijurnal, dihitung dan dilaporkan jika tidak ada aktivitas binis atau usaha?).
2. Para pelaku usaha tak peduli apakah laporan keuangan mereka sesuai standar akuntansi atau tidak. Mau dicatat seperti apa, mau dihitung menggunakan metode apa, mau dilaporkan dengan format penyajian seperti apa, silahkan saja, samasekali tak penting bagi mereka. Yang mereka pedulikan cuma satu yaitu: PERUSAHAAN UNTUNG.
3. Di perusahaan-perusahaan yang sudah go publik, mungkin manajemen atau board director merasa senang bila Laporan Laba Rugi mereka menunjukan laba—apalagi jika labanya terus meningkat dari waktu-ke-waktu. Investor mungkin juga tertarik. Akan TETAPI, apakah pemegang saham yang sudah ada pasti senang? Tidak. Mereka tak peduli laporan keuangan. Yang mereka pedulikan hanya satu, yaitu: DIVIDEN—apakah perusahaan bagi dividen atau tidak, berapa besarnya?
Dari 3 fakta tersebut, menurut pandangan saya: dibandingkan sekedar menjurnal, membuat laporan keuangan, melakukan penilaian apakah laporan keuangan sudah sesuai standar atau tidak, JAUH LEBIH BERHARGA DAN MEMBANGGAKAN jika seorang akuntan bisa:
1. Mencegah Kerugian – Mengetahui lebih awal mengenai potensi risiko bisnis sekaligus memberikan rekomendasi untuk melakukan pencegahan kerugian dengan menggunakan data keuangan dan non-keuangan (operasional). Apakah seorang auditor di KAP menjalankan fungsi itu? Saya rasa tidak. Fungsi seperti itu biasanya dilakukan oleh seorang internal auditor (di bawah supervise seorang controller). Auditor di KAP lebih banyak bekerja menggunakan data-data historis (yang transaksi bisnisnya sudah terjadi).
2. Mendorong Efisiensi dan Produktifitas – Memberikan masukan-masukan (melalui analisa data akuntansi dan keuangan) untuk meningkatkan efisiensi tanpa menghambat produktifitas dalam opersional perusahaan. Fungsi seperti ini hanya bisa dijalankan oleh mereka yang memahami business best practice—praktek berbisnis mulai dari perencanaan hingga opersional—yang sifatnya spesifik antara satu usaha dengan usaha lainnya. Apakah seorang auditor (bahkan yang sudah berlevel partner sekalipun) punya kapasitas ini? Saya meragukannya. Kemampuan ini tidak diperoleh dari memahami standar akuntansi yang menjadi kitab sucinya para auditor
3. Memitigasi Masalah Keuangan – Menemukan akar masalah sekaligus memberikan rekomendasi solusi yang ampuh untuk mengatasi masalah dalam suatu bisnis (usaha). Mampu mengetahui dimana akar masalah keuangan yang terjadi—apakah di struktur modal, di perencanaan, di opersional, atau di pengawasan. Selanjutnya memberikan rekemndasi bagaimana cara mengatasinya. Terakhir memberi contoh implementasi sekaligus mengawal agar implementasi bisa berjalan sesuai yang diharapkan—dan masalah bisa diatasi. Apakah seorang auditor di KAP mampu melakukannya? Saya tidak yakin.
Tiga fakta dasar ditambah dengan tiga orientasi baru inilah yang ingin saya tawarkan kepaka teman-teman yang sedang atau akan berkarir di dunia akuntansi.
Bukan berarti memulai karir di kantor akuntan publik (KAP) adalah suatu kekeliruan atau buruk. Samasekali bukan. Yang keliru adalah menetapkan karir di KAP sebagai tujuan akhir. Sebaliknya, menjadi auditor di KAP seharusnya hanya batu loncatan—untuk mematangkan skill teknis menjurnal dan implementasi standar akuntansi saja. Selanjutnya harus ditinggalkan (jangan mengubur diri di sana untuk selamanya), jika ingin menuju ke level yang lebih tinggi, mulai belajar mencari ARTI DI BALIK ANGKA-ANGKA di laporan keuangan dengan cara belajar memahami opersional bisnis (perusahaan) yang sesungguhnya.
Itulah karir seorang akuntan yang paling ideal menurut saya. Saya percaya setiap orang memiliki pola berpikir serta cara menilai yang berbeda. Setiap orang menjalankan karirnya sesuai dengan apa yang diyakininya baik. Tak ada yang salah dengan semua itu. Yang salah adalah ‘merasa’ lebih baik dibandingkan yang lain atau merasa lebih buruk dibandingkan yang lain.
Untuk itu, bagi teman-teman yang kebetulan sedang tidak berkarir di kantor akuntan publik (KAP), jangan pernah berkecil hati. Tidak menjadi seorang auditor di KAP bukan berarti pecundang. Jika anda tidak mau belajar—merasa puas hanya dengan jadi tukang jurnal di perusahaan, ya memang jauh jika dibandingkan dengan seorang auditor. Sebaliknya, jika mau berlajar lebih dari sekedar jadi tukang jurnal, saya yakin suatu saat nanti kualitas dan pendapatan (gaji) anda jauh lebih tinggi dibandingkan seorang auditor di KAP. Sukses selalu.

terima kasih ini membuat saya lebih memahami bahwa akuntansi adalah ilmu yang sangat unik dan menarik untuk lebih di tingkatkan..
Sama-sama Mas Sudarsono. Setuju, akuntansi memang selalu menarik sekaligus menantang untuk dieksplorasi lebih jauh.
Pendapat yang sangat baik, memang dengan berkarir di KAP seorang akuntan hanya mematangkan skill yang diperolehnya di bangku kuliah, selanjutnya tergantung karir mana yang akan dia pilih, terus di KAP sampai menjadi Partner, atau pindah ke Perusahaan. Kedua-duanya sangat memerlukan pemahaman jauh dari sekedar jurnal-menjurnal, atau menyebut wajar-tidak wajar, tetapi (seperti yang sudah disampaikan di atas), harus ada pemahaman mendalam terhadap bisnis perusahaan termasuk pemahaman terhadap arti dibalik angka-angka pada laporan keuangan, dapat mencegah potensi kerugian perusahaan, mendorong efisiensi dsb. Sebagai informasi biasanya di perusahaan pun urusan jurnal menjurnal ada pada level clerk/staff.
Terimakasih untuk apresiasinya, dan betul yang Mas Bambang sampaikan. Di perusahaanpun ada pekerjaan clerical, dan yang menjadi clerk sampai pensiunpun tidak sedikit.
Tentunya kembali ke pribadi masing-masing. Apakah ‘segitu’ itu sudah cukup? Saya pikir meteran (alat ukur) yang dipakai juga pastinya berbeda antar orang-per-orang.
Sekalilagi terimakasih.
“Yang keliru adalah menetapkan karir di KAP sebagai tujuan akhir. Sebaliknya, menjadi auditor di KAP seharusnya hanya batu loncatan—untuk mematangkan skill teknis menjurnal dan implementasi standar akuntansi saja. Selanjutnya harus ditinggalkan (jangan mengubur diri di sana untuk selamanya), jika ingin menuju ke level yang lebih tinggi, mulai belajar mencari ARTI DI BALIK ANGKA-ANGKA di laporan keuangan dengan cara belajar memahami opersional bisnis (perusahaan) yang sesungguhnya.”
Sebagai seorang akuntan, sepertinya saudara tidak bisa berbicara bahwa menetapkan karir di KAP sebagai tujuan akhir ada suatu kekeliruan. Anda seperti tidak menghargai pilihan karir rekan-rekan KAP yang menetapkan pilihan berkarir di KAP. Anda seorang profesional yang bergerak di bidang akuntansi alangkah baiknya menghargai bidang profesi masing-masing. Anda tahu sendiri kan akuntansi itu bermacam-macam? seperti IAI, mereka mempunyai entitas tersendiri untuk tiap profesi akuntansi.
Yah sepertinya saya sangat menyarankan anda untuk sedikit mengkoreksi tulisan anda. Mengenai bagian yang saya kutip diatas. Pilihan berkarir sebagai akuntan di KAP bukanlah suatu kekeliruan. Semua akuntan baik yang bekerja sebagai akuntan publik, akuntan manajemen, dan lain-lain, mereka memiliki profesi yang sama pentingnya. Setidaknya mereka saling support satu sama lainnya.
Sekian komentar saya, terima kasih.
Terimakasih untuk ekspresi dan atensinya. Samasekali tidak dimaksudkan untuk tidak menghargai pilihan teman-teman yang berkarir di KAP. Seperti sudah saya sampaikan di tulisan: pilihan berkarir di KAP bukanlah kekeliruan, juga tidak buruk. Malah sangat bagus untuk mematangkan kemampuan memahami tehnis dan standar akuntansi. Itu sangat jelas disebutkan di tulisan.
Adapun masukan dari saya untuk “tidak mengubur diri di KAP selamanya”, tentulah itu berupa saran, masukan, sekaligus pendapat dan ekpresi saya pribadi sebagai penulis, sesuai dengan pengalaman dan pemahaman saya pribadi yang menunjukan bahwa: di KAP, waktu dan pikiran tersita untuk hal-hal tehnis terkait laporan keuangan, samasekali tidak ada waktu (dan kesempatan) untuk mempelajari opersional bisnis yang sesungguhnya, dan menurut saya, itu adalah sisi lemah yang harus diisi jika seseorang merasa tidak cukup hanya dengan memahami tehnis akuntansi dan standar-standar-nya saja.
Bahwa ada orang atau orang-orang yang memilih untuk merasa puas hanya dengan memahami ‘debit, credit, saldo, laporan keuangan, standar-standar dan hal-hal tehnisnya’ (yang di luar KAP jugabanyak yang seperti itu), tentulah itu juga pilihan pribadi. Termasuk ekspresi saudara melalui komentar inipun saya hargai sebagai ekspresi pribadi saudara, yang bisa menjadi alternatif berpikir bagi teman-teman yang lain.
Sekalilagi terimakasih untuk atensi dan ekpresinya.
@Adit: Saya rasa tidak ada yg perlu dikoreksi pernyataan di artikel ini, ini semua tentang “self satisfaction”, penulis bercerita tentang pengalamannya yg kebetulan dipublish lewat artikel ini..kalau anda hebat buktikan dengan membuat website seperti http://www.jurnalakuntansikeuangan.com, saya punya teman yg bekerja di KAP rata-rata sangat pelit untuk berbagi ilmunya, dan saya sendiri dan teman saya yang bekerja di perusahaan sangat antusias untuk mengajarkan kepada orang lain, kami lebih “open source” dan teman saya yg bekerja di KAP sangat tertutup…
“orang yg pro terhadap perubahan bukan sekedar mengkritik, tapi membuktikannya dengan karya”.
tks.
Mbak Sherly,
Tapi urusan dimintai kas bon masih tetap pelit kan?
haha…
@Sherly Terima kasih atas masukkannya . . seperti yang admin bilang komentar saya merupakan bentuk ekspresi pribadi saya, sebagai seorang yang bekerja di KAP, tidak ada salahnya kan? Saya juga tidak sekedar mengkritik kok, saya membuktikannya bukan dengan cara membuat http://www.jurnalakuntansikeuangan.com, tapi saya selalu open dengan siapa saja yang mau sharing knowledge, dan saya mengajar juga, itu karya saya=)
Keep update.
Thanks for sharing.
@sherly: boleh dong bagi2 ilmunya…. terima kasih.
okay banget! siiiiiiiippp!!!;)
Siip juga Mbak Ferra
Untuk semuanya dan khususnya untuk Mas Administrator, salut banget…dan aktual banget dengan keadaan yang dialami oleh para akuntan (termasuk saya tentunya), cuma mungkin para akuntan yang lain dan para manajer akunting & keuangan sudah capek dan gak ada waktu untuk mengomentari, karena disamping kesibukan masing2 tentunya mereka ada yang sedang konsentrasi dengan tugas2 penting perusahaan atau malah ada yang sudah sukses menjadi toplevel (direktur keuangan misalnya). Tapi sekali lagi hal2 yang dikemukakan oleh administrator, mbak sherly atau mas adit….ada semua di lingkungan akuntansi.
Saya jebolan STAN tahun 88, dan …persis seperti yang dikupas oleh administrator…setelah beberapa tahun saya mengalami semacam kebosanan rutinitas dan terpikir untuk mencari akar transaksi atas angka2 yang selama ini saya geluti. Untuk itulah saya terjun ke dunia bisnis, yaitu merintis dari awal, dari seorang yunior staff sampai menjadi manager akunting & keuangan (sudah hampir 20 tahun saya berkarir di berbagai di perusahaan yang berbeda2 bisnisnya).
Pada awalnya saya mengalami kesulitan, tapi untungnya dasar akuntansi yang kuat bisa menolong bahkan membantu sekali dalam meniti karir di dunia bisnis (perusahaan), malah sudah hampir 7x saya berkutu loncat pindah dari satu perusahaan bisnis ke ke perusahaan bisnis yang lain. Tujuan saya hanya satu…cari tantangan baru…walau bidangnya masih sama (accounting&finance), tapi bisnisnya beda, dari perusahaan jasa, trading(distributor sampai ke perusahaan manufakturing….nah di perusahaan manufakturing ini saya benar2 terasah. Segala ilmu yang saya peroleh, makin berkembang dan makin menantang saya. Apalagi manufakturing itu ratusan jenisnya, ada yang sederhana sampai yang rumit (istilahnya dari raw material s/d Finished Goods), dan tak ketinggalan juga…ilmu pajak tentunya.
Akhirnya…untuk mas administrator..terus berkarya lewat tulisan dan pendapat anda…setuju banget dan tetap berikan yang terbaik. thnks
Jika belum pernah masuk ke manufacturing, pertama masuk pressure-nya memang sangat terasa ya Mas @Palagan. Tidak banyak orang yang mampu bertahan seperti anda, Mas. Ini salah satu kendala utamanya. Padahal Cost Accounting dan Management Accounting lainnya hanya bisa diperoleh secara lengkap lewat Manufacturing. Sehingga, jika mampu bertahan di sana dlm wktu yg relatif lama, kemampuan akuntansi menjadi berlipat ganda.
Tambahan sharing pengalaman yang sungguh menginspirasi dari Mas @Palagan. Salute dengan pilihannya. Semoga makin sukses untuk ke depannya.
Karier bagian accounting diluar KAP tidak bisa dibilang PECUNDANG mungkin itu hanya pendapat segelintir orang saja,…kalau nggak ada bagian accounting yang menyusun laporan keuangan,… para akuntan di KAP mau kerja apa?? apa kalau sudah di kerja di KAP mesti jagoan,… belum tentu
Setuju Mas @Heru. Saya juga percaya itu hanya anggapan segelintir orang (yang memang memiliki karakter dasar arogan). Di dalam atau di luar KAP tak menunjukan apa-apa yang perlu dijadikan bahan untuk arogan. Kembali ke Individu masing-masing. Justru saya melihat, makin banyak wilayah yang bisa dikuasai semakin bagus. menguasai Standar Akuntansi, Auditing dan hal-hal teknikal lainnya penting, namun memahami management accounting tak kalah pentingnya. Untuk auditor misalnya, tanpa memahami seluk-beluk operasional perusahaan, saya yakin pendapatnya tidak sebagus auditor yang memahami.
Terimakasih untuk penjelasannya, sempat terlintas untuk berkarir di KAP setelah lama di perbankan… Penjelasan di atas sangat masuk akal bg sy dan mampu menjadi bahan pertimbangan.
Apa yang saya sampaikan mungkin hanya satu (diantara banyak) sudut pandang. Semoga bisa menambahkan, sehingga menghasilkan keputusan yang terbaik untuk anda @Indra Hania.
apakah berkarir d KAP harus fresh graduated??dan klo sudah berpengalaman sbg Internal Auditor, apakah bsa / cocok untuk berkarir d KAP??
Setahu saya tidak harus fresh graduate. Pengalaman sebagai internal auditor itu bisa menjadi modal dasar yang bagus. Paling bagus dicoba, yang penting jangan ditolak sekali-dua kali sudah langsung berkesimpulan tidak cocok/tidak sesuai.
Semoga sukses.
pendapat yang baik mas…disertai pengalaman pribadi.. saya setuju dengan pendapat anda..
ditunggu tulisan pembuka “mindset” lainnya
Siap Mas @Irfan. Siip
setuju sekali bahwa pekerjaan menjadi auditor itu tidak seharusnya dinilai sebagai pekerjaan “jagoan” karena auditorpun kalau ditanya operasi juga gak terlalu ngerti
saya pernah krja di PwC, dan skill yg diasah rasanya terlalu sempitt… akuntansi hanya sebagian kecil dari bisnis itu sendiri, itulah sebabnya saya resign dan sekarang berupaya untuk lebih memahami bisnis
Kelihatannya ibu @Risma sepaham dengan penulis ya?
Semoga semuanya berjalan lancar.
luar biasa… nih tulisannya..
saya yang masih ingusan ini jadi semakin terpacu buat belajar akuntansi.. meskipun basic pendidikan saya bukan akuntansi. kadang saya berpikir apa mungkin hanya dengan belajar otodidak saya bisa memahami? tapi saya yakin bisa terlebih dengan adanya website ini. dan tentunya pihak2 lain yang mau share ilmunya disini.
thanks 4 share..
Saya yakin bisa otodidak, asal tekun. Pada dasarnya kita semua mulai dari titik “tidak tahu”, ya tidak?
Aseng…pasti bisa biarpun otodidak, tetep Semangat..
saya kok ngerasa artikel ini mendiskreditkan akuntan publik ya? tapi mungkin ini respon dari author atas orang-orang yang mendewakan profesi akuntan publik dan menganggap akuntan publik itu puncak karir dari seorang akuntan ya. tapi tetap aja saya ga setuju kalo author bilang jangan sampai menjadikan karir sebagai akuntan publik itu sebagai tujuan akhir.
opininya author di sini emang ada benarnya. biasanya akuntan publik itu management skill-nya kurang karena emang lebih sering berkutat dengan prinsip-prinsip akuntansi ketimbang bagaimana cara meningkatkan laba dan lain sebagainya yang berhubungan dengan akuntansi manajemen atau manajemen keuangan. manajemen perusahaan menentukan kebijakan-kebijakan yang diambil untuk kepentingan perusahaan. sedangkan auditor hanya bertugas untuk menilai apakah pencatatan secara akuntansi oleh manajemen telah dilakukan sesuai dengan PSAK. jika tidak biasanya auditor merekomendasikan bagaimana jalan keluarnya.
nah, di sini keliatan kalo akuntan di perusahaan dan akuntan publik itu ada porsinya masing-masing. bayangkan kalo semuanya jadi akuntan publik dan ga ada yang kerja di perusahaan. atau sebaliknya, semuanya kerja di perusahaan dan ga ada yang jadi akuntan publik. ada sinergi antara masing-masing profesi akuntan, mulai dari akuntan pendidik, akuntan perusahaan, akuntan publik, bahkan akuntan sektor publik. jadi saya harap jangan sampai ada pernyataan provokatif seperti di atas.
jumlah akuntan publik di indonesia itu sangat sedikit, hanya 900an orang. sedangkan singapura dengan jumlah penduduk yang jauh lebih sedikit punya 15.000 orang akuntan publik. padahal kita tahu bahwa profesi akuntan publik itu merupakan salah satu profesi penunjang perekonomian. ini seharusnya menjadi peluang bagi mereka-mereka yang ingin menjadi akuntan publik.
dan lagi kalo ditanya apa sih tantangannya menjadi akuntan publik setelah bertahun-tahun bekerja di KAP dan merasa sudah mengerti segalanya? perekonomian selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. kita, terutama para akuntan, akan terus belajar sesuatu yang baru. ini tantangan gimana caranya kita bisa terus up to date dengan informasi-informasi yang beredar, terutama yang terkait dengan perubahan PSAK. saya rasa author mengerti hal ini karena sudah berpengalaman bekerja di KAP.
selain itu, akuntansi bagi akuntan publik itu ga cuma soal jurnal, buku besar, dan otak-atik laporan keuangan. justru sebelum masuk KAP, staf diasumsikan sudah mengerti tentang proses penjurnalan hingga menjadi laporan keuangan. KAP ga pernah ngadain training buat stafnya tentang penjurnalan atau bagaimana cara membuat laporan keuangan. training di KAP biasanya lebih ke auditing, PSAK, peraturan-peraturan yang terkait seperti peraturan Bapepam, BPK, perpajakan, dan lain-lain. auditor harus bisa mengimplementasikan dan merepresentasikan aturan-aturan tersebut ke dalam laporan keuangan dan tetap patuh kepada aturan tersebut. sementara aturan-aturan tersebut terus berubah. di situ lah tantangannya. setelah jadi partner pun tetap diwajibkan untuk mengikuti perkuliahan yang disebut continuing development program setiap tahunnya. artinya setelah jadi partner pun masih harus banyak belajar.
intinya sih, setiap profesi, baik itu akuntan di perusahaan atau akuntan publik itu ada porsinya masing-masing dan sama-sama penting bagi perkembangan ekonomi. jangan sampai lah kita mendiskreditkan profesi yang lainnya.
@netasset
Setelah saya baca pelan-pelan, pokok keberatan anda serupa (meskipun tak sama) dengan keberatan bung @Adit di ujung atas. Dan penulis artikel saya lihat sudah memberikan respon atas keberatan tersebut.
Saya (yang kebetulan jaga admin hari ini), sampai sekarang juga masih kerja di KAP (meskipun bukan KAP besar), sedikit banyaknya tahu bagaimana proses pekerjaan di KAP, tetapi saya tidak menemukan unsur provokasi dalam tulisan ini, apalagi pendiskreditan. Justru saya menemukan banyak hal baru yang bisa saya pelajari di luar apa yang selama ini saya tahu selama bekerja di KAP. Dan itu, menurut saya, positif.
Saya pikir, kita anggap tulisan ini sebegai ekspresi pribadinya si penulis, tentunya dengan dilatarbelakangi oleh pengalaman pribadi yang berbeda jika dibandingkan dengan apa yang saya, anda, dan orang lain alami. Lagipula, dalam tulisan di atas juga jelas-jelas disebutkan: urusan karir itu pilihan pribadi masing-masing yang tentunya hanya kita masing-masinglah yang paling tahu mana yang terbaik, dan itu sah-sah saja. Yang kurang baik, menurut tulisan di atas, adalah: “merasa lebih dibandingkan orang lain”.
Yang paling penting dalam hal ini, menurut saya pribadi, adalah: saling menghargai pendapat orang lain. Penulis punya pendapat kita hargai di satu sisinya, sementara anda, saya, dan orang lain memiliki pendapat lain ya juga diharagai. Dan masing-masing sudah disediakan ruang untuk mengekspresikan pendapat masing-masing. Itulah yang saya temukan di JAK ini, sehingga pendapat kontra-pun tetap dirilis.
Ada yang pro, ada juga yang kontra, jadinya seimbang. Selanjutnya, kita serahkan ke publik. Biarkan mereka yang menjadi hakim akhirnya. Tentu mereka memiliki pendapat yang bisa saja pro atau kontra terhadap penulis maupun komentar-komentar yang telah ada di sini. Dan itu sehat.
Ini pendapat saya pribadi. Terimakasih.
karena saya masih mahasiswa,
buad adminya jangan bosen” buad share ilmunya iia ,,
saya tunggu dan saya ucapkan terima kasih ^^
@Ratna Ayu:
Siip. Kalau dapat dukungan dari kawan-kawan di sini, dijamin admin akan semangat terus
Thanks. Sukses untuk study-nya.
yang pasti terlepas dari pro kontra artikel ini, bermanfaat kok bagi kami.
share ilmu nya.
entah akuntan publik, ak. manajemen,pendidik ato akuntan pemerintah sama sama penting dan ada plus minusnya
@dAFFA:
Terimakasih
tq mr author for sharing the info with us …. buat saya yg lulusan jadul punya kadang ada bbrp hal yg sudah saya lupakan dlm bidang akunting ini … namun web ini bs jd tempat buat refresh isi otak saya hehe … tq mas, ditgu terus update-nya
@Mommy nico:
Salam kenal. Terimakasih sudah mampir. Saya juga sudah lumayan jadul punya. Tuntutan profesi yg membuat saya harus update terus. Mari sama2 saling sharing.
Artikelnya bagus
,
. klo menurut saya auditor itu seperti wasit pada laporan keuangan andal/tidak andal dan pihak yang independen
Kalo di kampus saya profesi auditor sendiri banyak banget yang berminat, bahkan ketika dosen audit saya menerangkan audit, setiap mahasiswa banyak yang antusias ya mungkin karna feenya jga yang besar namun harus kerja ekstra kera
Terima kasih pak admin, saya banyak sekali terbantu dengan tulisan2 anda karena sy sedang refresh setelah 14 tahun “off” sekarang mulai bekerja lagi..nanti klu ada yang sulit bantuain ya pak ?
Selamat berkarya terus …
wah, terima kasih atas terciptanya jurnalakuntansikeuangan.com ini. tidak hanya pada tulisan ini saya terkesan dan mendapatkan tambahan ilmu.
saya merasa dengan tulisan diatas mendapatkan gambaran tentang karir di bidang akuntansi. kebetulan cita2 saya sebenarnya adalah bekerja di KAP baru kemudian memutuskan untuk terjun di perusahaan. namun pada kenyataanya malah terbalik. sekian banyak KAP yg saya lamar, dan hanya satu perusahaan yang saya lamar, justru di satu perusahaan itu saya mendapatkan panggilan terlebih dahulu dan sekarang strategi berkarir saya terpaksa saya ubah. Perusahaan –> KAP —> wirausaha. itu cita-cita sech..
dan artikel ini memberi saya bantuan tambahan perspektif dalam menerapkan strategi karir saya kedepan.
-SALAM AKUNTAN-
wah sepertinya pengalaman saya mirip sdr Timmy.. sudah kerja di company berapa lama?
Saya belum pernah kerja secara terprogram di KAP atau internal accounting di perusahaan. Profesi saya ngajar, jadi saya belajar terus diajarkan dari berbagai ilmu akuntansi seperti cost, system, audit, tax dan lain2. Kemudian saya beranikan diri untuk menyusun laporan keuangan buat perusahaan yang kecil atau perorangan. Dari situlah berkembang, Akhirnya saya bisa audit, pajak dan lain2. Jadi intinya adalah keberanian, memang saya akui orang yang kerja di KAP yang dimulai dari yunior sampai manajer atau bahkan partner adalah tersystem dan terprogram. Beda dengan saya yang sering kali melakukan terobosan2 yang kadang2 tidak sesuai dengan program. Mahlum bukan hasil didikan KAP, tapi hasil inisiatif sendiri dalam memahami prosedur audit. Saya lakukan itu karena prinsip saya aturan manusia tidak ada yang baku dan bisa disesuaikan asal tidak bertentangan dengan etika, agama.
waaaah, terimaksih ya deskripsinya bagus banget
admin yang terhormat, saya mau minta saran.. di kampus saya untuk tahun terakhir ada dua konsentrasi untuk jurusan akuntansi, auditing dan sistem informasi. menurut admin yang paling dibutuhkan untuk masa sekarang apa?????
hmm sekedar untuk refrensi kepribadian, saya cenderung seseorang yang suka ngotak atik sesuatu. baik yang berwujud maupun tidak.
terimakasih banyak atas perhatian dan jawabannya.. saya tungguuuu
Artikelnya sangat bagus, jempol buat pak admin, memotivasi saya bersemangat untuk membantu perusahan-perusahaan kecil,menengah diluar sana yg membutuhkan pembukuan akuntansi, perpajakan walaupun saya tidak kerja di KAP yang penting sesuai dengan Standar Akuntansi yang berlaku dan thanks sharing ilmunya pak admin
salam kenal & semangat
salam kenal untuk semua, saya pemula di bidang akunting dan pengen banget belajar lebih banyak lagi tentang akunting. Terimakasih buat admin yg udah banyak posting tentang akunting….jempol deh
Saya setuju dengan artikel ini. intinya jangan batasi potensi anda pada satu tempat (pekerjaan) belajar kapanpun dan dimanapun…Jempol Buat admin!
Terimakasih atas tulisan ini. Saya sempat berpikir bahwa menjadi akuntan tidak akan pernah sempurna apabila tidak pernah menuti karir di KAP.
Sekedar sharing, kini saya adalah FM untuk cabang Indonesia pada sebuah perusahaan multinasional. Karena kami hanya berlima, kami harus saling bantu satu sama lain sehingga tidak jarang saya sedikit ‘menyentuh’ operational atau sedikit clash dengan bagian marketing. Sebelumnya saya merasa akunting adl yg paling penting. Namun lama kelamaan saya tersadar jika tanpa marketing/operasional, perusahaan tidak akan menghasilkan, dan tidak akan ada akuntan.
Bukan berarti mktg/operasional adl yg terpenting, sebaliknya, fungsi seorang akuntan adalah sebagai pengontrol keuangan. Kegiatan perusahaan dapat dianalisa apakah sudah sesuai dengan perencanaan dari data keuangan.
Sampai kinipun saya masih belajar dari para senior saya maupun dari rekan departmen lainnya dan itu sangat menyenangkan!
saya menikmati sekali menjadi auditor KAP, prinsip saya ingin 5 tahun di KAP, terus loncat deh ke perusahaan apa yg saya ma, ya tentunya dengan usaha dan doa. lagi pula, kalo ingin cari duit dulu ya jadi auditor ekternal dulu, tentunya di big four yah,,selain itu, ilmunya yg paling penting….
menarik sekali pembahasan yang disampaikan diatas pak, saya setuju dengan pernyataan bapak terkait dengan bagaiaman seorang akuntan yang tidak bekerja pada KAP belum tentu seorang pencundang, mungkin secara implementasi saya menyatakan sebaliknya pak, seorang akuntan yang bekerja pada proses bisnis keuangan-lah yang pantas disebut sebagai sebagai seorang akuntan sejati, alasannya sederhana saja, mereka akan lebih detail untuk memahami dan menerapkan akuntansi yang sebenarnya.
salam kenal pak,
wah, artikel ini menarik sekali. Seorang akuntan dapat bekerja di perusahaan swasta, BUMN, pemerintahan maupun KAP. Pilihan untuk menekuni akuntansi di salah satu bidang memiliki tantangan tersendiri. Yang penting, kita mau belajar dan terus belajar. Saya saat ini bekerja di perusahaan swasta dan berkeinginan untuk menjadi auditor. Saya sedang menyusun planning dan bersegera untuk mencapainya ^_^
Artikel-artikelnya menambah wawasan dan ilmu serta memberikan pola pikir yang lain. Senang sekali membacanya, terima kasih admin
berhubung saya masih di bangku kuliah.
tulisan ini sangat bermanfaat untuk pribadi dalam mengembangkan potensi.
terimakasih bangeett
top dah min…
saya lulusan akunting (dari sekolah sama sekali tak ternama) saya malah tidak berkarir di kedua-duanya, di KAP tidak (sulit karena lulusan tak ternama) di bagian Akunting juga tidak.
tapi mempelajari akunting terus menerus sangat menarik; sekali-sekali membantu teman2 yg perlu bantuan akunting…JAK memberi wawasan berbeda….
salam sukses
mencerahkan sekali artikelnya!
ijin share boleh? saya akan cantumkan link aslinya