Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.


ttd. Jurnal Akuntansi Keuangan


Membuat Jurnal Retur Penjualan Dengan PPN

Membuat Jurnal Retur Penjualan Dengan PPN

Ditulisan sebelumnya saya sudah bahas mengenai cara membuat jurnal barang kembali (retur) TANPA ‘Pajak Pertambahan Nilai (PPN)’—untuk perusahaan yang belum berstatus ‘pengusaha kena pajak (PKP)’. Ditulisan ini saya akan bahas khusus cara membuat jurnal retur penjualan dengan PPN—untuk perusahaan yang sudah berstatus PKP.

Perlakuan akuntansinya sama saja, hanya saja menjadi sedikit lebih rumit karena adanya unsur PPN dalam penjualannya.

 

Contoh Kasus Retur Penjualan Dengan PPN

PT. JAK sudah berstatus PKP. Tanggal 23 September 2011 PT. JAK menjual 10 unit komputer kepada PT. ABC yang juga berstatus PKP seharga Rp 5,000,000 per unit dengan termin pembayaran kredit 30 hari setelah penyerahan. Harga Pokok Penjualan (HPP) 1 unit komputer adalah Rp 4,000,000. Atas transaksi penjualan tersebut dijurnal:

Saat penjualan (23-September-2011):

[Debit]. Piutang Dagang – PT. ABC = Rp 55,000,000

[Kredit]. Penjualan – 10 Unit Komputer = Rp 50,000,000

[Kredit]. Utang PPN = Rp 5,000,000

(Penjualan = 10 x 5,000,000 = 50,000,000. PPN = 10% x 50,000,000 = 5,000,000)

Dan;

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 40,000,000

[Kredit]. Persediaan  – 10 Unit Komputer = Rp 40,000,000

(HPP = 10 x 4,000,000 = Rp 40,000,000)

 

 

Saat Membayar PPN (8 Oktober 2011):

[Debit]. Utang PPN = Rp 5,000,000

[Kredit]. Kas = Rp 5,000,000

 

 

Karena suatu dan lain hal, tanggal 11 Oktober 2011 terjadi retur—atas persetujuan PT. JAK, PT. ABC mengembalikan 3 unit komputer. Atas PPN yang sudah terlanjur dipotong dan disetorkan, dapat dikreditkan pada laporan PPN di masa PPN berikutnya. Dengan catatan, dapat menunjuk  nomor invoice (nota tagihan) dan No seri Faktur pajak keluarannya. Sehingga untuk retur penjualan ini dicatat dengan jurnal:

Saat retur (11 Oktober 2011):

[Debit]. Retur Penjualan – 3 Unit Komputer = Rp 15,000,000

[Debit]. Utang PPN – Retur dari PT. ABC Inv#01, PFK #100.008.256 = Rp 1,500,000

[Kredit]. Piutang Dagang – PT. ABC = Rp 16,500,000

 

 

Perhatikan: setelah jurnal retur penjualan ini dimasukan, maka buku besar akun ‘Utang PPN’ menjadi bersaldo debit sebesar Rp 1,500,000, dan akan terhapus nanti di masa PPN berikutnya.

Katakanlah tanggal 20 Oktober 2011 PT. JAK menjual barang dagangan senilai Rp 100,000,000 kepada PT. XYZ, dengan Harga Pokok Penjualan Rp 90,000,000. Atas penjualan tersebut di jurnal:

Saat Penjualan (20-Oktober-2011):

[Debit]. Piutang Dagang – PT. XYZ = Rp 110,000,000

[Kredit]. Penjualan = Rp 100,000,000

[Kredit]. Utang PPN = Rp 10,000,000

Dan;

[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 90,000,000

[Kredit]. Persediaan = Rp 90,000,000

 

Perhatikan lagi: Setelah jurnal penjualan dimasukkan, maka akun buku besar ‘Utang PPN’ akan menunjukkan angka:

Rp 10,000,000 – Di sisi Debit

Rp   1,500,000 – Di sisi Kredit (-)

Rp   8,500,000 – Saldo Utang PPN

 

Dengan demikian, maka ‘PPN Terutang’ PT. JAK menjadi sebesar Rp 8,500,000 saja. Sehingga saat pembayaran PPN (8 November 2011) di jurnal:

[Debit]. Utang PPN = Rp 8,500,000

[Kredit]. Kas = Rp 8,500,000

 

Setelah jurnal pembayaran PPN  di atas dimasukan, maka saldo akun ‘Utang PPN’ di buku besar menjadi nol, alias lunas.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Apakah Pajak Bisa Diakali?

Bagi mereka yang berprofesi sebagai konsultan keuangan atau pajak, “apakah pajak bisa diakali?” ini adalah pertanyaan yang lumrah didengar, terutama

Praktek Konsultan Pajak Di Masa Kini dan Yang Akan Datang

Ini lanjutan dari seri sebelumnya “Apakah Profesi Kunsultan Pajak Masih Menjanjikan?” Di tulisan tersebut saya sudah paparkan (berdasarkan pengalaman dan

Kantor Pajak AS Makin Gencar Mengejar Para Bankir Bank Swiss

Kantor pajak AS, Internal Revenue Services (IRS) makin gencar mengejar dan menangkapi bankir-bankir bank swiss—yang diduga terlibat penghindaran, penggelapan, dan

  1. Prasetyo Sidi
    Prasetyo Sidi 17 February, 2012, 23:41

    Saya sangat senang, gembira dan bangga masih ada anak bangsa yang peduli terhadap bangsanya, dan ini harus sebagai contoh ataupun tonggak demi kemajuan pendidikan di Indonesia. Saya adalah salah satu pendidik (guru) SMK bidang manajemen dan akuntansi di daerah perbatasan (Kalimantan Utara – Tarakan) sangat terbantu dengan adanya JAK ini. Karena seperti diketahui daerah perbatasan masih jauh tertinggal dalam pendidikan dengan derah di jawa dsk. Semoga JAK maupun siapapun yang peduli terhadap pendidikan di Indonesia ikut memperhatikan dan memajukan SDM daerah perbatasan. JAK semoga sukses selalu. Salam dari TARAKAN Kalimantan Utara.

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 19 February, 2012, 04:19

      Salute dengan Mas Parsetyo dan kawan-kawan lain yang bersedia mengadi di perbatasan, tentunya sangat membantu anak-anak di sana. Dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi seperti sekarang, mudah-mudahan bisa kita manfaatkan untuk berbuat sesuatu, meskipun mungkin hanya hal kecil seperti yg dilakukan oleh JAK. Dari jauh JAK doakan semoga lancar dalam menjalankan tugas dan pengabdian anda memperoleh balasan dari Tuhan.

      Reply this comment
  2. YOAN
    YOAN 3 June, 2012, 15:16

    Terimakasih penjelasan’nya,,sangat mudah difahami..
    sangat membantu dlm mngrjakan tugas kuliah,mengingat saya msh sngt baru dlm mmpelajari akuntansi..
    terimakasih bnyk.. ^_^

    Reply this comment
  3. Wahyo Sugiri Hs.
    Wahyo Sugiri Hs. 26 September, 2012, 14:44

    Saran Mas. Akan lebih baik lagi jika contoh transaksinya ditambah hingga meliputi penjualan kredit, retur penjualan dan penerimaan piutang yg memperhitungkan potongan penjualan. Karena masih ada polemik ” saat penerimaan piutang pada masa potongan akan membawa konsekuensi pengurangan terhadap utang PPN/PPN Keluaran ataukah tidak mengurangi PPN Keluaran” Ini masalahnya di sini mas !.Terima Kasih.

    Reply this comment
  4. Noval
    Noval 7 March, 2013, 04:46

    bagaimana membuat jurnal retur penjualan, returnya setelah piutangnya dibayar ?
    Thanks.

    Reply this comment
  5. arief
    arief 8 May, 2013, 13:12

    saya salah satu dosen akuntansi di wearnes , bagaimana kalau jurnal mtersebut di sertai cara logika akuntansi , mis : kalau ada retur penjualan artinya terjadi pengembalian penjualan dan bisa di di sertai pajak keluaran , bagaimana mas , biar rekan rekan lebih mengerti , makasih atas bantuannya

    Reply this comment
  6. arief
    arief 8 May, 2013, 13:13

    bagaimana membuat retur penjualan setelah ada potongan penjualan

    Reply this comment
  7. jt
    jt 30 July, 2013, 18:23

    Saat retur apakah persediaan dan HPP tidak dijurnal juga, karena persediaan yang sudah dijual kan kembali lagi.
    Jadi jurnal saat ada retur penjualan (11 Oktober 2011):
    [Debit]. Retur Penjualan – 3 Unit Komputer = Rp 15,000,000
    [Debit]. Utang PPN – Retur dari PT. ABC Inv#01, PFK #100.008.256 = Rp 1,500,000
    [Kredit]. Piutang Dagang – PT. ABC = Rp 16,500,000

    [Debet] Persediaan 3 unit x 4.000.000 = 12.000.000
    [Kredit] HPP 12.000.000

    Mohon koreksinya jika saya salah.

    Reply this comment
  8. Riko Septano Wahyudi
    Riko Septano Wahyudi 19 February, 2014, 02:48

    terima kasih atas info nya…. sangat sangat membantu untuk memahami cara pencatatan pajak….

    Regards,

    Riko Septano Wahyudi

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*