Jurnal Akuntansi Keuangan

Membuat Jurnal Dan Menangani Barang Kembali atau Retur

Membuat Jurnal Dan Menangani Barang Kembali atau Retur

Barang kembali (retur) lumrah terjadi dalam aktivitas bisnis, terutama di perusahaan yang bidang usahanya perdagangan. Bagaimana membuat jurnal barang kembali (retur)? Membuat jurnalnya sih sangat mudah—hanya dua pasang. Tetapi ada beberapa aktivitas yang jauh lebih penting dari sekedar menjurnal, sehubungan dengan barang kembali.

Tentu. Boleh saja berpikir bahwa tugas anda di bagian accounting hanya mencatat, diluar itu sudah bukan tanggungjawab anda lagi.

Pertanyaan saya: Apakah benar anda hanya mau jadi tukang catat atau tukang jurnal? Selamanya? Apa tidak sayang, pendidikan S1 Akuntansi hanya untuk jadi tukang catat?

Saya meragukan jika jawaban anda adalah “IYA”.

Atas dasar pertimbangan itu maka saya menyertakan aktivitas yang perlu dilakukan sebelum menjurnal—jika anda tidak ingin berhenti hanya sampai menjadi tukang catat.

Ada 2 tugas bagian accounting, selain mencatat dan melaporkan, yang seringkali diabaikan, yaitu:

1. Menyediakan Data Untuk Bahan Pertimbangan Sebelum Mengambil Keputusan Bisnis – Selain untuk menyediakan laporan keuangan bagi pihak eksternal bagian accounting juga diharapkan dapat menyediakan data atau informasi keuangan yang dapat dijadikan dasar pertimbangan untuk mengambil keputusan-keputusan bisnis. Dan untuk maksud tersebut, data keuangan minimal harus: AKURAT dan BENAR.

2. Memastikan Aset Perusahaan Digunakan Secara Efisisen –  Ini terkait dengan pengendalian intern, yang di perusahaan-perusahaan menengah kebawah biasanya jarang memperoleh perhatian serius. Dalam hal ini bagian accounting mestinya bisa membantu perusahaan untuk mencegah potensi kerugian dari sisi adminsitratifnya.

 

 

Hal-Hal Yang Perlu Dilakukan Sebelum Menjurnal Barang Kembali

Barang kembali, apapun penyebabnya, adalah kerugian bagi perusahaan. Disamping mengurangi nilai penjualan juga menimbulkan biaya-biaya tambahan, antara lain: besar kemungkinannya onkos pengiriman barang kembali ditanggung oleh perusahaan. Jika itu memerlukan barang pengganti, ongkos kirim penggantinya juga mungkin ditanggung oleh perusahaan. Jika perlu perbaikan (revisi), itu artinya perusahaan harus menanggung extra biaya, extra cost.

Oleh sebab itu, barang kembali harus mendapat penanganan yang serius. Jangan sekali-kali menggampangkannya. Ada beberapa hal yang bisa anda laukan (sebagai pegawai di bagian accounting) sebelum menjurnal, minimal lakukan VERIFIKASI mengenai:

1. Keakuratan angka – Verifikasi kebenaran angka yang tertera di surat jalan yang menyertai barang kembali. Itu bisa dilakukan dengan cara:

  • Minta bagian penerimaan barang melakukan penghitungan fisik, untuk mengetahui apakah jumlah barang kembali yang tertera di dokumen sudah sama dengan fisiknya?
  • Jika jumlah fisiknya sudah sama, periksa unit price-nya, apakah sama dengan unit price yang tertera diinvoice waktu perusahaan mengirimkan barang tersebut ke pelanggan.
  • Periksa perhitungannya (Unit price x jumlah barang)

2. Kebenaran Prosedur – Hal ini penting dilakukan untuk memastikan: apakah pengembalian barang ini sah adanya? Untuk melakukan verifikasi kebenaran prosedur, anda bisa membaca SOP (Standar Operation and Procedure) mengenai barang kembali, jika tersedia. Jika tidak, anda bisa menanyakan perihal pengembalian barang tersebut kepada bagian marketing atau penjualan. Tanyakan:

  • Apakah mereka sudah tahu ada barang retur?
  • Mengaap ada barang retur? Apa yang salah?
  • Apakah pengembalian barang itu tidak melanggar kesepakatan penjualan?
  • Apakah barang yang dikembalikan itu memerlukan barang pengganti? Atau harus diperbaiki?
  • Siapa yang akan menanggung biaya pengiriman?

Dengan demikian, maka anda bukan saja telah menunjukan tanggungjawab secara serius, tetapi juga mendapat informasi-informasi penting yang dapat diantisipasi lebih awal—misalnya: apakah anda akan perlu membuat invoice untuk barang pengganti (atau revisi) tersebut, anda juga akan tahu apakah akan timbul biaya kirim, anda akan tahu apakah akan ada biaya extra untuk melakukan revisi, dan lain sebagainya.

Dengan langkah verifikasi ini, minimal anda bisa mantap dan yakin bahwa:

  • Angka yang akan anda masukan ke dalam jurnal barang kembali (retur) adalah akurat, bisa dipertanggungjawabkan.
  • Anda telah melakukan tindakan pencegahan yang cukup terhadap kemungkinan timbulnya kerugian—bayangkan kalau misalnya anda tidak melakukan verfikasi padahal barang retur tersebut tidak sah, tidak sesuai dengan kesepakatan penjualan, maka perusahaan mengalami kerugian yang tidak seharusnya terjadi, bukan?

 

 

Membuat Jurnal Barang Kembali (Retur)

Kalau verifikasi terhadap barang lembali sudah dilakukan (angka sudah benar, prosedur barang kembali telah diikuti, dan pengembalian barang tersebut memang sah adanya), maka anda bisa mulai menyaipkan jurnal barang kembali (retur).

Seperti telah sampaikan di awal, bahwa membuat jurnal barang kembali (retur) sangat mudah. Anda hanya perlu membuat 2 jurnal, yaitu: (1) untuk mengakui berkurangnya penjualan (sales) sekaligus mengurangi nilai buku piutang (tagihan), dan (2) menambahkan barang persediaan yang dikembalikan ke dalam buku persediaan sekaligus mengurangi saldo haga pokok penjualan.

Misalnya:

Anda adalah pegawai di bagian accounting PT.JAK. Tanggal 23 September 2011, PT. JAK yang belum berstatus PKP menerima barang kembali dari PT. XYZ berupa 5 unit komputer dengan harga Rp 5,000,000 per unit dengan Harga Pokok Penjualan Rp 4,000,000 per unit. Ongkos kirim barang kembali TIKI Rp 250,000 ditanggung oleh JAK. Anda sudah melakukan verifikasi seperlunya, dan datanya sudah akurat.

Jurnal yang diperlukan:

[Debit]. Retur Penjualan = Rp 25,000,000

[Debit]. Biaya Kirim – Ekspedisi = Rp 250,000

[Kredit]. Piutang – PT. XYZ = Rp 25,000,000

[Kredit]. Utang – Tiki = Rp 250,000

(Catatan: Rp 5,000,000 x 5 = 25,000,000. Jika anda menggunakan software akuntansi, mungkin anda perlu menelusuri invoice-nya saat penjualan terjadi, sehingga jurnal barang kembalinya bisa menunjuk langsung invoice penjualannya).

Dan;

[Debit]. Persediaan – 5 Unit Komputer = Rp 20,000,000

[Kredit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 20,000.000

(CatatanRp 4,000,000 x 5 = Rp 20,000,000)

Dalam setiap jurnal barang kembali (retur) yang dibuat, diusahakan agar selalu mengikutsertakan informasi yang diperlukan, mungkin bisa dilatkan di description jurnal-nya.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Belajar Akuntansi Gampang-Gampang Susah

Komentar orang yang pertamakali mencoba memahami Akuntansi, biasanya beragam. Ada yang bilang, “Ternyata gampang ya..”. Tetapi lebih banyak yang bilang

Kesalahan Akuntansi Paling Umum Oleh Pengusaha Kecil

Menjadi pengusaha—sekecil apapun skala usahanya—pastilah bukan perkara mudah. Membidik peluang dan mengubahnya menjadi bisnis adalah bakat yang hanya dimiliki oleh

Kriteria Aktiva Tak Berwujud (Intangible Asset)

Menurut PSAK 19 (Revisi 2009), aktiva atau aset tidak berwujud adalah aset nonmoneter yang dapat diidentifikasi tanpa wujud fisik. Terdengar

  1. Hotdin
    Hotdin 13 June, 2012, 18:02

    Maaf Pak Administrator, saya mau tanya. ini terkait dengan pertanyaan saya di topik “Cara menghitung HPP”.
    Saya sedang membuat software trading dan sedang bingung di akuntansi nya.
    Contoh Kasus :
    PT. JAK membeli barang dari PT. XYZ (kedua2 nya sama pkp). Barang yang dibeli misalnya adalah 10 unit handphone @100,000. Pembelian dengan PPN 10%. 1 minggu kemudian PT. jak me-retur 3 unit handphone tersebut dikarenakan rusak. Nah, yang mau saya tanyakan adalah, bagaimana jurnal nya pada saat pembelian, dan bagaimana jurnalnya pada saat retur?
    Maaf pak kalo pertanyaannya seperti ini. Saya masih sangat buta akuntansi.

    Reply this comment
  2. hotdin
    hotdin 13 June, 2012, 18:08

    Pertanyaan yang kedua pak administrator.
    Contoh Kasus :
    PT. ABC adalah perusahaan yang bergerak dibidang kontraktor.
    Misalnya :
    PT. ABC punya proyek baru dan untuk keperluan proyek tersebut, maka gudang mengirim 10 kaleng oli. Pada titik ini, otomatis stok oli berkurang sebanyak 10, tapi tidak mengupdate kartu piutang.
    Kemudian setelah proyek selesai, ternyata ada 3 kaleng oli yang tersisa. dan dikembalikan ke gudang. Berarti stok oli bertambah 3 kaleng.
    Nah, bagaimana saya harus membuat jurnalnya pada saat barang tersebut dikeluarkan dan pada saat barang tersebut di kembalikan lagi kegudang?
    Mohon pencerahannya..

    Reply this comment
  3. Andi
    Andi 29 October, 2012, 09:49

    Om Admin sy mo nanya nich…..
    1. Akun retur penjualan & retur pembelian termasuk pada jenis rekening apa? (Aktiva/Kewajiban/Modal/Pendapatan ataukah Biaya)
    2. Akun retur penjualan & retur pembelian jika bertambah masuk ke sisi debet/kredit, jika berkurang masuk ke sisi debet/kredit dan saldonya masuk ke debet/kredit?

    thanks atas pencerahannya……..

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*