Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H.


ttd. Jurnal Akuntansi Keuangan


Intisari Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Intisari Perlakuan Akuntansi Aktiva Tetap

Apa intisari perlakuan akuntansi aktiva tetap? Jawaban saya: Bukan sesuatu yang dapat dijabarkan dengan mudah. Juga bukan sesuatu yang bisa dipelajari secara instant. Maksud saya, memahami perlakuan akuntansi aktiva tetap hingga mendetail bukanlah hal yang bisa dicapai dalam waktu singkat.

Saya tidak bermaksud mengatakannya super-sulit. Tetapi, pengetahuan dan keahlian mengenai aktiva tetap bukanlah sesuatu yang bisa diperoleh dari hasil membaca satu sumber saja, baik itu dari buku maupun seminar, bahkan dari PSAK, terlebih-lebih dari satu halaman website saja (termasuk JAK). Mustahil.

Perlakuan akuntansi aktiva tetap adalah salah satu topik bahasan yang luas di wilayah Akuntansi. Perlu satu buku khusus untuk membahasnya. Ke depannya, saya ingin membahas akuntansi aktiva tetap secara bertahap hingga ke hal-hal yang paling rinci, baik itu dari aspek konsep/teori, standar dan best practice-nya.

Untuk kesempatan kali ini, saya akan tuliskan perlakuan akuntansi aktiva tetap secara ringkas—bisa dibilang.. intisarinya saja—tanpa mengurangi esensi prinsip yang berlaku. Perlakuan akuntansi aktiva tetap ini saya kemas dalam bentuk tanya jawab ringkas, dibagi menjadi sub-sub topic untuk mempermudah navigasi dan pemahaman yang logis.

 

 

Kapitalisasi Perolehan Aktiva Tetap

1. Pertanyaan: Biaya apa saja dan berapa jumlah yang dikapitalisasi pada perolehan (pembelian) aktiva tetap?

Jawaban:

Yang dikapitalisasi = Harga Perolehan + Biaya yang dikeluarkan dalam mempersiapkan aktiva tersebut untuk penggunaan yang dimaksudkan

Harga Perolehan = Nilai Pasar Wajar aktiva diterima (jika aktiva diperoleh dengan cara membeli); atau Kas yang dibayarkan ditambah Nilai Pasar Wajar aktiva yang diberikan (jika aktiva diperoleh dengan cara pertukaran).

2. Pertanyaan: Bagaimana membuat jurnal aktiva tetap yang diterima sebagai hadiah atau sumbangan?

Jawaban:

[Debit]. Aktiva (pada Nilai Pasar Wajar) = xx

[Kredit]. Pendapatan = xx

3. Pertanyaan: Biaya apalagi yang harus dikapitalisasi sehubungan dengan perolehan aktiva tetap (melalui pembelian, pertukaran, maupun sebagai hadiah)?

Jawaban:

Biaya pengiriman, biaya asuransi selama pengiriman, biaya instalasi dan biaya pengujian (jika ada).

 

 

Aktiva ‘Tanah-dan-Bangunan’

4. Pertanyaan: Berapa besarnya biaya perolehan aktiva tanah dan bangunan yang diakui sebagai harga perolehan?

Jawaban:

Harga pembelian + pajak + biaya legalitas (notaris) + asuransi (jika ada)

5. Pertanyaan: Bagaimana mengalokasikan total harga perolehan aktiva ‘tanah-dan-bangunan’ ke masing-masing tanah dan bangunan, menggunakan metode ‘Nilai Pasar Wajar Relatif ‘?

Jawaban:

Pertama, tentukan Nilai Pasar Wajar secara keseluruhan (lihat jawaban atas pertanyaan nomor 4)

Kedua, alokasikan angka yang didapat pada langkah pertama, dengan cara:

  • Untuk tanah = Nilai Pasar Wajar tanah / (total nilai wajar ‘tanah dan bangunan’ x Total Biaya)
  • Untuk bangunan = Nilai Pasar Wajar bangunan / (total nilai ‘wajar tanah dan bangunan’ x total biaya biaya)

 

 

Kapitalisasi Bunga

6. Pertanyaan: Secara umum atas apa yang boleh dan tidak boleh dikapitalisasi?

Jawaban:

Segala biaya yang timbul atas aktiva yang dibangun untuk digunakan perusahaan atau aktiva yang diproduksi untuk dijual kembali—yang dihasilkan dari pesanan khusus. BUKAN atas aktiva persediaan yang diproduksi dalam kegiatan usaha normal.

 

7. Pertanyaan: bunga atas apa yang harus dikapitalisasi?

Jawaban:

Bunga yang dikapitalisasi: Bunga pinjaman yang dikeluarkan untuk pembangunan aktiva, atau bunga atas hutang lain yang dapat dihindari dengan cara pelunasan.

 

8. Pertanyaan: Apa yang harus dihitung?

Jawaban:

Dihitung pada: komulatif pengeluaran rata-rata tertimbang (weighted-average cost accumulated)

 

 

Biaya Yang Timbul Setelah Perolehan Aktiva Tetap

9. Pertanyaan: Setelah perolehan aktiva tetap biaya yang seperti apa atau yang bagaimana yang dikapitalisasikan?

Jawaban:

Kapitalisasi segala biaya terkait aktiva tetap yang:

  • Meningkatan Nilai – segala pengeluaran (biaya) terkait aktiva tetap yang dapat membuat nilai aktiva tersebut menjadi lebih tinggi, misalnya: tambahan bangunan gedung membuat nilai jual gedng menjadi lebih tinggi.
  • Meningkatkan Efisiensi – segala pengeluaran yang membuat aktiva dapat bekerja lebih efisien. Dalam kondisi normal mesin A mampu menyelesaikan satu unit produk dalam 20 menit. Setelah dimodifikasi, mesin jadi mampu menyelesaikan satu unit produk dalam waktu 15 menit.
  • Memperpanjang Usia – segala biaya yang membuat usia ekonomis menjadi lebih panjang.

Jangan kapitalisasi biaya: Perbaikan dan pemeliharaan yang hanya membuat aktiva berfungsi normal.

 

Penyusutan (Depresiasi) Aktiva Tetap

10. Pertanyaan: Hal (informasi) dasar apa yang perlu diketahui terkait dengan penyusutan atau depresiasi?

Jawaban:

Berikut ini adalah hal-hal pokok yang perlu dketahui:

  • Aktiva tanah tidak disusutkan
  • Tarif penyusutan metode garis-lurus = 100% / Usia ekonomis/manfaat (dalam tahaun).
  • Dasar penyusutan = Biaya Perolehan (lihat pertanyaan 4)  - nilai residu (nilai sisa)
  • Nilai buku = Biaya Perolehan – Akumulasi Penyusutan

Catatan: Biaya perolehan adalah semua biaya yang dikapitalisasi (lihat kapitalisasi biaya aktiva tetap)

11. Pertanyaan: Metode penyusutan mana yang sesuai untuk diterapkan?

Jawaban:

  • Gunakan metode garis-lurus bila manfaat aktiva berkurang secara merata dari tahun-ke-tahun.
  • Gunakan metode percepatan bila aktiva lebih produktif di masa awal-awal penggunaan; atau biaya pemeliharaan meningkat tajam di masa-masa belakangan; atau risiko keusangan aktiva lebih tinggi di masa-masa belakangan.
  • Gunakan metode unit produksi bila manfaat aktiva menurun seiring dengan bertambahnya output yang dihasilkan (biasanya aktiva mesin dan peralatan).

12. Pertanyaan: Bagaimana caranya menghitung penyusutan dengan Metode Garis-Lurus (Straight-Line)?

Jawaban:

Penyusutan Tahunan = Dasar Penyusutan x Tarif garis lurus (lihat pertanyaan 10)

Penyusutan Parsial (Bulanan) = Penyusutan Tahunan  x Porsi Prasial (Bulanan)

13. Bagaimana caranya menghitung penyusutan dengan Metode Saldo Menurun Berganda (Double Declining Balance)?

Jawaban:

Penyusutan Tahunan  = (Nilai Buku x tarif garis lurus ) x 2

Penyusutan Parsial (Bulanan) = [(Nilai Buku x tarif garis lurus) x 2] x porsi parsial (bulanan).

 

14. Bagaimana caranya menghitung penyusutan dengan Metode Angka Tahun (Sum-of-Years’-Digit)?

Jawaban:

Penyusutan Tahunan = dasar Pengusutan x Angka Fraksi Penyusutan
Fraksi:                            Tahun Ke-1      Tahun Ke-2     Tahun Ke-3

Pembilang                            n                         n-1                     n-2

Penyebut                    [n (n +1)] / 2     [n (n +1)] / 2     [n (n +1)] / 2

Penyusutan Parsial (Bulanan):

  • Tahun Ke-1 =  Depresiasi tahun ke-1 x porsi bulanan
  • Tahun Ke-2 =  Sisa penyusutan tahun ke-1 + (penyusutan tahun ke-2 x porsi bulanan)
  • Tahun Ke-3 =  Sisa penyusutan tahun ke-2 + (penyusutan tahun ke-3 x porsi bulanan)

15. Bagaimana cara menghitung penyusutan menggunakan Metode Unit Produksi?

Jawaban:

Penyusutan Tahunan = Tarif Penyusutan x Jumlah unit (jam digunakan) yang diproduksi
Tarif Penyusutan = Dasar Penyusutan / Total perkiraan unit yang akan dihasilkan (jam)

16. Bagaimana menghitung penyusutan menggunakan Metode Kelompok atau Komposit?

Jawaban:

Hampir sama dengan metode garis lurus. Hanya saja, ‘Laba/Rugi’ tidak diakui pada saat penarikan aktiva dari penggunaannya. Sehingga jurnal penarikan aktiva akan menjadi sbb:

[Debit]. Kas (yang timbul dari proses penarikan) = xx

[Debit]. Akumulasi Penyusutan (dari daftar jadwal penyusutan) = xx

[Kredit]. Aktiva yang ditarik (sebesar harga perolehan) = xx

 

 

Penurunan Nilai Aktiva Tetap (Impairment)

17. Pertanyaan: Kapan penurunan nilai (impairment) atas aktiva akan terjadi?

Jawaban:

Penurunan nilai aktiva tetap (impairment) terjadi jika ‘arus kas terdiskonto masa depan’ lebih kecil dibandingkan dengan ‘nilai tercatat aktiva’ dari peristiwa: penurunan nilai pasar aktiva, atau akibat tindakan yang merugikan, atau akibat penilaian kembali (revaluasi) oleh pihak regulator, atau adanya kerugian operasi (maupun aliran kas) terkait dengan ‘aktiva-penghasil-pendapatan’ (mesin, misalnya).

18. Pertanyaan: Apa yang harus dilakukan jika rugi penurunan nilai (impairment loss) terjadi?

Jawaban:

Ketika rugi penurunan nilai (impairment loss) terjadi: turunkan ‘nilai tercatat aktiva’ sehingga menjadi sebesar ‘nilai pasar wajar’ (atau ‘arus kas bersih terdiskonto’). Jurnalnya:

[Debit]. Rugi penurunan nilai (impairment loss) = xx

[Cerdit]. Akumulasi penyusutan = xx

Catatan: Setelah jurnal dimasukan, nilai aktiva menjadi sebesar ‘nilai pasar wajar’—tanpa akumulasi penyusutan (seolah-olah baru diperoleh). Uji penurunan nilai (aliras kas masa datang) berbeda dengan penghapusan nilai aktiva (nilai bersih terealisasi).

19. Pertanyaan: Bisa memberikan contoh penerapan  impairment (penurunan nilai) aktiva tetap?

Jawaban:

Berikut adalah dua contoh yang bisa mewakili penerapan peraturan penurunan nilai:

Contoh 1: Sebuah aktiva memiliki nilai tercatat sebesar Rp 1,000,000, arus kas masa depan terdiskonto yang diharapkan dari aktiva tersebut adalah Rp 900,000, sedangkan nilai pasar wajar-nya hanya sebesar Rp 600,000. Dalam kasus ini, TERJADI penurunan nilai, karena arus kas terdiskonto yang diperkirakan (sebesar Rp 900,000) LEBIH KECIL dibandingkan dengan nilai tercatat aktiva tersebut (yang Rp 1,000,000). Untuk itu, catat penurunan nilai aktiva sebesar Rp 400,000 (Nilai tercatat yang semula Rp 1,000,000 menurun menjadi Rp 600,000).

Contoh 2: Suatu aktiva memiliki nilai tercatat sebesar Rp 800.000, arus kas masa depan terdiskonto yang dapat diharapkan dari aktiva kas tersebut adalah Rp 900,000, dan nilai pasar wajarnya hanya Rp 600,000. Dalam kasus ini, penurunan nilai TIDAK TERJADI, karena arus kas yang diharapkan (Rp 900,000) LEBIH BESAR dibandingkan dengan nilai tercatat (yang sebesar Rp 900,000).

 

 

Penarikan Aktiva Tetap

20. Pertanyaan: Seperti apa jurnal penarikan aktiva tetap, secara umum?

Jawaban:

[Debit]. Kas (hasil) = xx

[Debit]. Akumulasi penyusutan (sisanya) = xx

[Debit]. Rugi penarikan (selisihnya) = xx

[Kredit]. Laba penarikan (selisihnya) = xx

[Kredit]. Akativa Tetap (sebesar perolehan) = xx

Catatan: Penarikan yang dilakukan secara terpaksa (misalnya karena kerusakan) perlakuannya sama dengan penarikan dengan cara dijual.

21. Pertanyaan: Seperti apa jurnal pertukaran aktiva tetap non-moneter?

Jawaban:

[Debit]. Kas (jumlah yang diterima)

[Debit]. Aktiva – baru (nilai pasar wajar) = xx

[Debit]. Akumulasi penyusutan (sebesar saldo nilai buku aktiva lama) = xx

[Debit]. Rugi penarikan (selisihnya)

[Kredit]. Kas (jumlah yang dibayarkan)

[Kredit]. Laba penarikan (selisihnya) = xx

[Kredit]. Aktiva Tetap – Lama (sebesar perolehan) = xx

22. Pertanyaan: Bagaimana caranya menghitung nilai wajar dalam pertukaran aktiva non-moneter?

Jawaban:

Nilai wajar dalam pertukaran aktiva non-moneter = Nilai wajar aktiva yang diterima atau nilai wajar yang diberika + Kas dibayarkan – Kas diterima

23. Pertanyaan: Bagaimana caranya menentukan Laba/Rugi dalam pertukaran aktiva tetap, dan bagaimana cara menjurnal pengakuan untung/rugi tersebut?

Jawaban:

Akui RUGI jika Nilai Pasar Wajar aktiva yang diterima LEBIH KECIL dari Nilai Tercatat (Nilai Buku) Aktiva yang diberikan. Rugi pertukaran aktiva tetap diakui dengan memasukan jurnal sbb:

[Debit]. Kas (jumlah yang diterima) = xx

[Debit]. Aktiva – Baru (Nilai Pasar Wajar) = xx

[Debit]. Rugi pertukaran (Selisih) = xx

[Kredit]. Kas (jumlah yang dibayar) = xx

[Kredit]. Aktiva – Lama (sebesar nilai buku) = xx

 

Akui LABA jika nilai pasar wajar aktiva yang diterima LEBIH BESAR dari Nilai tercatat (Nilai Buku) aktiva yang diberikan (Laba pertukaran diakui hanya jika ada kas yang diterima). Jumlah laba yang diakui = (Nilai Pasar Wajar aktiva Diterima – Nilai Tercata/Buku yang diberikan) x persentase. Catatan: * Persentase = Kas diterima / (kas + Nilai Pasar Wajar aktiva yang diterima). Laba Pertukaran diakui dengan memasukan jurnal sbb:

[Debit]. Kas (jumlah yang diterima) = xx

[Debit]. Aktiva Baru (Selisih)) = xx

[Kredit]. Laba pembuangan (hasil perhitungan) = xx

[Kredit]. Aktiva-Lama (nilai tercatat) = xx

 

TIDAK ADA laba/rugi yang perlu diakui jika tidak ada kas diterima/dibayarkan yang menyertai pertukaran.

 

Saya berharap intisari perlakuan akuntansi aktiva tetap ini bisa menjadi pegangan ringkas bagi siapa saja yang membutuhkan petunjuk singkat mengenai aktiva tetap untuk keperluan kerja maupun belajar.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Akuntansi Pendapatan: Beberapa Macam Metode Pengakuan Pendapatan

Perbedaan metode pengakuan pendapatan bisa membuat perusahaan menjadi nampak lebih profitable atau tidak, nampak sehat atau sakit-sakitan. Lucu dan ajaibnya,

Pengakuan Aset Tetap Bangunan Belum Jadi

JAK menerima pertanyaan mengenai pengakuan “aset tetap bangunan (rumah) belum jadi” yang cukup menarik dari pembaca. Berikut adalah petikan pertanyaannya: “Selamat

Translasi Lap Keu Part 2: Prosedur Translasi Ke Dalam Mata Uang Fungsional

Di “Prosedur Translasi (Laporan Keuangan) Mata Uang Asing Menurut IFRS Part 1” sudah dibahas mengenai cara mentranslasikan laporan keuangan anak

25 komentar

Silahkan Berkomentar
  1. fitrida
    fitrida 12 March, 2014, 14:23

    mlm pak,
    saya mau tanya berkaitan tentang penilaian kembali (revaluasi) untuk tanah. misal: ketika mkembeli, harga perolehan tanah 10jt..di akhir tahun harga tanah naik menjadi 15jt..bagaimana pencatatan akuntansinya pak?thx

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*