Belajar Akuntansi, Keuangan atau Pajak? Tak harus tegang! Santai saja...


Dan, tak perlu bayar. Jika bermanfaat cukup dishare


Pengakuan, Pengukuran dan Pelaporan Surat Berharga Pada Bank

Pengakuan, Pengukuran dan Pelaporan Surat Berharga Pada Bank

Atas surat berharga yang dibeli, bank perlu melakukan pengakuan, pengukuran dan penyajian (disclosure) dalam laporan keuangannya. Jika ada reklasifikasi, bank juga melakukan pengakuan dan pengukuran seperti pada surat berharga yang diperoleh dengan cara membeli. Kapan pengakuan dilakukan, berapa besarnya, dan bagaimana disajikan dalam laporan keuangan bank? Silahkan dibaca.

 

 

Pengakuan dan Pengukuran Atas Pembelian Surat Berharga

Pengakuan dan pengukuran atas surat berharga biasanay terjadi pada saat transaksi pembelian. Tetapi, ada kalanya juga dilakukan setelah transaksi pembelian. Pengakuan dan pengukurannya dilakukan sebagai berikut:

Pada saat pembelian surat berharga, bank mengakui “Surat Berharga yang Dimiliki” sebesar nilai wajar sesuai dengan kategorinya masing-masing, yaitu:

1. Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi – Pada saat pembelian dicatat sebesar nilai wajar surat berharga yang pada saat pengakuan awal umumnya sama dengan harga pembelian surat berharga.

2 Tersedia untuk Dijual –  Pada saat pembelian dicatat sebesar nilai wajar surat berharga dengan memperhitungkan pendapatan dan/atau beban yang dapat diatribusikan langsung pada pembelian surat berharga.

3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo – Pengakuan atau pencatatan dilakukan sama dengan surat berharga yang berkategori ‘Tersedia Untuk Dijual’.

4 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang – Pengakuan atau pencatatan dilakukan sama dengan surat berharga yang berkategori ‘Tersedia Untuk Dijual’.

Dalam hal surat berharga dibeli di antara tanggal pembayaran bunga, maka pembayaran bunga tersebut bukan merupakan bagian dari biaya perolehan, tetapi dimasukkan dalam pos pendapatan bunga yang masih akan diterima.

Setelah pembelian surat berharga, bank mencatat “Surat berharga yang dimiliki” sebagai berikut:

1 Diukur pada Nilai Wajar melalui Laporan Laba Rugi – Setelah pembelian dicatat sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui pada laporan laba rugi.

2 Tersedia untuk Dijual – Pencatatan setelah pembelian dilakukan sebesar nilai wajar. Keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar surat berharga diakui secara langsung dalam ekuitas.

3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo – Pencatatan setelah pembelian dilakukan sebesar biaya perolehan diamortisasi (amortised cost), yaitu nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal dikurangi pembayaran pokok, ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif.

4 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang – Sama seperti pengakuan surat berharga berkategori ‘Dimiliki Hingga Jatuh Tempo’.

Khusus untuk surat berharga dalam kategori ‘Tersedia untuk Dijual’:

  • Jika memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) diamortisasi dalam laporan laba rugi menggunakan suku bunga efektif. Selanjutnya, dalam hal terjadi perubahan nilai wajar, maka keuntungan atau kerugian yang diakui secara langsung dalam ekuitas adalah selisih antara nilai wajar dan nilai tercatat setelah memperhitungkan amortisasi.
  • Jika tidak memiliki pembayaran tetap atau telah ditentukan dan memiliki jangka waktu yang tidak terbatas. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung pada pembelian surat berharga (yang pada saat pengakuan awal merupakan bagian dari nilai wajar surat berharga tersebut) tidak diamortisasi dalam laporan laba rugi dan diakui dalam laporan laba rugi ketika dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai. Selanjutnya, keuntungan atau kerugian yang timbul karena perubahan nilai wajar diakui secara langsung dalam ekuitas.

Pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk surat berharga mengacu pada pengertian biaya transaksi dan perlakuan amortisasi atas biaya transaksi untuk kredit.

 

 

Pengkuan dan Pengukuran Reklasifikasi Surat Berharga

Reklasifikasi surat berharga diakui sebesar nilai wajar dan laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal reklasifikasi, harus diakui sebagai berikut:

  • Untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori ‘Dimiliki Hingga Jatuh Tempo’ ke kategori ‘Tersedia untuk Dijual‘, laba atau rugi yang belum direalisasi diakui dalam ekuitas secara terpisah pada tanggal reklasifikasi;
  • Untuk surat berharga yang direklasifikasi dari kategori ‘Tersedia untuk Dijual’ ke kategori ‘Dimiliki Hingga Jatuh Tempo’, laba atau rugi yang belum direalisasi pada tanggal transfer reklasifikasi harus tetap dilaporkan dalam ekuitas secara terpisah, namun harus diamortisasi selama masa manfaat surat berharga dengan cara yang konsisten dengan amortisasi premi atau diskonto. Amortisasi laba atau rugi yang belum direalisasi tersebut akan sepadan dengan pengaruh amortisasi premi atau diskonto terhadap pendapatan bunga dari surat berharga dalam kategori ‘Dimiliki Hingga Jatuh Tempo’.

 

 

Pelaporan (Penyajian) Surat Berharga

Surat berharga disajikan di Neraca sesuai kategorinya masing-masing, yaitu:

1 Diukur pada Nilai Wajar Melalui Laporan Laba Rugi – Disajikan pada neraca sebesar nilai wajar.

2 Tersedia untuk Dijual – Sama seperti di atas.

3 Dimiliki Hingga Jatuh Tempo – Disajikan pada Neraca biaya perolehan diamortisasi (amortized cost)—yaitu: nilai wajar surat berharga yang diukur pada saat pengakuan awal, ditambah atau dikurangi dengan amortisasi kumulatif menggunakan metode suku bunga efektif yang dihitung dari selisih antara nilai awal dan nilai jatuh temponya dan dikurangi penurunan nilai. Cadangan kerugian penurunan nilai (jika ada) disajikan sebagai offsetting account atas surat berharga yang dimiliki.

4 Pinjaman yang Diberikan dan Piutang – Disajikan pada Neraca sama seperti surat berharga berkategori ‘Dimiliki Hingga Jatuh Tempo’.

(Sumber: Pedoman Akuntansi Perbankan Indonesia)

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Belajar Akuntansi Gampang-Gampang Susah

Komentar orang yang pertamakali mencoba memahami Akuntansi, biasanya beragam. Ada yang bilang, “Ternyata gampang ya..”. Tetapi lebih banyak yang bilang

Kesalahan Akuntansi Paling Umum Oleh Pengusaha Kecil

Menjadi pengusaha—sekecil apapun skala usahanya—pastilah bukan perkara mudah. Membidik peluang dan mengubahnya menjadi bisnis adalah bakat yang hanya dimiliki oleh

Akuntansi Pendapatan: Beberapa Macam Metode Pengakuan Pendapatan

Perbedaan metode pengakuan pendapatan bisa membuat perusahaan menjadi nampak lebih profitable atau tidak, nampak sehat atau sakit-sakitan. Lucu dan ajaibnya,

  1. Jonny
    Jonny 4 November, 2011, 09:44

    Salam Pak Administrator,

    Saya Jonny ingin bertanya perihal masalah pembukuan surat berharga pada bank ini.
    Jika Bank membeli obligasi AFS pada tanggal 1 Nov dengan value date 3 Nov, pada tanggal 1 atau 3 kah pembukuan obligasi tsb pada on BS bank?
    Lalu sejak kapankah mark to market dilakukan? Baik pencatatan maupun mtm apakah dari trxdate ke trx date atau dari valuedate-valuedate.

    Terima Kasih atas kesempatan dan waktunya.

    Regards
    Jonny

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 6 November, 2011, 04:53

      Sebenarnya ini masih jadi perdebatan (perlakuan ini baru dilontarkan sejak 2008 jadi masih ada pro-kontra). Tetapi dari sisi fair value market yang sangat ditekankan dalam IAS 39, bagi yang menerapkan metode ‘Marking-to-Market’, kebanyakan ahli menyarankan agar pencatatan dilakukan: dari value-date ke value-date.

      Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 6 November, 2011, 04:58

      Sebagai tambahan: setiap kali margin call dilakukan, ukurannya selalu fair value, sehingga kemungkinan besar akan selalu ada fluktuasi. nah selisihnya selalu dicatat entah itu menjadi gain atau loss.

      Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*