Akuntansi Dasar

Format Rekonsiliasi Bank (Excel Template)

Template Rekonsiliasi Bank
Ditulis oleh Mr. JAK
Shares

Menyambung tulisan sebelumnya, saya buatkan format rekonsiliasi bank dalam Excel template yang bisa anda pergunakan sebagai lembar kerja standar dalam melakukan rekonsiliasi saldo buku kas perusahaan dengan saldo giro (rekening koran) yang diterbitkan oleh pihak bank. Namun sebelum itu, saya ingin membahas ragam variasi format rekonsiliasi bank.

Sesungguhnya tidak ada aturan baku atau standar mengenai bentuk template rekonsiliasi bank. Memang pada masa perkuliahan dahulu, setiap siswa/i (atau mahasiswa/i) akuntansi pastinya diajari bagaimana caranya melakukan rekonsiliasi bank, termasuk diberikan contoh lembar kerjanya.

Hanya saja, setelah benar-benar terjun ke dalam pekerjaan yang sesungguhnya, ternyata format yang dari kampus atau sekolahan itupun sesungghnya tidak baku, formatnya bisa bervariasi—ada yang horizontal (saldo kas perusahaan di sebelah kiri dan saldo per rekening koran di sebelah kanan), ada juga yang vertical (saldo kas perusahaan di atas dan saldo per rekening koran di bawah). Dan, itu boleh-boleh saja.

Yang terpenting: format rekonsiliasi bank mesti mampu menjelaskan perbedaan antara saldo akhir buku kas perusahaan dengan saldo akhir menurut rekening giro (koran) yang diterbitkan oleh bank. Sehingga perbedaan itu bisa dikatakan ‘WAJAR’. Bukan malah membingungkan.

Apakah Item Yang Disesuaikan Perlu Masuk Dalam Lembar Kerja Rekonsiliasi?

Ini sangat penting untuk diketahui, karena sudah menyangkut isi (content). Jika tidak, akan membuat bingung selamanya. Tidak paham akan hal ini, sampai ubanan akan tetap ragu-ragu, tidak yakin ini benar atau salah.

Pada masa sekolah atau kuliah dahulu, dosen atau guru pengajar akuntansi menempatkan siswa/pelajar ‘seolah-olah’ sebagai seorang auditor. Sehingga diasumsikan bahwa, saat siswa  melakukan rekonsiliasi bank, buku perusahaan (termasuk buku kas) telah ditutup. Dan, anda menemukan pebedaan antara saldo akhir buku kas perusahaan dengan saldo akhir yang tercantum pada rekening koran, untuk itu anda perlu melakukan rekonsiliasi. Oleh sebab itu (jika merujuk pada contoh kasus saya di tulisan “Cara Membuat Rekonsiliasi Bank”) format lembar kerjanya menjadi, seperti ini (sebut saja “FORMAT-1“):

Format lembar kerja rekonsiliasi (yang mengikutsertakan penyesuaian) seperti inilah yang biasanya diberikan di sekolah-sekolah atau kampus-kampus. Tetapi entah karena dosen/gurunya tidak memberitahukan dengan tegas, atau karena siswanya yang tidak mendengarkan dengan baik, kebanyakan siswa tidak menyadari bahwa saat itu mereka diposisikan seolah-olah sebagai seorang auditor.

Tentu, FORMAT-1 di atas sangat masuk akal dan benar, ketika itu dipergunakan oleh seorang auditor. Tetapi, berapa orang lulusan SMK Akuntansi—bahkan sarjana akunatansi—yang benar-benar menjadi seorang auditor? Tidak banyak. Lebih banyak yang akhirnya bekerja di suatu perusahaan, bukan seorang auditor.

Ketika rekonsiliasi dilakukan oleh pegawai accounting perusahaan itu sendiri (bukan auditor) atas bukunya sendiri, format rekonsiliasi bank di atas akan menjadi aneh dan membingungkan! Dimana letak anehnya?

Bayangkan: anda adalah seorang pegawai accounting perusahaan yang mengurusi rekonsiliasi. Anda menemukan perbedaan antara saldo buku kas dengan saldo yang tercantum di rekening koran. Lalu anda menelusuri perbedaan-perbedaan itu, dikumpulkan lalu dituangkan ke dalam lembar kerja rekonsiliasi, dan hasilnya adalah seperti FORMAT-1 di atas. Lalu anda memasukan jurnal penyesuaian untuk bagian-bagian yang perlu disesuaikan, iya kan? Setelah penyesuaian dilakukan, anda mengarsipkan lembar kerja rekonsiliasi bersama-sama dengan rekening koran untuk bulan tersebut. Apa yang terjadi selanjutnya?

Setelah itu datang seorang auditor atau mungkin atasan anda (Controller/CFO) untuk memeriksa saldo kas. Anda sodorkan: buku kas perusahaan, rekening koran, dan lembar kerja rekonsiliasi bank. Apa yang akan mereka (pemeriks) temukan? Yang akan mereka temukan hanya perbedaan di bagian: “Setoran Dalam Perjalanan” dan “Cek Beredar Saja”. Sedangkan perbedaan-perbedaan lain (biaya bank, bunga bank, nominal cek yang dicatat terlalu besar) tidak akan ditemukan! Mengapa? Karena biaya-biaya bank, bunga jasa giro sudah anda masukan ke dalam buku perusahaan. Kesalahan nominal juga sudah anda sesuaikan. Sehingga saldo per buku pun sudah berubah.

Oleh sebab itu, untuk rekonsilasi bank yang dilakukan oleh pegawai accounting perusahaan itu sendiri sebelum tutup buku, mestinya menggunakan format seperti ini (sebut saja FORMAT-2):

Yang disertakan di dalam lembar kerja rekonsiliasi bank, mestinya hanya “Setoran Dalam Perjalanan (Deposit In Transit)” dan “Cek Beredar (Outsatanding Check)” saja. Sedangkan perbedaan-perbedaan lainnya tidak perlu diikutsertakan, karena sudah dimasukan ke dalam buku kas perusahaan. Tentunya, saldo buku kas yang dimasukan ke dalam lembar kerja rekonsiliasi adalah saldo setelah semua biaya bank, bunga jasa giro dan kesalahan-kesalahan lainya sudah dimasukan ke dalam buku kas perusahaan.

Untuk pembaca JAK yang membutuhkan template rekonsiliasi bank dalam format Excel, saya sediakan keduanya, baik FORMAT-1 maupun FORMAT-2. Silahkan request, caranya sederhana: silahkan subscribe via email di sidebar sebelah kanan halaman ini dengan memasukan email, lalu verifikasi. Setiap email yang masuk dan terverifikasi akan menerima kedua template ini.

Shares
  • Apakah artikel ini membantu?
  • Ya   Tidak

Tentang Penulis

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.

18 Komentar

Silahkan berkomentar