Belajar Akuntansi, Keuangan atau Pajak? Tak harus tegang! Santai saja...


Dan, tak perlu bayar. Jika bermanfaat cukup dishare


Struktur Modal Perusahaan: Debt Vs. Equity, Mana yang Terbaik?

Struktur Modal Perusahaan: Debt Vs. Equity, Mana yang Terbaik?

Kecuali dalam skala kecil, struktur modal perusahaan tidak ada yang murni berasal dari satu sumber saja. Selalu merupakan kombinasi atau bauran antara utang dengan ekuitas (debt and equity)—baik itu ekuitas yang terbentuk sendiri dalam perusahaan maupun yang timbul dari penerbitan saham baru. Lalu, yang mana yang terbaik—tepatnya, bauran yang seperti apa yang terbaik?

Ini bukan keputusan yang mudah memang—akan berpengaruh terhadap eksistensi persahaan dalam jangka panjang, termasuk besarnya beban yang akan ditanggung. Struktur modal perusahaan tergantung pada beberapa faktor.

Jika sebuah perusahaan membiayai aktivitasnya dengan menggunakan utang (debt), tentunya kreditur mengharapkan bunga dan pokok pinjaman terbayar seperti yang sudah dijanjikan dan disepakati sebelumnya. Gagal melaksanakan kesepakatan tersebut bisa berbuntut hukum.

Contoh:

Katakanlah sebuah perusahaan baru saja memperoleh pesanan barang untuk diproduksi, dan untuk merampungkan pesanan tersebut persahaan membutuhkan dana Rp 100 milyar. Perusahaan meminjam Rp 100 miliar pada bank, dan berjanji untuk mengembalikan pokok Rp 100 miliar ditambah bunganya 5 milyar dalam satu tahun. Itu artinya perusahaan menggantungkan sumber modalnya pada satu sumber saja, yaitu utang (debt). Perusahaan mulai berproduksi dengan menggunakan dana pinjaman tersebut. Selanjutnya:

  • Jika dari Rp 100 milyar yang diinvestasikan perusahaan dapat menghasilkan uang kembali Rp 120 milyar, berarti Rp 105 milyar dikembalikan kepada bank (kreditur), dan perusahaan menikmati keuntungan 15 milyar.
  • Jika perusahaan hanya menghasilkan Rp 105 milyar, berarti Rp 105 milyar seluruhnya dibayarkan kepada kreditur, sementara perusahaan tidak dapat apa-apa.
  • Lebih parahnya, jika perusahaan hanya menghasilkan Rp 100 milyar, perusahaan tetap harus mengembalikan Rp 105 milyar. Artinya perusahaan tombok (rugi) 5 milyar. Jika tidak kreditur tentunya akan membawa kasus tersebut ke wilayah hukum.

Dengan demikian (dalam contoh kasus ini), jika perusahaan memutar (menginvestasikan) dana pinjaman tersebut dan memperoleh keuntungan lebih dari biaya atas pendaan (the cost of funds) yang 5 milyar tersebut, maka perusahaan akan menikmati selisih tersebut seluruhnya. Tetapi jika perusahaan hanya mampu menghasilkan keuntungan 5 milyar atau kurang, perusahaan masih harus mengembalikan pokok pinjaman beserta bunganya!

Dari pertimbangan inilah ide dasar penerapan ‘financial leverage’ berawal, yaitu: sistim pendanaan yang bersifat tetap, namun dengan pembayaran yang terbatas: Jika perusahaan memperoleh keuntungan (earning) yang bagus,  maka perusahaan dapat menikmati keuntungan sepenuhnya, tentunya setelah pelunasan terhadap pinjaman dan bunga dilakukan. Jika earningnya rendah, maka kreditor masih tetap harus dibayar tetapi tidak sepenuhnya, melainkan hanya sebesar yang jatuh tempo saja. Sisanya masih tetap harus dibayar di periode berikutnya.

Gagal membayar pokok dan bunga yang jatuh tempo akan menciptakan suatu kedaan yang disebut dengan ‘FINANCIAL DISTRESS’, yaitu: suatu keadaan dimana persahaan terpaksa harus mengambil keputusan dibawah tekanan untuk memenuhi kewajiban legalnya terhadap kreditur. Tentu saja model keputusan seperti ini sangat tidak diharapkan oleh manajemen perusahaan manapun.

Di sisi lainnya. Dengan pendanaan ekuitas (equity financing) praktis tidak ada kewajiban legal yang memaksa. Meskipun perusahaan dapat memilih untuk mendistribusikan dana kepada pemilik dalam bentuk dividen tunai, tidak ada persyaratan hukum yang memaksa perusahaan untk melakukan hal itu.

Salah satu alat untuk mengukur sejauh mana efektifitas utang digunakan untuk membiayai perusahaan adalah DEBT RATIO, yaitu rasio utang terhadap ekuitas persahaan. Berikut adalah persamaan:

Debt Ratio = Debt / Equity (atau Utang dibagi Equitas)

(Note: dinyatakan dalam persentase). Ini adalah ukuran relatif utang terhadap ekuitas: semakin besar rasio utang, semakin besar penggunaan utang untuk operasi pembiayaan, relatif terhadap pembiayaan ekuitas.

Pengukuran lainnya adalah DEBT-to-ASSETS RATIO (rasio utang-terhadap-aset), mengukur sejauh mana (seberapa besar) aset perusahaan yang dibiayai dengan utang:

Debt-to-Assets Ratio = Debt / Total Asset (atau Utang dibagi Total Aset)

Ini adalah proporsi utang dalam struktur modal perusahaan, diukur dengan menggunakan ‘nilai buku’ atau ‘nilai tercatat’ dari utang dan aset.

Ketika mengevaluasi struktur modal persahaan, berfokus pada modal jangka panjang perusahaan, selalu lebih baik—yaitu: dengan cara melihat perbandingan antara: bunga utang (‘interest-bearing debt’) perusahaan dengan ekuitas perusahaan atau dengan modalnya.

Modal perusahaan adalah jumlah dari bunga utang dan ekuitas. Sehingga, rasio utang (debt ratio) dapat dinyatakan kembali sebagai ‘rasio utang bunga dari perusahaan’ terhadap ekuitas (Debt-to-equity Ratio), dengan persamaan sbb:

Debt-to-equity Ratio = Interest-bearing Debt / Equity (Utang Bunga dibagi Ekuitas).

Dan, utang terhadap asset dapat dinyatakan kembali sebagai proporsi bunga utang modal perusahaan:

Debt-to-capital Ratio = Interest-bearing Debt / Total Capital (Bunga Utang dibagi total modal).

 

Berfokus pada modal jangka panjang, keputusan modal kerja perusahaan yang mempengaruhi kewajiban lancar—seperti utang, misalnya—dikeluarkan dari analisis. Komponen ekuitas dari semua rasio-rasio ini sering dinyatakan dalam nilai buku atau ‘carrying value’-nya.

Namun, ketika mengambil perspektif pasar struktur modal perusahaan, membandingkan modal utang dengan nilai pasar ekuitas, seringkali bermanfaat. Dalam formulasi di atas misalnya, total modal perusahaan adalah jumlah utang bunga dan nilai pasar ekuitas.

Oke. Jika nilai pasar dari utang dan ekuitas yang paling berguna dalam pengambilan keputusan, apakah sebaiknya kita mengabaikan ‘nilai buku’?

Jawabannya: Tidak, karena nilai buku tetap relevan dalam pengambilan keputusan. Sebagai contoh, perjanjian obligasi seringkali ditentukan dalam hal nilai buku atau rasio nilai buku. Contoh lainnya, dividen dibedakan dari pengembalian modal berdasarkan ketersediaan dari nilai buku laba ditahan. Oleh karena itu, meskipun fokusnya adalah terutama pada nilai pasar modal, pengambil keputusan tetap harus mempertimbangkan nilai buku utang dan ekuitas.

Ada kecenderungan bagi perusahaan-perusahaan di beberapa sektor dan industri untuk menggunakan lebih banyak utang daripada yang lain, di mana proporsi aset dibiayai dengan utang dan ekuitas (perhatikan garfik di bawah ini).

Perusahaan yang lebih banyak melakukan aktivitas penelitian dan pengembangan (research and development)—untuk produk dan teknologi baru, misalnya—cenderung memiliki ‘rasio-utang-terhadap-asset’ yang lebih rendah jika dibandingkan perusahaan yang tidak banyak melakukan riset dalam opersionalnya. Perusahaan yang memerlukan investasi yang relatif besar dalam aktiva tetap yang lebih rendah cenderung memiliki rasio utang terhadap aset .

Pertanyaan: Mengapa beberapa industri cenderung memiliki perusahaan dengan rasio utang yang lebih tinggi dari industri lain?

Dengan memeriksa kondisi kesulitan, kondisi keuangan normal dan perpajaknya, anda dapat melihat beberapa variasi dalam rasio utang antara industri. Dan dengan menganalisis faktor-faktor ini, anda dapat melihat bagaimana nilai perusahaan dapat dipengaruhi oleh struktur modalnya.

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

PPATK: Dari 70000 Transaksi Mencurigakan, 13 Terkait Sesmenpora

Sampai akhir April 2011, PPATK menerima Laporan Transaksi Keuangan Mencurigakan sebanyak 70.000 laporan yang terakumulasi. Dari semua itu, 80 persennya

Mengapa Inisiatif Cost-Cutting Jarang Berhasil?

Cost cutting, cost trimming, cost reduction exercise, memangkas biaya, termasuk slogan yang sangat populer di dunia bisnis. Tidak hanya di bagian

Chief Risk Officer (CRO), Penguasa Baru Manajemen Risiko

Chief Risk Officer (CRO) tampil sebagai penguasa baru di wilayah manajemen risiko. Posisi baru yang kian populer dan berkibar di

  1. ika
    ika 10 September, 2011, 14:01

    mau tanya, bagaimana ya fluktuasi aktiva lancar dan aktiva tetap perusahaan LQ 45?

    Reply this comment
  2. Endy Mulio
    Endy Mulio 19 November, 2011, 10:34

    Terima kasih atas penjelasannya. Membantu sekali :)

    Reply this comment
  3. efendi
    efendi 24 November, 2011, 05:32

    Teriman Kasih Penjelasanya sangant membantu, lalu bagaimana pengaruh Current Ratio terhadap keputusan jangka panjang?

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*