Belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak, tak harus tegang.


Lebih penting lagi, tak harus bayar. Jika bermanfaat, dishare saja


IFRS-FASB Akhirnya Sepakati Definisi Nilai Wajar (Fair Value)

IFRS-FASB Akhirnya Sepakati Definisi Nilai Wajar (Fair Value)

Setelah melalui perdebatan panjang, akhirnya IFRS dan FASB (yang selama ini menggunakan GAAP sebagai pedoman dalam menyusun Laporan Keuangan) menyepakati definisiFair Value’ (atau Nilai Wajar ) yang dituangkan dalam standar baru yang diberi kode IFRS 13, Fair Value Measurement. Lain daripada itu, kedua dewan pengatur Akuntansi paling berpengaruh ini juga menyepakati beberapa hal terkait dengan persayaratan yang harus dipenuhi dalam pengungkapan ‘nilai wajar (fair value)’ pada Laporan Keuangan.

Standar baru yang ini diyakini [oleh IFRS dan FASB] dapat memberikan suatu definisi yang tepat mengenai ‘fair value’ (nilai wajar) untuk pertama kalinya. Untuk perusahaan-perusahaan yang selama ini menggunakan GAAP, update standar dan menjelaskan pengukuran nilai wajarnya berdasarkan aturan yang sudah ada pada Accounting Standard Codification – 820 [buatan FASB].

Dengan aturan baru ini, ketua dewan telah sepakat bahwa nilai wajar harus diukur dengan menggunakan harga di pasar utama untuk aset tertentu atau kewajiban. Jika tidak ada pasar utama, maka nilai yang dipakai adalah harga/nilai yang paling “menguntungkan” pasar untuk itu. Hal ini juga berlaku sebagai standarisasi atas hirarki penilaian untuk kategori Level 1, 2, dan 3—yang mengklasifikasikan tingkat penilaian yang digunakan dalam pengukuran aset tertentu atau kewajiban, sebesar nilai wajarnya.

Berikut adalah hirarki nilai wajar yang dimaksudkan:

  • Level 1 – Harga dikutip di pasar aktif untuk aktiva dan kewajiban yang identik. Tingkat 1 input harus digunakan tanpa penyesuaian, jika tersedia.
  • Level 2 – Input tidak termasuk dalam Level 1 yang diamati untuk aktiva atau kewajiban, baik secara langsung maupun tidak langsung.
  • Level 3 – input tidak teramati, termasuk data entitas itu sendiri, yang disesuaikan jika diperlukan untuk mencerminkan asumsi pasar.

 

Esensi IFRS 13 [dengan persayaratan baru]

Berikut adalah esensi dari IFRS 13 dengan persyaratan baru:

  • Nilai wajar diukur dengan menggunakan harga di pasar utama bagi aktiva atau kewajiban (yaitu pasar dengan volume terbesar dan tingkat aktifitas untuk aktiva atau kewajiban) atau, dalam hal tidak adanya pasar utama maka yang dipakai adalah pasar yang paling menguntungkan bagi aktiva atau kewajiban tersebut.
  • Rincian pedoman untuk mengukur nilai wajar suatu kewajiban, termasuk deskripsi kompensasi yang oleh dibutuhkan oleh pelaku pasar.
     
    Aset dan kewajiban keuangan yang melawankan posisi dalam risiko pasar (atau risiko kredit pihak lawan), dapat diukur berdasarkan eksposur risiko bersih entitas.
  • Kelas-kelas aktiva atau kewajiban, untuk tujuan pengungkapan ditentukan berdasarkan karakteristik alam, dan risiko dari aset atau kewajiban dan tingkat dari hirarki nilai wajar (yaitu Level 1, 2 atau 3) di mana pengukuran nilai wajar dikategorikan .
  • Sebuah diskusi narasi diperlukan tentang sensitivitas pengukuran nilai wajar dikategorikan dalam Tingkat 3 dari hirarki nilai wajar untuk perubahan masukan tidak teramati signifikan dan ada keterkaitan antara input yang mungkin memperbesar atau mengurangi efek pada pengukuran. Selain itu, analisis sensitivitas kuantitatif diperlukan untuk instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar.
  • Informasi tentang proses penilaian entitas diperlukan untuk pengukuran nilai wajar dikategorikan dalam Tingkat 3 dari hirarki nilai wajar.

 

Kapan IFRS 13 Berlaku Efektif?

IFRS 13 akan diberlaku efektif mulai 1 Januari 2013 nanti. Penerapan lebih awal diperkenankan oleh IFRS.

Dewan percaya bahwa IFRS 13 dapat membantu meningkatkan transparansi ketika suatu entitas (organisasi) menggunakan model pengukuran nilai wajar (fair value), khususnya ketika pengguna Laporan Keuangan memerlukan informasi lebih lanjut tentang ketidakpastian pengukuran, seperti ketika pasar untuk aktiva atau kewajiban menjadi kurang aktif. (Sumber: IFRS.org dan FASB.org, “IFRS 13 Fair Value Measurement)

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Bagaimana Cara Auditor Memeriksa Aspek Going Concern Perusahaan?

Auditor TIDAK WAJIB untuk memprediksi kondisi masa depan perusahaan terperiksa (auditee.) Namun belakangan, dalam proses audit, auditor diharapkan untuk mempertimbangkan kemampuan

Perlakuan Akuntansi Aset Zombie: Nilai Buku Nol Masih Dipakai

Dalam akte kematian aset perusahaan ini dicatat sudah “almarhum” alias tutup usia alias meninggal, karena secara hitung-hitungan umur ekonomisnya sudah

Pengendalian Intern: Cegah Penggelapan Pencurian Di Perusahaan

Pengendalian intern (internal control) mungkin terdengar asing bagi masyarakat umum—termasuk anda jika tidak memiliki latarbelakang akuntansi dan keuangan. Tetapi jika

  1. AGUS
    AGUS 21 December, 2012, 01:42

    Pagi Bung JAK,
    Untuk pembahasan berikutnya terkait IFRS 13, bisa diberikan contoh realnya gak ya? karena saya masih bingung dengan item2 yang ada pada hierarki nilai wajar dan esensi IFRS 13 yang disebutkan diatas. Tks

    Reply this comment
  2. gabri
    gabri 10 April, 2014, 14:35

    bang, yg dimaksud harga yang menguntungkan itu yg mana? apakah ketika barang itu dijual kembali atau harga ketika barang itu dijual pertama kalinya?

    Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*