Belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak, tak harus tegang.


Lebih penting lagi, tak harus bayar. Jika bermanfaat, dishare saja


Goodwill Impairment Menurunan 41 Persen

Goodwill Impairment Menurunan 41 Persen

Total ‘penurunan nilai atas goodwill’ (goodwill impairment charge) terus melorot di hampir seluruh bidang usaha di sepanjang tahun 2010, dan jumlah perusahaan yang mencatat goodwill impairment pun mengalami penurunan hingga 41 persen menurut sebuah studi baru yang dilakukan oleh KPMG.

Apa Itu Goodwill? Menurut pengertian PSAK 19 (Aktiva Tetap Tak Berwujud), goodwill diartikan sebagai aset yang mencerminkan manfaat ekonomi masa depan yang timbul dari aset lainnya yang diperoleh dalam kombinasi bisnis yang tidak dapat diidentifi kasi secara individual dan diakui secara terpisah.

Di Amerika Serikat FASB melalui Accounting Standard Codification Topik 350, mengartikan goodwill sebagai aset tak berwujud yang tak lain adalah sisa yang timbul dari akuisisi bisnis di mana jumlah yang dibayarkan untuk perusahaan melebihi nilai wajar aktiva bersih yang dapat diidentifikasi perusahaan tersebut. Menurut standar tersebut, goodwill TIDAK diamortisasi tetapi diuji untuk penurunan nilai pada tingkat unit pelaporan setidaknya setiap tahun. Dan, gangguan terjadi ketika goodwill unit pelaporan tercatat melebihi jumlah nilai wajarnya.

 

Sebuah laporan baru saja dikeluarkan oleh KPMG yang analisis gangguan goodwill untuk perusahaan publik dari Januari 2005 sampai Desember 2010.

Berdasarkan informasi keuangan dari 1.879 perusahaan berstatus ‘go public’ atau (terbuka), penurunan goodwill terus menurun untuk sekitar $ 39 miliar pada tahun 2010, turun 60% dari $ 92 miliar di tahun 2009. Selain itu, jumlah perusahaan yang mencatat ‘goodwill impairment’ juga menurun dari 217 menjadi 129 saja. Berikut adalah grafik trend yang ada pada laporan studi yang dilakukan oleh KPMG:

Studi ini menemukan bahwa pada tahun 2010 bidang industri mengalami penurunan tertinggi, hingga 36 persen dari total $ 39 miliar pada biaya penurunan goodwill, diikuti oleh layanan telekomunikasi dan energi yang maisng-masing mengalami penurunan 12 dan 10 persen.

Goodwill impairment untuk teknologi perangkat keras dan perusahaan peralatan menurun lebih dari 95 persen pada 2010. Demikian juga goodwill untuk bahan, barang modal, dan industri energi juga menurun secara signifikan dari 2009 ke 2010. Industri komponen otomotif dan otomotif, serta industri ecerean (retail), menunjukan penurunan persentase terbesar dalam catatan goodwill impairment. (Sumber: KPMG Institute, “Evaluating Impairment Risk“)

Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.



Related Articles

Pengukuran Aktiva Tetap Yang Dimiliki Untuk Dijual

Bagaimana prosedur pengukuran aktiva tetap yang dimiliki untuk dijual—tepatnya, berapa yang harus diakui dalam buku (atau catatan perusahaan)? Apa yang

Mandat Penerapan IFRS di AS Makin Tak Jelas

Dorongan untuk menjadikan penerapan standar akuntansi global IFRS sebagai mandat terhadap perusahaan-perusahaan yang bernaung dibawah yurisdiksi Amerika Serikat (AS) semakin

DPR RI: Kepala Desa Harus Belajar Accounting!

Menurut anggota DPR RI Bachruddin Nasori, Kepala Desa di seluruh Indonesia harus belajar Accounting. Apa pasal? “Kepala Desa harus belajar

  1. Donny Iskandarsyah
    Donny Iskandarsyah 22 April, 2012, 08:17

    Goodwill dan Aset Tidak Berwujud lainnya

    Assalamualaikum, Selamat malam, perkenalkan saya Donny Iskandarsyah, mahasiswa di jurusan akuntansi di suatu perguruan tinggi,ingin menanyakan sesuatu terkait Goodwill dan Aset Tak Berwujud lainnya:
    1. Beberapa saat yang lalu, saya membaca buku Kieso tentang Intangible Assets, disitu ditulis: “Goodwill impairment loss reversals are not permitted”, tulisan tsb didasarkan atas IAS 36 ttg Impairment of Assets paragraf 124, yg ingin saya tanyakan, mengapa pembalikan rugi penurunan goodwill dilarang? Bagaimana penjelasan logisnya ttg hal tsb karena di dalam buku dan IAS tsb tidak dijelaskan secara rinci dan saya selalu mendapat jawaban yg kurang memuaskan, sehingga saya selalu berpikir untuk melogikakan,
    -Apakah karena Goodwill terjadi sekali,saat kita mengakuisisi sebuah perusahaan (entitas) dengan nilai consideration transferred of investment lebih besar drpd aset bersih perush terakuisisi?

    -Apa karena Goodwill tidak dapat diperpanjang nilainya krn alasan terjadi sekali, tidak seperti aset tdk berwujud lainnya, sep hak paten, franchise,dll, yg dpt diperpanjang setelah habis nilai ekonominya (dgn pendaftaran ulang)?

    -atau karena goodwill tidak memberikan manfaat ekonomi bagi operasional perusahaan, dalam arti tdk memberikan inflow masuk scr langsung atas operasional perusahaan seperti trademark dan hakpaten yg memberikan nilai lebih selain produknya sendiri sehingga customer membeli/menggunakan barang/jasa krn kepercayaan akan merk yg bagus dr barang/jasa itu sendiri sehinggga customer dan customer lainnya akan terus membeli/menggunakan brg/jasa tersebut tsb dan akan menaikkan/memberikan revenue yg besar bg perusahaan selain di produknya akibat pengaruh trademark atau hak paten yg baik/bernama, sedangkan goodwill tidak bermain di daerah situ dalam hal memberikan inflow bagi perusahaan? namun ini kurang logis bagi saya sendiri, karena untuk apa perusahaan melakukan pengakuisisian suatu entitas namun jika tidak memberikan manfaat ekonomi di masa yg akan datang,pst karena perusahaan melakukan pengakuisisian untuk ekspansi usahanya atau pengembangan usahanya yg diharapkan nnt pasti akan memeberikan inflow/manfaat di masa depan yg baik bagi perusahaan induk dan anak dan di kemudian hari akan menambah/menaikkan revenue itu sendiri, bagus2 jika dapat menguasai pangsa pasar yg sebelumnya tdk ter-cover sebelum adanya pengakuisisian, apakah benar seperti itu?

    -apakah goodwill tidak “bermain” dalam lingkup operasional perusahaan scr langsung? jadi jika aset tak berwujud lainnya berperan besar dalam inflow suatu entitas, shg adanya fluktuatif nilai mereka (penurunan dan pembalikan penurunan) slma masa operasional, apa benar begitu?
    saya mohon penjelasan yg rinci akan pelarangan pembalikan penurunan rugi goodwill ini dan alasannya,terima kasih.

    2. Cash Generating Unit, aset (atau sekelompok aset terkecil) yang dapat menghasilkan arus kas secara independen/mandiri. yg berfungsi untuk menentukan value-in-use dari aset yang tidak dapat menghasilkan cashflow secara independen (alat alokasi impairment), yg mau saya tanyakan:

    -Bagaimana mengetahui/menentukan CGU sendiri bagi perusahaan yg akhirnya diperlukan bagi perusahaan?

    -Contoh aset apa yg tdk dapat memberikan cashflow bg perush secara independen?lalu bagaimana caa penggunaannya dg aset yg tdk independen tsb?

    -saya kutip statement dr suatu blog:
    (1) Jika ada impairment (recoverable amount lebih rendah dari carrying amount), maka yang turun nilainya adalah aset2 yang ada di dalam cash generating unit. Begitu juga jika ada kenaikan recoverable amount maka yang naik adalah aset2 yang ada di dalam cash generating unit. Bukan cash generating unitnya.

    (2) Sesuai konsep, jika aset sebelumnya belum diturunkan nilainya, maka ketika diperhitungkan dan recoverable amount lebih tinggi hal ini tidak diakui. Impairment dilakukan jika dan hanya jika recoverable amount lebih rendah dari carrying amount”.

    -Apakah maksud dari statement(2) “Sesuai konsep, jika aset sebelumnya belum diturunkan nilainya, maka ketika diperhitungkan dan recoverable amount lebih tinggi hal ini tidak diakui” itu jika aset yg sebelumnya memang benar2 belum diturunkan nilainya sama sekali shg tidak diakui? krn di statemnt(1) dikatakan bahwa “jika ada kenaikan recoverable amount maka yang naik adalah aset2 yang ada di dalam cash generating unit” (berarti diakui,kan?)mohon penjelaan dan pencerahannya. terima kasih

    3. Masalah penurunan, suatu aset tak berwujud mengalami penurunan dan pembalikan atas penurunan,beberapa wktu lalu di buku Kieso djelaskan secara jelas metode penghitugan dan penjurnalan jika mengalami penurunan atw pembalikannya dan pengakuannya, penurunan bisa disebabkan karena perubahan nlai pasar,ekonomi, kenaikan suku bunga,dll. yg ingin saya tanyakan:

    -Darimana seorang akuntan menentukan suatu nilai aset tak berwujud tersebut (dalam hal ini selain goodwill) atas suatu produk/jasa yg dipengaruhi atas aset tak berwujud tersebut shg bs memunculkan angka2 tsb? karena di buku tersebut hanya menjelaskan penghtungan dan penjurnalan yg notabene pasti paham akan penanganan tersebut (jurnal-menjurnal) namun untuk munculnya angka tersebut dan penjelasan angka2 tsb tidak dijelaskan,tahu2 nilai aset tak berwujud sekian,penurunan sekian, mengingat suatu pengukuran utk aset tak berwujud lebih sulit dalam memunculkan suatu nilai yg akan tercatat d neraca dan apakah nilai tsb bnr2 wajar dan menggambarkan kondisi aset tak berwujud tsb dalam wkt itu .terima kasih

    -apakah dalam hal ini penaksir (appraisal)-lah yg melakukannya? saya ingin mengetahui kelogisan munculnya angka tersebut dan angka dianggap wajar bagi aset tidak berwujud tsb, dalam kondisi tersebut, dalam memberikan inflow tsb kpd perusahaan, apa harus selalu menggunakan rata2 industri sejenis? Bagaimana seandainya untuk perusahaan yg memiliki jenis baru dan hanya satu2nya (monopoli)?

    saya ambil contoh kasus Oreo beberapa tahun lalu, di mana pada saat itu juga lg panas2nya kasus kandungan susu bermelamin dan snack bermelamin, di mana (isu tdk jelas) Oreo ini diisukan juga mengandung melamin dan isu ini tersebar kemana2, sehingga adanya penurunan pembelian produk kesukaan saya ini.
    -Bagi Oreo yg memiliki nama besar dan pangsa besar di Indonesia, bagaimana menentukan nilai penurunan trademark Oreo,khusunya ruang lingkup (scope) di Indonesia saja (apalagi pangsa pasar di Indo besar,shg pabrikya pun didirikan di sini), karena kondisi di negara lain baik2 saja.terima kasih

    Akhirnya pihak Oreo membantah akan kandungan melamin pada produk Oreo dan produk Oreo aman dikonsumsi, sehingga pd wkt itu,untuk meyakinkaan customer, gerai/booth Oreo di swalayan dibubuhi tulisan bahwa Oreo aman dikonsumsi dan tdk ada melamin.
    -bagaimana pula seorang akuntan menentukan nilai pembalikan ini atas trademark Oreo di ruang lingkup negara kita ini dengan waktu antara penurunan dan pembalikan yg relatif singkat tsb? terima kasih.

    Seperti artikel JAK bilang bahwa seorang akuntan bukan tukang jurnal-menjurnal, namun harus mengetahui kelogisan dari jurnal tsb, angka2 tsb, alasan2, dan dapat memberikan informasi yg baik thp outcome tsb, lebih bagus laagi kl bisa mengambil keputusan atas suatu kondisi dan mencari solusi yg terbaik. sehingga belajar bukan cuma “kulit”, namun dapat mengupas “kulit”-nya dan menikmati “isi”-nya. terima kasih. situs Anda memang woke dan banya kmemberikan pemahaman dan pencerahan bagi saya.
    Sukses selalu bagi JAK dan admin2nya, sukses kariernya dan Insya Allah mendapat berkah yg besar. (mohon maaf jika ada kesalahan)
    Wassalamualaikum

    Reply this comment
    • Administrator
      Administrator Author 23 April, 2012, 14:32

      @Donny:

      Pertanyaannya banyak dan panjang ya. Great! :)

      Mengapa reversal ‘goodwill impairment loss’ tidak diijinkan dalam IAS 36? Topik yang menarik dan seru. Saya suka kawan yang menanyakan sesuatu yang jarang dibahas orang. Sayang, saat ini saya belum sempat jelaskan secara panjang lebar di sini (kapan-kapan mungkin bisa saya bahas). Untuk sementara saya hanya bisa sebutkan beberapa clue yang mungkin bisa @Donny telusuri lebih lanjut, yaitu:

      Bicara Goodwill impairment (dan impairment secara keseluruhan) mau-nggak-mau harus bicara business valuation dan fair value, terutama sekali mengenai ‘value concept’ yang digunakan dalam impiarment. Bicara fair value, bukunya Keiso saja tidak cukup. Untuk Intermediate dan Advance Accounting bolehlah mengandalkan bukunya Keiso. Tapi khusus mengenai Fair value saya sarankan untuk baca bukunya James P. CattyFair Value under IFRS” (2010). Dan untuk pemahaman IFRS saya sarankan utk baca bukunya Barry J. EpsteinIFRS procedure and policy” sebagai tambahan bukunya Keiso (jika memang Keiso-fanatic hehehe.)

      Basicnya: Jika recoverable amount lebih kecil dari carrying value, terjadi impairment. Iya kan?. Ini yang paling penting: jika terjadi recovery dikemudian hari (setelah imparment loss diakui), maka recovery tersebut dialokasikan ke asset yang ada dalam CGU (BUKAN ke goodwill). Kenapa? Karena Goodwill bukan CGU, itu sebabnya sebelum diuji penurunan nilai (impairment test), goodwill harus dialokasikan ke CGU terlebih dahulu. Mengapa sebelum di uji impairment, goodwill harus dialkokasikan ke ‘cash-generating-unit’ (CGU). Nah, ini harus belajar konsep Fair value dan impairment. Secara singkat bisa saya katakan: goodwill tidak bisa menghasilkan kas di masa yang akan datang TANPA bersinergi dengan aset lain atau CGU.

      Apa itu CGU? Epstein menuliskan: “A cash-generating unit is the smallest level of identifiable group of assets: that generates cash inflows from continuing use that are largely independent of the cash inflows from other assets or groups of assets.” Jika diterjemahkan artinya, kurang lebih:

      Sebuah unit penghasil kas alias ‘cash generating unit” adalah tingkat terkecil kelompok aset teridentifikasi;

      [-]. yang menghasilkan arus kas masuk dari operasional yg berkesinambungan; dan

      [-]. yang tidak tergantung pada aset atau kelompok aset yang lebih besar.

      Contoh: Kelompok usaha JAK memiliki beberapa unit bisnis—mulai dari telekomunikasi, tekstil, perakitan mobil, dll.

      Pada unit bisnis tekstilnya, JAK memiliki beberapa bus yang nilai bukunya Rp 500 juta per unit—yang digunakan untuk mengantar-jemput pegawai tekstil. Apakah bus ini bisa disebut sebagai cash generating unit (CGU)? Jawabannya: Tidak. Mengapa? Karena bus tersebut dioperasikan hanya untuk mengantar jemput buruh tekstil tanpa memungut bayaran dari buruhnya. Artinya bus ini tidak menghasilkan kas secara berkesinambungan. Dia hanya akan menghasilkan kas sekali saja bila sudah ditarik dari penggunaannya. Oleh sebab itu, bus tersebut harus digabung dengan aset lain yang berada dalam naungan unit bisnis tekstil.

      Unit bisnis tekstil juga memiliki aset mesin pemintal benang. Apakah mesin ini termasuk CGU? Juga tidak, karena mesin pemintal saja tidak akan menghasilkan benang TANPA kehadiran mesin finishing. Oleh sebab itu, mesin inipun penialiannya harus digabung dengan aset lainnya yang berada dalam unit bisnis tekstil.

      Dan seterusnya.

      Mengenai penurunan nilai asset: Akuntan mengetahui penurunan nilai melalui appraiser (independent valuator), FYI: KAP-KAP besar biasanya juga menyediakan jasa penilaian (atau dicharge secara terpisah ke client). Maruk ya? hahaha. Nah, bagaimana seorang valuator menghitung penurunan nilai–khususnya intangible asset (brand misalnya), harus belajar business valuation dulu; terutama 3 valuation method (cost, market, dan income approach). Khusus brand misalnya, mesti belajar mengenai metode penghitungan value brand (termasuk tetek-bengeknya macam: brand metrics, customer equity, etc). Idealnya ya… ambil specialisasi aktuaris mungkin ya.

      Sementara itu dulu. Kapan-kapan jika waktunya memungkinkan saya bahas khusus impairment, setidaknya goodwill impairment (dengan contoh kasusnya). Tapi saya tidak bisa janji tanggal (waktu). I have millions of thing to do too :) Mohon dimaklumi.

      Reply this comment
      • Donny Iskandarsyah
        Donny Iskandarsyah 24 April, 2012, 16:36

        Baik, Mas. terima kasih atas pencerahan, akan saya resapi dahulu dan cari lagi sumber-sumber tsb. Saya tunggu tulisan Mas selanjutnya ttg Impairment of Assets,

        Sukses selalu buat admin2 JAK, berkah semua. Selamat malam

        Reply this comment

Write a Comment

Your e-mail address will not be published.
Required fields are marked*